Kamis, 28 Jan 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Sudah Transfer Rp 167 Juta, Tak Dapat SK, Penipu CPNS Diadili

26 Mei 2018, 10: 39: 39 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sudah Transfer Rp 167 Juta, Tak Dapat SK, Penipu CPNS Diadili

DENGAR KETERANGAN: Terdakwa kasus penipuan CPNS, Anak Agung Susila Djelantik, saat mendengarkan keterangan korbannya dalam sidang keduanya di Pengadilan Negeri Denpasar. (CHAIRUL AMRI SIMABUR/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Kasus penipuan CPNS bukan hal baru. Namun ada saja yang menjadi korbannya. Seperti yang terungkap dalam sidang dengan terdakwa Ir. Anak Agung Susila Djelantik di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar.

Kamis kemarin (24/5), pria usia 69 tahun kelahiran Karangasem itu menjalani sidang kedua dengan agenda pemeriksaan saksi korban. Dalam kesempatan itu, terdakwa berjumpa dengan Dewa Gde Sukerdiarsa yang tidak lain korbannya sendiri.

Dewa Gde Sukerdiarsa memang sengaja dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan yang dipimpin Hakim Novita Riama tersebut. Untuk menerangkan awal mula penipuan yang didakwakan kepada Anak Agung Susila Djelantik. Sehingga dia didakwa melakukan penipuan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam ketentuan Pasal 378 KUHP.

Dalam keterangannya, Dewa Gde Sukerdiasa mengaku mengenal terdakwa melalui temannya, Ketut Narma, pada 2012 lalu. Saat itu, dirinya berharap bisa lulus menjadi CPNS. Karena kepentingan inilah, korban datang ke rumah terdakwa di Jalan Pulau Moyo Nomor 29, Desa Pedungan, Denpasar Selatan.

“Saya dikasih tahu bahwa dia (terdakwa) sudah berhasil membantu orang jadi CPNS. Waktu itu, kepada saya dia mengatakan asal ada uang akan dibantu. Kalau tidak, uang akan dikembalikan. Dia bilang punya teman di Jakarta bisa bikin CPNS buat mengganti yang pensiun-pensiun” ungkap korban.

Rupanya, cerita terdakwa yang sukses meluluskan CPNS itu membuat korban tertarik. Korban yang mengantongi ijazah sarjana PAUD itu kemudian bersedia memenuhi permintaan terdakwa. Mentransfer uang ke rekeningnya.

Sepanjang 2012, korban setidaknya berulang kali mengirimkan uang kepada terdakwa dengan nilai keseluruhan Rp 167 juta. Pengiriman pertama pada Januari dengan nilai Rp 50 juta. Kemudian pada 17 April senilai Rp 100 juta dengan permintaan terdakwa disuruh mengambil fotokopi SK CPNS atas nama korban.

Masih di bulan yang sama, terdakwa kembali diminta mengirim uang dengan alasan tim dari pusat datang ke Badan Kepegawaian Daerah atau BKD Bali. Kali ini uang yang dikirim senilai Rp 2,5 juta.

Lalu pada November, korban kembali diminta mengirimkan uang Rp 20 juta. Namun oleh korban disanggupi Rp 15 juta dan ditransfer pada 3 Desember 2012. “Katanya tim dari pusat datang lagi ke BKD Bali untuk menyelesaikan SK CPNS yang ada di Bali,” ujar korban.

Mendengar itu, Hakim Novita Riama bertanya apakah korban sudah mendapatkan SK. Dan oleh korban, pertanyaan itu dijawab bahwa sampai saat ini dirinya hanya mendapatkan fotokopinya saja. “Dan sampai sekarang uang saya belum dikembalikan,” imbuhnya.

Atas keterangan tersebut, terdakwa yang didampingi pengacaranya, Gusti Agung Ngurah Agung dkk, tidak melakukan sanggahan.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news