Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Begini Makna Prosesi Caru dalam Ajaran Hindu di Bali

Selasa, 14 Aug 2018 12:23 | editor : I Putu Suyatra

Begini Makan Prosesi Caru dalam Ajaran Hindu di Bali

CARU : Banten Caru berfungsi sebagai pengharmonis atau penetral Bhuwana Agung (alam semesta), seklaigus mengembalikan energi alam yang telah diambil. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Caru merupakan salah satu upacara Bhuta Yadnya yang bertujuan untuk menetralisasi energi negatif Panca Mahabhuta pada Bhuana Agung. Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda mengatakan, Macaru dapat dikategorikan sebagai Naymitika Karma karena dilakukan hanya pada saat – saat tertentu. Macaru terdiri dari kata Car yang berarti keseimbangan.

“Caru itu bentuk pengorbanan suci yang berfungsi sebagai penyeimbang energi di Bhuana Agung,” ujar sulinggihbyang mantan wartawan ini.

Caru juga dijelaskan dalam  Lontar Carcaning Caru. Di mana dijelaskan penggunaan ekasata  atau kurban dengan seekor ayam yang berbulu lima jenis warna yang biasa disebut ayam Brumbun. “Caru yang paling sering digunakan adalah caru siap Brumbun, yakni ayam yang memiliki  bulu putih, kuning, merah hitam, dan campuran,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.

Dijelaskannya, Caru juga merupakan media untuk mengembalikan energi alam yang telah digunakan. “Kalau Caru siap Brumbun biasanya digunakan ketika piodalan.  Seperti halnya mendem padagingan, Caru juga serupa, di mana kita mengembalikan lagi energi alam yang sempat kita ambil dengan cara menghaturkan Caru ini,” ujarnya.


Ida Pandita memaparkan, Caru tak hanya menggunakan ayam Brumbun sebagai media pengorbanan, juga dapat menggunakan hewan lain. “Tergantung penggunaannya, ada Caru yang menggunakan anjing belang bungkem, ada juga Caru yang menggunakan sapi atau hewan berkaki empat lainnya,” ungkapnya.

Caru yang berfungsi sebagai pengharmonis atau penetral Bhuwana Agung (alam semesta), biasanya identik dengan proses pamlaspas maupun pangenteg linggihan pada tingkatan menengah (madya). “Semakin besar Carunya,  maka semakin besar tingkatan prosesinya.  Biasanya Caru ini akan diulangi setiap 10 atau 20 tahun sekali, tergantung tingkatan upakaranya,” ungkapya.

Namun, Caru Madya dapat kembali dilaksanakan jika terdapat kejadian – kejadian ganjil atau durmanggala. “Beda ceritanya ketika ada kejadian luar biasa seperti ada yang bunuh diri di dalam pekarangan, sesuatu kejadian yang dapat dikatakan leteh luar biasa atau biasa disebut durmanggala,” ungkapnya.

(bx/rin/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia