Rabu, 19 Sep 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Misteri Pohon Kepuh di Pura Tegal Melakang dekat Bandara Ngurah Rai

Jumat, 03 Aug 2018 16:36 | editor : I Putu Suyatra

Misteri Pohon Kepuh di Pura Tegal Melakang dekat Bandara Ngurah Rai

TARU : Pura Kepuh (Taru) Ageng dengan Pohon Kepuh yang hingga kini tak berani diusik warga, apalagi ditebang. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, TUBAN - Pohon Kepuh yang berusia puluhan tahun yang berada di kawasan  Bandara Ngurah Rai, Tuban ini, namanya cukup populer. Dahulu tepat di sebelah selatan Pohon Kepuh, terdapat sebuah pura  bernama Pura Tegal Melakang. Namun, karena ada proyek perluasan Bandara, pura akhirnya dipindah. Ada sejumlah kejadian menarik terkait pemindahan lokasi ini.

Pura Tegal Melakang merupakan satu kesatuan dengan Pohon Kepuh yang  hingga kini masih berdiri kokoh di areal parkiran Gedung Cargo Domestik Angkasa Pura.

Pura  ini merupakan Pura Taman yang disungsung oleh keluarga Gusti Made Gina secara turun temurun. “Sebenarnya Pura Tegal Melakang ini dulu satu kawasan dengan punyan (pohon ) Kepuh yang terdapat di kawasan Bandara Ngurai Rai. Karena perluasan bandara ketika itu, akhirnya pura ini di pindahkan kesini,” ujar Pemangku Pura Tegal Melakang dan Pura  Kepuh Ageng, Mangku I Gusti Made Gina kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) kemarin.
Pura Tegal Melakang saat ini dipindahkan ke daerah tepi siring, Tuban, sekitar 500 meter darinlokasi swmula. “Nah, memang rencananya yang dipindahkan bukan hanya pura ini, tapi juga Pohon Kepuh itu. Segala cara telah dicoba untuk memindahkan, namun akhirnya gagal,” ujarnya. 

Pohon Taru Ageng yang lebih dikenal dengan Pohon Kepuh Tuban ini, memang sangat dikenal angker. Sejumlah pegawai di Bandara Ngurah Rai menganggap palinggih di Pohon Kepuh ini sangat spesial. Bahkan, mereka mengaku sebelum absen di kantor, mereka akan datang sembahyang dulu di palinggih Taru Ageng ini.  


Menurut Juli, salah seorang pegawai kontrak ini, jika  bekerja namun belum absen sembahyang, merasa ada saja yang kurang. “ Jadi, sebelum absen ke kantor, saya dan teman – teman pasti sembahyang  dulu. Setelah itu, baru absen ke kantor. Pernah saya terburu – buru, tak sempat sembahyang,  seharian saya merasa tak enak rasanya ada saja yang kurang,” ungkapnya.
Mangku  I Gusti Made Gina mengatakan, Pohon Kepuh ini memiliki rekam jejak yang panjang. “Seingat saya,  pohon ini dahulu digunakan sebagai menara pemantau oleh tentara Jepang. Letaknya yang tepat di pinggir laut  dan tingginya yang menjulang, akhirnya  dijadikan  sebagai menara pantau alamiah,” ujarnya.


Dibebernya bahwa proses pemindahan Taru Ageng dan Pura Tegal Melakang  cukup sulit. Menurutnya, pohon ini sekitar tahun 80- an memang sempat akan digeser bersamaan dengan Pura Tegal Melakang.


“Upaya pemindahannya  berlangsung sangat lama. Segala upaya sudah dicoba, dari maturan banten khusus sampai dipuput dua ulama, yakni kiai dan saya sebagai pemangkunya, tetap tidak bisa juga. Bahkan, mereka yang ditugaskan menebang malah tewas. Hingga sempat disayembarakan,” ujarnya.


Lantas, mengapa hanya  Taru Ageng saja yang tak bisa dipindahkan? Kakek sebelas cucu ini mengungkapkan, Ratu Gede Sapu Jagat yang dipercaya malinggih di pohon tersebut  tak berkenan dipindahkan. “Di sini yang melinggih kan Ratu Gede Sapu Jagat, dengan parewangannya berupa Lipi Buntut dan Lipi Poleng. Mungkin beliau tak berkenan, makanya kami dan pihak Angkasa Pura akhirnya mengurungkan niat untuk memindahkan pohon ini,” ungkapnya.


Di sisi lain keanehan pun muncul ketika renovasi kepindahan Pura Tegal Melakang selesai. Beberapa hari setelah renovasi usai, tiba – tiba muncul sebuah Pohon Kepuh yang tumbuh di areal depan Pura Tegal Melakang. “Dulu, posisi Pohon Kepuh itu tepat di halaman depan pura ini, fungsinya sebagai peneduh. Nah sekarang pohon itu tak bisa ikut dipindah, mungkin beliau yang malinggih di lokasi yang baru  sangat membutuhkan pohon peneduh, maka jadilah,” ungkapnya. Ia menjelaskan, Pohon Kepuh  ditemukan telah tumbuh di sana. "Padahal sebelumnya tidak ada Pohon Kepuh di kawasan itu,  hanya ilalang. Tau – tau ada sebuah Pohon Kepuh di sana, dan itu pun sudah tinggi, tapi tidak sebesar pohon yang di bandara itu,” ungkapnya.


Disinggung soal sejarah Pura Tegal Melakang, kakek 11 cucu ini mengaku kurang begitu mengetahui rinci. “Kalau mengenai sejarahnya saya kurang tahu pasti bagaimana sejarah pura ini dibangun. Tapi, yang  saya ingat, dulu nenek saya memang ngayah di sini. Sudah turun temurun rasanya kami sekeluarga mengurus ini , tentunya dibantu ngayah juga oleh warga sekitar,” ujarnya.


Mangku Made Gina juga memaparkan, dahulu Pura Tegal Melakang dikenal sebagai Pura Taman tempat pemandian para bidadari. “Dahulu pura ini dan Pohon Kepuh itu kan jadi satu kesatuan,  ada sebuah kolam atau Beji yang konon sering digunakan sebagai tempat pemandian para bidadari. Namun karena tempatnya digusur, kolam tersebut kini masih berada di areal Kepuh, dan sampai saat ini masih digunakan sebagai tempat panglukatan,” ungkapnya.
Lantas, siapa yang dipercaya malinggih (berstana) di Pura Tegal Melakang? Ayah lima orang anak ini menuturkan, di pura tersebut dilinggihkan Bhatara Wisnu, ada juga linggih Ratu Manik Segara, Widyadari dan Widyadara, dan Ratu Gede Sapu Jagat.  “Semua palinggih ini masih utuh seperti palinggih sebelumnya. Tak ada yang berubah, hanya dipindahkan posisinya saja,” tegasnya.


Ditambahkannya, piodalan pura ini dengan palinggih di Kepuh Ageng berbarengan, tepat di Buda Kliwon, Wuku Shinta atau ketika rahinan Pagerwesi. "Jadi, kami biasanya berbagi tugas, pagi saya muput di sini dan siang hari menjelang malam saya muput di Punyan Kepuh Ageng,” paparnya.  Meskipun pura tersebut tergolong pura keluarga, namun pamedek yang datang biasanya dari kalangan umum. Apalagi kalau Galungan dan Kuningan.
Pamedek yang datang akan lanjut  nangkil ke Palinggih Kepuh Ageng untuk muspa atau naur sesangi.


Menurutnya, mereka yang datang biasanya nunas atau memohon diberkati jalan.mudah untuk memdapatkan pekerjaan serta rezeki. “ Biasanya pamedek mohon diberikan kemudahan berkaitan dengan pekerjaan atau memohon obat atau tamba,” ujarnya.


Tak disangkalnya, dulu ketika Pura Tegal Melakang  dipindahkan, masyakarat sekitar pura merasa kurang nyaman. “Ketika di awal dipindahkan, masyarakat di sekitar sana merasa kurang nyaman, kebetulan ada yang memiliki anak kecil yang sejak pura dipindahkan menangis terus. Akhirnya ibunya datang dan menghaturkan pajati di palinggih di Pohon Kepuh yang baru tumbuh itu.  Setelah itu, anaknya tak pernah rewel lagi, bahkan hingga sekarang,” jelasnya.
Ia berharap kedepannya masyarakat tak salah kaprah soal Pura Tegal Melakang dengan Pura Kepuh Ageng. “Jangan salah kaprah, yang di Kepuh Ageng itu  palinggihan, yang disini itu puranya. Pohon Kepuh dan pura ini  adalah satu kesatuan,” ujarnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia