Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Ini Makna dan Ritual yang Mesti Dilakukan Saat Penampahan Galungan

29 Mei 2018, 19: 29: 28 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ini Makna dan Ritual yang Mesti Dilakukan Saat Penampahan Galungan

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Sehari sebelum hari raya Galungan, umat Hindu di Bali umumnya menyiapkan perayaan Galungan dengan memotong hewan, seperti ayam dan babi untuk upakara .  Kenapa harus ada babi?

Menurut sastra Sundarigama, pada hari Penampahan tersebut segenap umat Hindu melaksanakan Panyomyan atau menetralisasi kekuatan Sang Kala Tiga, agar kembali ke sumbernya menjadi kala Hita. Kata Penampahan berasal dari kata 'Nampah' dengan ucapan aslinya adalah 'Nampeh' yang berasal dari kata 'Nempa' dengan arti Persembahan.

"Sedangkan kata Nempa sendiri berasal dari kata Namya yang artinya Sembah, dengan demikian maka kata Penampahan memiliki makna pengembalian ke sumbernya atau somya," ujar Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran.

Dijelaskan lebih lanjut, upacara Tebasan Penampahan sangatlah penting untuk dilaksanakan. Karena memiliki tujuan untuk menetralisasi kekuatan yang bersifat Asuri Sampad, baik untuk Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, agar menjadi kekuatan Daiwi Sampad. Sehingga, keseimbangan antara Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung, secara sekala mupun niskala dapat tetap dipertahankan.

 
Waktu pelaksanaan upacara Tebasan Penampahan dilaksanakan pada Dauh Tiga, yaitu sekitar pukul 12.00 siang hari yang disebut dengan Dauh Sandi Kala. Selain itu, upacara ini juga dapat dilaksanakan ketika Dauh Empat, yaitu sekitar pukul 17.30 sore yang disebut dengan Dauh Sandi Kawon. Upacara ini biasanya dilaksanakan di tengah-tengah Natah (halaman) yang merupakan titik episentrum kekuatan Kala Bucari.

"Karenannya, Upacara Tebasan Penampahan tidak diperkenankan dilaksanakan di Merajan," urainya

Upakara yang digunakan sangat sederhana, yakni Pejati Asoroh, Banten Ayaban, Banten Tebasan Pemiak Kala, Banten Tebasan Pebersihan, Banten Tebasan Pasupati Rayunan Brumbun yang berisi tandingan Lawar, daging babi goreng, kuwah babi, sambal, dan pepes. Selanjutnya, diletakkan banten Prayascita dan Segehan 11 tanding. 

Banten Tebasan memiliki makna dan tujuan untuk menetralisasi pengaruh Sang Kala Tiga. Kata Tebasan berasal dari kata Tebus yang artinya mengembalikan agar netral. Pengertian ini sama dengan arti kata Nyomya tadi. Mengenai nasi brumbunnya mempergunakan daging babi adalah simbol Sang Kala Tiga. Karena babi memiliki sifat rajas dan tamas. Sedangkan nasi brumbun merupakan simbol sifat sattwam. Dengan ini, disimpulkan bahwa Sang Kala Tiga merupakan manifestasi dari Tri Guna yang selanjutnya disomya menjadi Tri Hita. 

Penampahan Galungan dalam wujud ritual dirayakan dengan upacara Natab Sasayut Penampahan atau disebut dengan Sasayut Pamyak Kala Laramelaradan. Makna dari prosesi ritual ini adalah untuk mengingatkan umat agar membangun kekuatan Wiweka Jnana atau membangun kekuatan diri untuk mampu membeda-bedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang patut dan mana yang tidak patut.Sehingga, dengan demikian secara tegas dapat kita menghindar dari kesalahan-kesalahan yang dapat membawa kita pada kehidupan yang adharma.Jadi, penyembelihan ayam dan babi itu sesungguhnya sebagai simbol untuk menyembelih sifat-sifat serakah, suka bertengkar, seperti sifat buruk dari ayam dan sifat-sifat malas pengotor, seperti babi. 


Karena binatang itu juga memiliki sifat-sifat baik secara instingtif. Tentunya akan menjadi mubazir kalau perayaan hari Penampahan ini kita rayakan hanya dengan pesta-pesta. Hendaknyalah disertai renungan untuk dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menyembelih sifat-sifat malas dan serakah yang mungkin masih melekat dalam diri kita. "Dengan demikian, saat Galungan berikutnya kita sudah menjadi lebih baik dari Galungan sebelumnya, " ujarnya. 

Salah satu sumber penderitaan umat manusia di dunia ini adalah karena sering dibelit oleh sifat malas, namun serakah. Ingin hidup enak dan senang, tetapi malas berusaha.Inilah musuh manusia yang sering menyelinap dalam dirinya.Dalam merayakan hari raya Galungan sebagai hari untuk mengingatkan umat manusia agar senantiasa menyadari dirinya, sering kalah melawan kemalasan dan keserakahan.Sebagai akibatnya, manusia pun menderita karena sering kalah melawan sifat malas dan serakah itu.Karena itu, dalam perayaan Galungan secara terus-menerus diingatkan agar selalu waspada pada dua sifat yang dapat menjerumuskan manusia pada kehidupan yang menderita. 

Kemalasan dan keserakahan berasal dari Guna Tamas dan Guna Rajah. Sesungguhnya Guna Tamas dan Rajah itu akan menjadi positif, apabila dapat dikendalikan oleh Guna Sattwam. "Guna Tamas dan Guna Rajas itu akan menunjukkan aspek positifnya kalau ia berada di bawah kendali Guna Sattwam," tandasnya.

(bx/gus /yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia