Jumat, 02 Oct 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Ini Sejarah Tradisi Khusus Umat Muslim di Pura Bhur Bwah Swah

18 Juni 2018, 15: 10: 29 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ini Sejarah Tradisi Khusus Umat Muslim di Pura Bhur Bwah Swah

KEMBAR : Jero Mangku Made Kembar, adik Jero Mangku Wayan Kembar saat ngayah di Pura Bhur . (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Pura Bhur Bwah Swah menjadi  kawasan suci sebagai perlambang tiga dunia yang terletak di Desa Seraya, Karangasem. Lokasinya yang terletak di sebuah bukit kembar di utara Karangasem  membuatnya sangat terisolasi. Namun, tak menyurutkan niat pamedek untuk nangkil, meski harus menguras banyak tenaga. Apa istimewanya pura tempat ngayah pemangku kakak adik kembar ini?

Pura Bhur Bwah Swah merupakan tiga pura yang lokasinya berbeda,  menggambarkan tiga dunia, yakni  Bhur alam bawah, Bwah alam tengah, Swah alam atas. Atau alam Bhur (Bumi), alam Bwah (Langit), dan alam Swah (Sorga). 

Ketiga pura ini terletak di tiga posisi yang berbeda di  sisi bukit di Desa Seraya, Karangasem.  Pura Bhur Loka terletak sekitar 1,2 km dari areal parkir, sedangkan Pura Bwah Loka  terletak sekitar 1,5 km keatas dari Pura Bhur Loka. Sedangkan Pura  Swah Loka berada tepat di puncak bukit.  Pura Bhur Loka merupakan stana Dewa Brahma yang disimbolkan dengan dua buah batu  yang menyatu dengan sebuah pohon kepuh. 


Konon, dahulu Pura Bhur Bwah Swah ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang sesepuh muslim di Desa Seraya. 


Pangempon sekaligus pemangku Pura Bhur Bwah Swah, Jero Mangku Made Kembar mengatakan, 
Pura Bhur Bwah Swah telah ada sejak zaman purba. Namun, sempat terbengkalai sekitar 10 tahunan. Ketika itu tak ada yang tahu bahwa di bukit ini ternyata ada pura. "Kebetulan ada sesepuh muslim yang menemukan ketiga pura ini secara tidak sengaja. Lalu beliau ngayah dengan cara membersihkan dan menata tempat suci tersebut sebagai simbol bahwa ia menghormati bhatara yang malinggih di sini,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin di kawasan Pura Bhur Bwah Swah.
Dikatakannya, setiap setahun sekali masyarakat Hindu dan muslim di wilayah Desa Seraya bergotong royong  melaksanakan Usaba khusus. “Setiap setahun sekali ada Usaba khusus yang jatuh setiap bulan Japra. Pada bulan ini biasanya masyarakat muslim akan datang membawa hasil bumi berupa buah – buahan, kue dan hasil ladang lainnya. Tradisi tersebut telah ada sejak ratusan tahun yang lalu,” ungkapnya.


Bulan Japra adalah istilah khusus bagi  masyarakat muslim keturunan dan masyarakat asli Seraya, di mana momen tersebut berada di antara Juni hingga September. Dan, tahun lalu kebetulan bertepatan dengan Galungan. Konon, pertemuan Galungan dengan waktu Japra itu terjadi setiap 30 tahun sekali.
Tradisi itu dilakukan masyarakat muslim, lanjutnya, karena rasa syukur atas panen dan hasil kebunnya.

“Ini semacam tradisi, karena sesepuh mereka dahulu sempat memohon di kawasan ini agar diberi keselamatan dan kesuburan," urainya.

Waktu itu, lanjutnya, Gunung Batur sedang aktif- aktifnya, makanya masyarakat sekitar sangat waswas. "Ternyata doa sesepuh umat muslim tersebut dikabulkan oleh Ida Bhatara yang malinggih d sini. Akhirnya sejumlah umat muslim bersama keluarga dan kerabatnya datang memenuhi janjinya dengan membawa hasil ladang dan perkebunannya sebagai ungkapan rasa syukur,” ujarnya.   


Dikatakannya, hingga saat ini tradisi Usaba tersebut masih berjalan harmonis di Pura Bhur Bwah Swah. “Mereka ke sini bukan untuk sembahyang. Mereka datang membawa hasil kebun dan ladangnya, lalu ikut membantu bersih – bersih dan memanjatkan doa, seperti tengah berziarah,” urai Mangku Kembar.


Setiap 30 tahun sekali tradisi Usaba ini bertepatan dengan perayaan hari raya Galungan. “ Tahun lalu bertepatan dengan perayaan Usaba Japra bagi umat muslim dan perayaan Galungan bagi umat Hindu. Jadi, akulturasi budayanya terlihat  harmonis. Masyarakat muslim berziarah dan berdoa kearah barat, tepatnya di sebelah barat pohon, dan umat Hindu bersembahyang menghadap Timur. Walaupun bersamaan, tapi tidak ada yang merasa terganggu,” ujarnya.


Mangku Made Kembar mengungkapkan, Pura Bhur Bwah Swah memiliki konsep Trimurti sebagai tonggaknya. Di Pura Bhur berstana Dewa Brahma sebagai pencipta, di Pura Bwah berstana Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan di  Pura Swah bestana Dewa Iswara sebagai pelebur. “Dahulu belum ada palinggih, yang ada hanya tumpukan batu sebagai palinggihannya. Konsep Trimurti ini telah ada sejak dahulu ketika Bali mula. Kami hanya meneruskan, menjaga serta ngayah,” ujarnya.


Ketika Bali Express (Jawa Pos  Group ) tiba di jaba pura, terlihat puluhan pamedek berkumpul dan bersiap menuju Pura Bhur untuk  sembahyang. Sebelum menuju Pura Bhur, pamedek diwajibkan u malukat dan menghaturkan bakti di sebuah beji di sisi utara areal parkir. Puluhan orang terlihat berbaris dan mengantri, menunggu giliran. Usai malukat, pamedek  sembahyang memohon izin agar perjalanan dilancarkan. Ditemani Mangku Made Kembar, pamedek berjalan menaiki 100 anak tangga untuk  menuju Pura Bhur. Meski dengan napas  terengah – engah, para pamedek  terlihat bersemangat berjalan sembari membawa beberapa buah banten dan canang sebagai sarana.


Usai persembahyangan di Pura Bhur, pamedek melanjutkan perjalanan menuju Pura Swah. Kali ini medan yang dilalui cukup berat. Tak ada anak tangga  seperti sebelumnya, hanya ada  jalan setapak yang menembus hutan di kanan dan kiri. 


Wayan Genta, 69 tahun. warga asal Denpasar ini, mengaku sangat senang dapat ikut serta tangkil ke Pura Bhur Bwah Swah. “Bagi wanita seumur saya tentu medannya sangat berat. Namun, saya yakin jika beliau berkenan saya pasti bisa sampai ke atas tanpa dibantu siapa pun,” ujarnya.


Meski usianya terbilang renta, namun stamina Wayan Genta sangat luar biasa. Dengan membawa tiga banten keben di atas kepala, ia naik selangkah demi selangkah tanpa dibantu orang lain. Jarak antara Pura Bhur ke Pura Swah lumayan jauh, yakni sekitar 1,5 km. “Medannya memang cukup sulit, makanya saya selalu mengimbau jika ingin tangkil fisiknya harus benar – benar fit dan tidak memaksakan diri,” ujar Jero Mangku Made Kembar.


Menurutnya ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar bila ingin tangkil (datang bersembahyang).  “Di tiga pura ini tidak boleh menghaturkan daging babi, daging pindang, dan ikan laut. Selain pantangan tersebut, pamedek juga dilarang membawa benda – benda yang berkaitan dengan  Ilmu Kawisesaan karena areal pura sangat suci. Makanya sebelum naik, para pemedek harus malukat, membersihkan diri dari segala kekotoran keduniawian,” ujarnya. Dikatakannya, pernah ada yang membawa daging babi, pindang, dan ikan laut,  mereka akhirnya nyasar, dan tidak bisa ketemu lokasi pura.


Mangku Made Kembar mengaku pernah bertemu seseorang yang tangkil dengan berbagai atribut kawisesan. “Ada yang datang memakai benda – benda kawisesan, namun belum sampai pura pertama mengeluh badannya terasa panas dan kelelahan. Karena tidak tahan, akhirnya ia memustuskan turun dan mohon pengampunan,” ungkapnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news