Jumat, 24 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali

Berwisata Ketenangan dan Kedamaian di Brahmavihara Arama

09 Juni 2018, 08: 33: 27 WIB | editor : I Putu Suyatra

Berwisata Ketenangan dan  Kedamaian di Brahmavihara Arama

SPIRITUAL : Wisatawan terpikat berkunjung ke kawasan Bali Utara, karena banyak terdapat objek wisata spiritual, seperti ke kawasan wihara terbesar di Bali, Brahmavihara Arama di Banjar Tegeha, Banjar, Buleleng. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Ada banyak alasan kenapa bila berkunjung ke Bali, wisatawan  kerap memilih Bali Utara. Salah satunya ada alasan spesifik, mengingat panorama alam 'Nyegara Gunung' Buleleng yang secara tidak langsung lingkungannya pendarkan energi spiritual. Hal ini bisa ditemukan di Banjar Tegeha, Kecamatan Banjar, lokasi dibangunnya Brahmavihara Arama.

Berada di daerah perbukitan, membuat Wihara Brahmavihara Arama suguhkan nuansa tenang dan sejuk. Hamparan persawahan dan laut  jelas terlihat dari wihara ini. Dari sisi arsitektur, juga  sangat kental  khas Bali dengan candi bentar. Makin indah lagi karena Stupa selalu bisa dilihat di setiap sudut wihara.


Pengelola wihara, Rahula menjelaskan, Brahmavihara Arama terdiri dari tiga kata, yakni  Brahma, Vihara, dan Arama. Brahma berarti terpuji atau mulia. Vihara berarti cara hidup, dan Arama berarti tempat. Dari gabungan kata tersebut, dapat disimpulkan bahwa makna dari Brahmavihara Arama adalah suatu tempat untuk melatih diri, menempa perilaku luhur dan terpuji yang dalam ajaran Buddha meliputi Metta, Karuna, Mudita, dan Upeksha.


Menurut Rahula, keberadaan wihara ini selalu menjadi jujukan turis asing maupun domestik untuk dikunjungi. Setiap harinya tak kurang dari 200 wisatawan mancanegara menyambangi wihara terbesar di Bali ini.


“Memang selalu ramai dikunjungi hampir setiap hari. Wisatawan bergiliran datangnya. Sehari bisa 200 tamu. Hingga kini kami belum mengenakan tiket masuk. Paling hanya donasi saja,” terangnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), kemarin. Rahula mengatakan, Brahmavihara Arama didirikan oleh Bante Girri Rakhito Mahatera pada tahun 1958, yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Kemudian dipugar  hingga selesai dibangun pada tahun 1970. Tiga tahun kemudian  baru bisa diresmikan penggunaannya sebagai Wihara Buddha. Wihara ini dibangun di atas tanah seluas sekitar empat hektare. 
Saat memasuki areal wihara, pengunjung akan disambut dengan patung Buddha setinggi lima meter. Suasana tenang dan damai sangat terasa saat menginjakkan kaki di areal wihara. Rimbunnya pepohonan membuat hati menjadi kian adem.


Memasuki Brahmavihara Arama tak jauh berbeda seperti memasuki sebuah pura. Karena desainnya sangat disesuaikan dengan arsitektur Bali. Halaman Vihara Brahmavihara Arama terbagi tiga bagian, yakni nista, madya, dan utama mandala, dihubungkan dengan anak tangga yang bertuliskan prinsip-prinsip ajaran Buddha.


Ditambahkan Rahula, wisatawan yang berkunjung ke Brahmavihara Arama bukan hanya untuk plesiran semata. Tak jarang dari mereka juga melakukan meditasi. Sebab, suasana di areal wihara sangat mendukung untuk proses menenangkan pikiran.“Wisatawan juga sering bermeditasi kalau berkunjung. Kami terbuka saja kepada semua orang. Karena ajaran Buddha sangat universal,” terangnya.
Ada beberapa bangunan yang bisa ditemukan di wihara terbesar di Bali ini, diantaranya bangunan Uposatha Gara, yang berlokasi di puncak sebelah Barat.


Tempat ini berupa sebuah ruangan yang dihiasi dengan relief-relief kelahiran Sang Buddha, dan di tengah-tengahnya terdapat patung Buddha dalam keadaan mencapai Nirwana. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat penobatan para calon bhiku. Kemudian ada Dharmasala yang terletak di bagian timur. Tempat ini berupa ruang kuliah, di mana para bhiku membahas serta mempelajari ajaran suci. Tempat ini juga dimanfaatkan sebagai tempat untuk melakukan kebaktian dan segala aktivitas spiritual. Selanjutnya ada bangunan Stupa, yang terletak di sudut barat laut wihara. Bangunan yang cukup unik ini, bentuknya menyerupai lonceng raksasa.


Selain itu, di sudut barat ada  pohon Bodhi. Di sekitar pohon ini terdapat relief yang indah. Tempat ini melambangkan kemenangan Sang Buddha saat mencapai kesempurnaan yang abadi. Kemudian ada bangunan Kuti, yang merupakan tempat tinggal para bhiku dan siswa yang sedang menuntut ilmu. Sekaligus juga dipergunakan sebagai tempat latihan para bhiku.


Namun, bangunan yang paling membuat kagum adalah Stupa berupa miniatur Candi Borobudur yang posisinya paling atas di sebelah selatan wihara. Bangunan inilah yang paling diburu wisatawan untuk diabadikan maupun sebagai objek berfoto.


Di bagian dalam Stupa tersebut, pengunjung dapat melihat sebuah ruangan yang berisi empat patung Buddha berwarna emas menghadap ke empat penjuru mata angin. Tempat ini adalah tempat untuk melaksanakan meditasi. Biasanya, pada perayaan hari besar agama Buddha, ratusan orang akan memenuhi lapangan tersebut untuk melakukan persembahyangan.


Di kompleks wihara terdapat dua buah patung Buddha yang sangat menarik, yaitu patung Parinirwana dan patung Buddha. Kedua patung tersebut terbuat dari perunggu yang dilapisi emas dan merupakan sumbangan dari Thailand dan Sri Lanka sekitar tahun 1977.


Masing-masing patung ini ditempatkan di dalam ruangan yang berbeda. Patung Parinirwana menggambarkan Sang Buddha dalam keadaan meditasi dengan mengosongkan raganya. Lalu, patung Buddha sebagai Buddha menggambarkan Sang Buddha sedang mencapai kesempurnaan yang abadi.
Selain dijadikan tempat untuk berwisata spiritual, Rahula tak menampik bila Brahmavihara Arama juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pasangan untuk melakukan sesi foto prewedding. “Kalau pasangan melakukan sesi foto prewedding disini juga banyak. Kami selalu welcome,” ujarnya.


Untuk menjangkau lokasi ini sangatlah mudah, karena bisa diakses dengan beragam moda transportasi. Brahmavihara Arama hanya berjarak 22 kilometer, sebelah barat dari Kota Singaraja. Namun, bila dijangkau dari Denpasar, wihara ini berjarak sekitar 100 km, bila ditempuh lewat jalan raya Denpasar-Bedugul-Singaraja. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia