Rabu, 19 Sep 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Ini Makna Prayascita dan Alasan Digandeng dengan Tebasan Durmanggala

Selasa, 14 Aug 2018 12:19 | editor : I Putu Suyatra

Ini Makna Prayascita dan Alasan Digandeng dengan Tebasan Durmanggala

PRAYASCITA : Banten Prayascita untuk membersihkan pikiran, karena pikiran sangat rentan dipengaruhi hawa nafsu. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Banten merupakan visualisasi dari ajaran tatwa dalam Weda. Salah satu bentuk banten yang sering kita temui dalam kehidupan sehari – hari adalah  Prayascita. Konon banten ini digunakan sebagai pembersih atau buang sial.

Banten Prayascita merupakan simbolisasi dari pembersihan pikiran. "Prayascita terdiri dari kata 'Prayas' yang berarti bahagia, dan Cita yang berarti pikiran. Jadi, untuk mendapatkan kebahagian kita harus memiliki pikiran yang suci," papar Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Yaska Charya Manuaba kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.


Untuk mencapai sebuah kebahagian, manusia dituntut harus memiliki pikiran dan tubuh yang bersih. “ Harus bersih secara sekala niskala. Untuk membersihkan tubuh secara sekala, kita bisa mandi dan mengganti pakaian. Namun secara niskala dibersihkan dengan banten Byakala, dan untuk membersihkan pikiran menggunakan Banten Prayascita,” ujarnya.


Pikiran sangat rentan dipengaruhi oleh hawa nafsu serta keinginan. “Manah atau hawa nafsu memang sangat memengaruhi pikiran. Kita harus memahami ajaran Tattwa Jnana, Yadnya, dan Susila. Nah, Banten Prayascita dan Byakala ini bagian dari Yadnya. Banten itu sebagai simbolisasi pembersihan,” jelasnya.


Selain harus memahami ajaran Tattwa, Yadnya, dan Susila, manusia dituntut harus dapat membedakan mana pikiran yang baik dan buruk. “Melalui ajaran agama, kita memfilter mana yang baik dan mana yang buruk. Filter ini disebut wiweka,” ujarnya.


Dalam lontar Bhamakertih dijelaskan, Banten Prayascita dan Byakala biasanya bergandengan dengan banten Tebasan Durmanggala. Hal itu bertujuan untuk menetralisasi kemalangan yang berasal dari pikiran dan kondisi tubuh yang kotor. “Kemalangan dan sial itu biasanya disebabkan karena pikiran dan kondisi tubuh yang kotor," ujarnya.


Kenapa digandeng dengan Banten Tebasan Durmanggala? "Banten Tebasan Durmanggala fungsinya sebagai penenang dan penetralisasi secara niskala,” ungkapnya.


Dalam lontar Bhamakertih dijelaskan, Banten Tebasan Durmenggala digunakan juga dalam beberapa Upacara Panca Yadnya.


Misalnya saat upacara Ngeraja Sewala dan saat Upacara Otonan pertama. Dalam penggunaannya, Byakala terlebih dahulu dihaturkan kemudian menggunakan Banten Tebasan Durmenggala dan diakhiri dengan Banten Prayascita. Banten Prayascita digunakan terakhir karena sesuai fungsinya sebagai pamuput dan pembersihan pikiran.


Sulinggih yang juga dosen IHDN ini mengungkapkan, Banten Prayascita tak harus selalu bergandengan dengan Banten Tebasan Durmanggala. Banten Prayascita juga bisa digunakan terpisah sesuai peruntukannya. “Banten Prayascita bisa digunakan untuk keperluan yang lebih sederhana, seperti untuk upacara pabersihan setelah 42 hari paska melahirkan, juga bisa untuk panglukatan di griya.  Untuk penggunaan sederhana itu tidak harus menggunakan Durmanggala,” ujarnya.


Banten Prayascita terdiri dari Tamas, Sampian Nagasari, Panyenengan, Pembersih Payasan, Sampian Padma, Jaje Uli, Tape Gede, Lis Senjata, Peras Tulung Sesayut, Don Cabe Bun, Beras Kuning, dan Bungkak. “Banten Prayascita dihaturkan setelah Mabyakala dan jangan lupa lafalkan mantranya,” tuturnya. Mantra  ngunggahin Banten Prayascita adalah: Om prayascita kare yegi. Catur warna wicintayet. Catur wawtranca puspadyam. Ang greng bya stawa samam. Om agni rahasia mukam mungguh bungkahing hati, angeseng saluwuring dasamala, teka geseng, geseng, geseng
Om prayascita subagiyamastu.

(bx/tya/rin/yes/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia