Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Macaru Gama Tantra Bherawa, Tak Mesti Dibenturkan

06 Agustus 2018, 12: 31: 14 WIB | editor : I Putu Suyatra

Macaru Gama Tantra Bherawa, Tak Mesti Dibenturkan

CARU : Caru tak mesti dimasalahkan soal daging dan non daging, karena Hindu adalah rumah besar dari semua kepercayaan dan penghayatan. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR  - Tidak eloklah rasanya buru-buru menghakimi bahwa agama yang Satwika adalah agama Murni Wedik. Jika iya, maka sangat terbataslah Weda yang kita yakini muncul dari Sabda Sunya. Terlebih jika melihat praktik beragama Hindu Bali dari satu perspektif kepercayaan dan penghayatan.

Bali agama perjamuan, dan dalam praktiknya semua jalan diakui, dirangkul dalam paham Siwaisme yang netral. "Tidak ada saling mengungguli, dan semua dihormati. Bahkan, penggolongan Yadnya Satwika, Rajasika, dan Tamasika tidak ada dalam catatan otentik beragama Hindu Bali," papar peneliti budaya I Ketut Sandika, S.Pd.,M.Pd kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di Denpasar, kemarin.


Penggolongan yadnya yang demikian, lanjut Sandika, tergolong muncul belakangan ketika paham new age religion membawa paham baru di Bali. "Silakan telusuri sumber sastra otentik Gama Bali, seperti Tantu Pagelaran, Wdhi Tattwa, Pelutuk Yadnya, Sangkul Putih, Widdhi Sastra, dan lainnya. Justeru penggolongan yadnya diukur dari tingkatan, nista, madya, dan utama yang ketiganya adalah utamaning utama," urai penulis buku Tantra yang juga dosen Ilmu Yoga dan Kesehatan IHDN Denpasar ini.

Bahkan, dikatakan pria asal Klungkung ini, Tantu Pagelaran adalah teks yang berani mengatakan bahwa Gama Hindu Bali adalah berorientasi pada pemujaan kolektif. Artinya, semua Dewa dimuliakan. Berbeda dengan teks Puranik India yang saling menjatuhkan Dewa satu dengan Dewa lainnya. "Tantu Pagelaran justru menyajikan kerjasama Dewa-dewa dalam menciptakan bumi dan secara teologis semua Dewa adalah Swabhawa Bhatara Guru yang tiada lain adalah Siwa yang tidak berbeda dengan Brahma dan Wisnu. Oh indahnya teks ini, jika dipahami," ujar pria yang tengah mempersiapkan peluncuran buku tentang Siwa  Tattwa ini.

Dalam praktiknya, kualitas yadnya bukan dilihat dari sarana persembahan, termasuk daging dan non daging dan yang lainnya. Kualitas yadnya diukur dari ketulusan persembahan dalam harmoni diri. Terpenting bagi leluhur Bali adalah beragama dalam praktiknya sebagai bentuk penghormatan kepada sekte-sekte yang dahulu mengupacarai Bali melalui praktik esoteriknya. "Praktik beragama Hindu kini adalah merepresentasikan nilai bhakti yang tinggi, di mana sekte-sekte dimuliakan yang sudah mengalami mergerisasi ke dalam Siddhanta Siwa," terangnya.

Penyatuan ini, lanjut dosen IKIP PGRI Bali ini, bukan berarti ideologi masing-masing sekte dihilangkan, tetapi diberikan ruang untuk mereka melakukan penghayatan atas dasar doktrinal anutan mereka. Pacaruan misalnya adalah ritual magis sekte Bherawa, pada masa Bali Kuno masih tetap eksis. Bukti kuatnya adalah terbaca dalam prasasti Bugubug No.630 lembaran IIIB tinggalan Jayapangus yang menyebutkan: "..., tan kilalan tan prabyaparan dening sangadmakamikgajih bugbug, apan pacarwa i sira bhatara ring Bañuwka, angken pratipa ntening purnama juga ya,..." Artinya :  tidak boleh memungut pajak, diganggu sangadmak di Bugbug, sebab mereka melakukan Pacaruan Bhatara di Bañuwka ditetapkan setiap hari pertama Purnama.

Berdasarkan petikan prasasti tersebut, diperoleh suatu gambaran bahwa ajaran Bherawa diberikan ruang bereligi oleh raja kala itu. Bahkan, pendeta Kasewan dan Kasogatan menjadikan ritual tersebut adalah bagian beragama Siwa-Buddha setelah semua sekte berjabat tangan dalam paham Siwasiddhanta dan Buddha.

"Tidak saja Bhairawa, Ganapatya juga diberikan kebebasan untuk beritual, dan dibuktikan dalam prasasti Cempaga yang memuat tentang ritual pemujaan Ganapati. Hal tersebut menjadi bukti bahwa harmonisasi masing-masing sekte yang tergabung dalam dua agama besar Siwa-Buddha terjalin sangat baik pada masa Bali kuno," ulasnya.

Namun Bali kini, diakui Sandika, banyak bermunculan kelompok yang menolak Pacaruan dan sejenisnya sebagai paham bertentangan dengan upacara Satwika dalam Vedik. Bahkan, mereka membuat jargon persuasif yang seolah-olah ritual Caru dan penggunaan daging dan darah adalah ritual rendahan, sehingga banyak muncul modifikasi banten Pacaruan, bahkan praktik ritual ini diganti dengam ritual lainnya.

"Jika hal tersebut dilanjutkan, tidakah kita 'tulah' kepada para leluhur, dan berkhianat terhadap sekte-sekte yang berperan penting dalam menjaga bumi Balidwipamandala agar tetap ajeg. Lantas, jika kita beritual menggunakan non daging yang konon Satwik jika dilandasi keakuan, egoisme, dan kefanatikan serta merasa paling benar, apakah itu Satwika," ujarnya.

Menurut Sandika, leluhur Bali yang menggunakan agem-ageman Gama Bali sejatinya malas memperdebatkan agama, sebab agama adalah realisasi diri dengan alam, dan Hoykaas (1974) menyebutnya sebagai Gama Tirtha, yakni beragama dengan laku alam dan mengalir di mana sumber kebijaksanaan muncul.

Dijelaskan Sandika, kehadiran kelompok studi agama, spiritual, sampradaya atau apapun adalah penting dalam menguatkan apa yang sudah ada di Bali, bukan membenturkannya. Kehadiran mereka adalah sebuah gambaran bahwa Hindu adalah rumah besar dari semua kepercayaan dan penghayatan. "Swami Ramakrishna Paramahamsa mengatakan Hindu akan ada selamanya, jika Ia bisa menjadi pohon yang rimbun meneduhkan semua kepercayaan. Tetapi Ia akan menghancurkan jika ada pembusukan dari dalam, seperti pohon beringin tua yang rimbun, tetapi lapuk di dalamnya," pungkas Sandika.

Di tempat terpisah, Mangku Mahendra yang akrab disapa Jro Agni Baradah asal Karangasem mengatakan, harapan umat untuk melaksanakan ritual Macaru pada umumnya untuk kedamaian tempat atau lokasi, agar terhindar dari ancaman buruk atau hal-hal negatif yang ditimbulkan oleh makhluk astral yang negatif atau jahat. Namun, dalam praktiknya Macaru sudah pasti melibatkan pembunuhan binatang, setidaknya ayam. "Yang menjadi tanda tanya adalah antara tujuan dan filosofi Macaru serta praktiknya sedikit menyimpang. Bagaimana mungkin tujuan untuk mencari sebuah kedamaian, lalu melibatkan ritual pembunuhan. Ini bagi saya perlu sedikit penalaran yang lebih bijak," sarannya.

Menurut motivator dengan konsep Manacika Power ini, Veda dalam hal ini Rig dan Sama Veda menulis dengan jelas bait doa kedamaian, yakni OM Dyauh  Shantir  Antariksha Shantih  Prthivi Shantir Aapah  Shantir   Oshadhaya,  Shantih  Vanas-Patayah  Shantir Visve Deva  Shantir  Brahma Shantih  Sarva Guom  Shantih,  Shantir  Eva Shantih  Sa Ma  Shantir  Edhi, OM Shantih, Shantih, Shantih, OM. "Ini kan doa yang mengharapkan agar seleruh semesta damai dan santih, lalu apakah dengan membunuh binatang atau makhluk lain cerminan dari kedamaian, welas asih. Bukankah kita mengenal ajaran Ahimsa atau tidak membunuh. Ini yang menjadi sorotan bagi saya," ujarnya.


Kalau demikian,  saat bagaimana harus Macaru? Dikatakan Pemangku di Pura Kahyangan Tiga ini, dewasa dan wariga di Bali sudah menulis saat apa saja perlu Macaru, seperti membangun rumah, palinggih, pura  baru. selain itu,  rumah yang sangat tua dan lama tidak ditempati, rumah atau tempat kebakaran, rumah atau tempat terjadi pembunuhan ( masiat) atau bunuh diri.

"Hal-hal semacam inilah yang perlu dicaru, agar bisa menetralkan semesta sekitarnya menjadi damai," urainya.

Dijelaskannya, Hindu memberikan beberapa cara sebagai alternatif dalam ritual Macaru, misalnya dengan menyalakan Damar Kambang yang terbuat dari minyak selama 15 hari dimulai Tilem menuju Purnama. Atau denga mengajak beberapa teman sahabat atau guru rohani agar melakukan doa ( japa mantra) dan meditasi berturut-turut selama tiga hari. "Ada banyak cara alternatif yang tidak dikenal oleh kebanyakan umat. Kalaupun ada yang mengenal, masalahnya umat tidak berani melakukan, sebab di Bali ritual menjadi pondasi dalam melakukan Pacaruan, " pungkas Mangku Mahendra.

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia