Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Sebelum Terbang, Sugiarta Sempat Video Call, Ini Pesan Terakhirnya

Selasa, 14 Aug 2018 08:55 | editor : I Putu Suyatra

Sebelum Terbang, Sugiarta Sempat Video Call, Ini Pesan Terakhirnya

I Wayan Sugiarta (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Rasa kehilangan belahan jiwa tak bisa ditutupi oleh istri Co-pilot (copilot) Wayan Sugiarta, 45, yang tewas karena kecelakan pesawat Dimonim Air PK-HVQ, Tipe PAC 750XL di Gunung Menuk, Distrik Aerambakon, Papua pada Sabtu (11/8) lalu. Sang istri Komang Sri Maheni, 37, masih berlinangan air mata mengenang sang suami tercinta.

Maheni menyampaikan bahwa suaminya saat itu masih sempat melakukan video call dengannya. Sesaat sebelum melakukan penerbangan nahas tersebut juga sempat berkomunikasi melalui pesan kepada keluarganya. Dikatakannya korban kerap kali menyampaikan kerinduan terhadap keluarganya. Bahkan selalu berkeinginan untuk pulang.

"Katanya kangen pengen ketemu, pengen pulang. Dia juga pesan untuk jaga ibu, kepikaran," terangnya saat menjaga ibu korban di kamar nomor 373, Rumah Sakit Prima Medika Denpasar pada Senin (13/8).

Dia sendiri shock setelah mengetahui kabar suaminya meninggal dari keponakannya yang saat itu sedang menonton televisi pada pukul 17.30. Bahkan seluruh keluarga besarnya memanjatkan doa agar Sugiarta selamat dari musibah tersebut. Namun apadaya 5 jam kemudian kabar duka justru diterimanya.

"Shock sekali saat mendapat nomor pesawat dan nama suami saya, tapi kami masih berharap agar dia bisa selamat karena masih dilakukan pencarian, kita keluarga semua berdoa terus," imbuhnya.

Sementara itu informasi yang berhasil dihimpun, jenazah korban akan tiba di Bali pada Selasa (14/8) yang langsung dibawa ke Karangasem. "Kalau tidak ada halangan kemungkinan besok tibanya. Jamnya belum tahu. Kalau untuk upacara kami juga belum tahu karena semua keluarga belum berkumpul. Setelah semua keluarga besar berkumpul baru tentukan hari baiknya," imbuhnya.

Sementara itu, ipar korban, Ni Luh Maswah menyebut Wayan Sugiarta berencana pulang ke Bali 24 Agustus mendatang. Saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di kediamannya, Gang Dewata II, Jalan Dewata, Sidakarya, Denpasar Senin (13/8), dia mengaku almarhum baru berangkat ke Papua untuk bekerja satu bulan lalu.

"Sempat sebelum kecelakaan katanya ia gak betah di sana. Karena baru sebulan dia bekerja pada tempatnya yang baru itu," tandasnya.

Sebelumnya, almarhum juga bekerja di Papua namun sempat beristirahat selama dua tahun. Dan sejak sebulan lalu ia kembali ke Papua untuk bekerja, namun pada perusahaan yang berbeda.

Menurutnya, korban tidak bisa dihibungi pasca kecelakaan tersebut. Kemudian Maswah mendapat informasi awal dari anaknya sendiri yang bersekolah di sekolah penerbangan. Cuma, saat itu, dia tidak berani memberitahukan ibu kandung korban. Karena ditakutkan mengalami shock.

"Mertua saya (ibu almarhum) baru tahu kemarin sore (Minggu 12/8) saat keluarga semua datang. Sehingga shock dan masuk rumah sakit, karena memang punya riwayat sakit jantung," terangnya sambil tergenang air matanya.

Sampai saat ini, pihak keluarga hanya menunggu kedatangan jenazah I Wayan Sugiarta dari Papua dan akan dibawa langsung ke kampungnya di Karangasem. Ketika jenazahnya sudah datang baru pihak keluarga akan rembug dan menentukan kapan akan diupacarai.

Dalam kesempatan itu, Maswah juga menjelaskan almarhum anak pertama dari tiga bersaudara. Adiknya yang nomor dua adalah suami Maswah sendiri, sedangkan adiknya nomor tiga telah meninggal 17 tahun lalu. Dan sampai saat ini almarhun belum dikaruniai seorang anak.

"Almarhum bersaudara laki-laki semua, saat ini umurnya sekitar 45 tahun. Keempat anak saya sudah menganggap dia sebagai ayahnya juga," papar Maswah.

Sebelum berangkat ke Papua, almarhum juga dikatakan pulang saat pelaksanaan ngaben neneknya. "Istrinya sempat bilang ke saya, bahwa dia tidak betah di sana dan ingin cepet-cepet pulang," imbuhnya.

Pantauan koran ini, rumah almarhum telah ada kiriman karangan bunga. Dimana ucapan turut berduka cita dari sekolah penerbangannya dulu. Di samping itu keluarga besarnya juga mulai berdatangan yang tidak mampu menyembunyikan kesedihannya.

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia