Selasa, 25 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Features

Begini Cara Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus di Yayasan Anak Unik

12 Mei 2018, 07: 52: 46 WIB | editor : I Putu Suyatra

Begini Cara Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus di Yayasan Anak Unik

YAYASAN ANAK UNIK: Kegiatan pengambilan rapot Yayasan Anak Unik, Bersama Prof Suryani dan Pendiri Yayasan Anak Unik, Gusti Putu Pramiti. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Minimnya pengetahuan masyarakat tentang cara mengatasi anak berkebutuhan khusus (keterbatasan mental) membuat Ni Gusti Putu Parmiti, SE, tergerak untuk mendirikan yayasan khusus untuk mengatasi anak yang mengalami tunagrahita. Pasalnya, perkembangan daya pikir anak yang mengalami tunagrahita tersebut berjalan lebih lambat dan tidak akan mencapai tingkatan setara dengan anak-anak dengan tingkatan umur yang sama dengan tingkat kecerdasannya normal.

Yayasan Anak Unik yang didirikan oleh Parmiti terletak di Gianyar, Jalan Pasung Grigis II, Kemenuh, Sukawati, ini sudah berdiri selama empat tahun. “Setiap anak itu unik, di yayasan kami ini mengajarkan tidak hanya anak saja. Tapi orang tua pun kita ajarkan bagaimana cara mendidik anak dengan kebutuhan khusus ini. Karena memang anak-anak ini berbeda dari yang lain. Itulah yang menyebabkan anak ini unik. Dapat dikatakan anak ini memiliki tingkat kecerdasan dan daya pikir yang lambat dan sulit beradaptasi dengan lingkungan,” katanya kepada Bali Express (Jawa Pos Grup), Jumat (11/5).

Dalam hal ini, Pramiti mengungkapkan, ilmu yang didapat dibantu oleh ahli jiwa, Luh Ketut Suryani, SpKj, Prof. Dr., dari awal penjelasan mengenai anak berkebutuhan khusus hingga cara mengatasi anak tersebut. Karena untuk mengatasi anak tunagrahita ini memang memerlukan kesabaran ekstra. Pasalnya, anak-anak yang memiliki keterbatasan mental tersebut cenderung akan mengamuk, memukul bahkan melempar ketika tidak memahami tentang materi pembelajaran.

“Ketika mereka tidak memahami tiga ditambah tiga, mereka cenderung akan menggigit, mereka juga akan mengamuk. Inilah yang menyebabkan orang tua banyak yang mencarikan anaknya sekolah yang langsung ada asramanya. Karena mungkin mereka sudah lelah, dan tidak bisa mengatasi hal tersebut,” tegasnya.

Yayasan yang sudah berdiri selama empat tahun ini sudah memiliki murid sebanyak 15 anak-anak berkebutuhan khusus. Parmiti mengaku, untuk mengatasi anak tersebut ia memiliki beberapa struktur yang terdiri dari ruang, waktu dan aktifitas. Ia tidak boleh mengomel untuk mengatasi anak tersebut. Metode tersebut memang hingga saat ini ampuh untuk mengatasi anak-anak tersebut. Karena menurutnya, anak berkebutuhan kusus tersebut memang butuh gambaran visual.

“Gambaran visual dari metode yang ada itu sangat sederhana. Salah satu contohnya, ketika mereka datang ke yayasan kita untuk belajar dan melihat teman-temannya naruh sepatu di ruangan dan tempat khusus sepatu, maka mereka akan mencontoh hal tersebut,” pungkasnya.

Jadi anak berkebutuhan khusus tidak boleh hanya dilarang saja dengan kata-kata. Ketika orang tua melarang anak yang berkebutuhan khusus menggunakan handphone dengan alasan merusak mata, namun beberapa saudaranya atau orang tuanya menggunakan handphone, hal ituah yang dinilai salah oleh Parmiti. Karena mereka akan mengamuk dan mencontoh hal tersebut.

“Kita harus benar-benar memahami anak dengan kebutuhan kusus, kalau kita bicara sama anak-anak normal yang bertanaya toilet kita dengan mudah akan mengatakan di belakang. Jika anak berkebutuhan khusus akan memiliki pemahaman yang berbeda, belakang itu bisa dimana saja. Bahkan bisa saja menurut mereka di belakang mereka,” tuturnya.

Dalam pembelajaran di Yayasan Anak Unik tersebut, setiap meja belajar akan diletakkan foto mereka, agar nantinya mereka tidak berebut atau berpindah pindah tempat. Begitu pula ketika sembahyang. Mereka yang tidak sembahyang akan diberitau bahwa ini adalah waktunya untuk berdoa.

“Kami sudah memiliki jadwal pasti untuk pembelajaran, ruangan dan lainnya. Sehingga mereka benar-benar terstruktur. Kalau untuk orang tua kita selalu memantau ke rumah juga, mendidik orangtuanya juga. Bagaimana menerapkan struktur tersebut di rumah,” katanya.

Bentuk bahasa mereka untuk mengungkapkan hal yang tidak mereka sukai pun harus dipahami, karena ungkapan yang diutarakan adalah berontak atau mengamuk.

“Sebagai orang tua kita juga harus dapat memberi pulihan pada anak, contohnya lagi, ketika ingin memasak anak tidak suka makanan pedas namun orang tua memberikan makanan pedas. Mereka tidak akan berkata tidak suka, mereka akan merespons dengan marah. Maka dari itu, orang tua harus memberikan pilihan kepada anak berkebutuhan khusus,” tuturnya.

Tugas orang tua juga agar mendidik saudara dari anak berkebutuhan khusus tersebut untuk mencontohkan hal yang baik kepada saudaranya yang menderita tunagrahita. Semua pembelajaran yang dilakukan memang harus dilakukan secara visual agar mental dan motivasinya terbentuk bagus. Sehingga nantinya anak-anak tersebut dapat diterima di masyarakat.

“Hal yang paling harus diterapkan adalah, anak berkebutuhan khusus harus benar-benar memiliki ikatan dengan orang tua. Maka dari itu yayasan kami tidak ada yang namanya asrama. Makan harus dari orang tua, diantar jemput orang tua, benar-benar kami harus membentuk ikatan antara anak tunagrahita dengan orang tuanya, jangan hanya mengandalkan kami saja,” tegasnya. 

(bx/sar/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia