Rabu, 19 Sep 2018
baliexpress
icon featured
Features

Keluarga Kopilot yang Tewas di Papua Itu Runtag Sejak Sebulan

Senin, 13 Aug 2018 20:17 | editor : I Putu Suyatra

Keluarga Kopilot yang Tewas di Papua Itu Runtag Sejak Sebulan

KELUARGA KORBAN: Ni Wayan Suparmi menceritakan sosok korban kecelakaan pesawat semasa hidup di Desa Budakeling, Bebandem, Karangasme, Senin, (13/8). (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Kecelakaan pesawat Dimonim Air yang membawa penumpang dari Tanah Merah menuju Oksibil, Papua menewaskan delapan orang. Salah satu korbannya adalah putra Bali yang merupakan kopilot pada pesawat milik PT Marta Buana Abadi itu. Dia adalah I Wayan Sugiarta, 45.

Sugiarta adalah warga Banjar Pande Besi, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem. Semasa hidup, dia lebih sering tinggal di rumahnya di Jalan Gedong Sari II Nomor 4 Mumbul, Nusa Dua, Badung. Sugiarta merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan I Made Kertiasa dengan Ni Kadek Nyampuh Marheni. Selama ini kedua orang tuanya juga tidak tinggal di kampungnya di Budakeling. Informasinya, kedua orang tuanya juga punya rumah di Denpasar.

Saat wartawan menyambangi rumah korban di Budakeling, Senin (13/8), hanya beberapa keluarga ada di sana, mempersiapkan beberapa hal. Salah satunya menghias bale dauh yang akan menjadi tempat disemayamkannya jenazah yang rencananya tiba di Bali Selasa (14/8).

Keluarga inti korban kebanyakan masih berada di Denpasar. Itu karena ibu korban mendapat perawatan di rumah sakit setelah mendengar pesawat tersebut mengalami kecelakaan. Prosesi upacara pengabenan belum bisa dipastikan. Pihak keluarga akan mencari hari baik setelah jenazah tiba.  

“Mungkin sudah jalan hidup, meninggalnya karena begini (kecelakaan pesawat),” ujar Ni Wayan Suparmi, bibi korban.

Meskipun tidak menetap di Budakeling, korban termasuk sering pulang ke sana. Hampir setiap ada upacara keagamaan, korban pulang. “Kalau lagi tidak terbang, pasti menyempatkan diri pulang. Terutama kalau ada upacara keluarga,” terang dia.

Suparmi menuturkan, Sugiarta terakhir kali pulang kampung 15 Juli 2018. Saat itu ada upacara pengabenan neneknya. Itu menjadi pertemuan terakhir keluarga besarnya.

Di mata keluarganya, Sugiarta sosok yang low profile. Saat pulang ke rumahnya, dia paling sering ngobrol soal anjing, karena memang senang memelihara anjing. “Kalau lihat penampilanya sehari-hari, tidak ada menyangka kalau keponakan saya seorang kopilot. Orangnya pendiam, sosok pekerja,” terang wanita berusia 44 tahun itu.

Sebelum dinyatakan meninggal dunia, beberapa keluarganya sempat merasakan hal aneh. Beberapa orang runtag (cemas) sejak sekitar sebulan lalu. Awalnya mengira kecemasan itu karena akan menggelar pengabenan, tapi setelah upacara selesai tetap juga cemas. “Saya sempat mengira karena sering gempa di Lombok yang dirasakan sampai di Karangasem. Ternyata ada kejadian seperti ini (Sugiarta menjadi korban pesawat),” ungkapnya. Pihak keluarga mendapat kabar buruk begitu pesawat lost contact. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia