Kamis, 20 Sep 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Dinsos Lama dan Ribet, RS Sanglah Gandeng Yayasan dan LSM

Rabu, 15 Aug 2018 15:49 | editor : I Putu Suyatra

Dinsos Lama dan Ribet, RS Sanglah Gandeng Yayasan dan LSM

KUNJUNGAN: Kunjungan pihak RS Sanglah ke salah satu yayasan. (AYU AFRIA UE/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pihak Humas RSUP Sanglah semakin sigap menggandeng Yayasan maupun LSM dalam upaya penanganan pasien mapun jenazah terlantar sejak awal tahun 2018. Kerja sama ini diharapkan terus berlanjut lantaran efektif menurunkan lama pemulangan dan piutang biaya.

Hal tersebut disampaikan oleh tim dari Bagian Humas dalam kegiatan konvensi inovasi peningkatkan mutu pelayanan yang digelar selama dua hari mulai Selasa (14/8) pukul 08.00 di Ruang Pertemuan Werkudara Aula Poliklinik lantai 3. Kegiatan ini diikuti oleh 26 instalasi dari 33 instalasi. Sementara di luar instalasi hanya Bagian Humas yang turut andil dalam kegiatan ini.

Menurut Kasubbag Humas RSU Sanglah Denpasar I Dewa Ketut Kresna, sejauh ini sudah ada lima yayasan dan LSM yang digandeng oleh RSU Sanglah. Di antaranya, Yayasan Rumah Singgah Peduli, Flobamora, Banyumasan, Ikawangi dan BSMI.

Tekad menggandeng yayasan dan LSM ini tidak terlepas dari pengamatan dimana angka pasien maupun jenazah telantar di RS Sanglah sebelumnya cukup tinggi. Hal tersebut tentunya berdampak kepada membengkaknya tagihan biaya perawatan dan pemulangan. Apalagi pasien yang lama di bed block. Sementara kepengurusan berkas pasien ke dinas sosial terkait kerap menemui kendala dan memakan waktu yang sangat lama. Bahkan itu pun belum tentu membuahkan hasil. Apalagi pasien - pasien kelas III mendominasi, berkisar 65 persen dari 765 tempat tidur yang tersedia.

"Salah satu cara ya membangun communal network dengan yayasan maupun LSM yang ada. Dan sudah terbukti mempercepat pemulangan pasien. Prosesnya tidak terlalu lama. Juga mereka ini memberikan perawatan kepada pasien yang tidak mandiri. Kalau dari Dinas kan pasiennya harus mandiri," jelasnya.

Tercatat pada tahun 2016 jumlah pasien dan jenazah telantar sebanyak 42 orang dengan waktu paling lama pemulangan 6 bulan dan piutang sebesar lebih dari Rp 350 juta. Pada tahun 2017 sebanyak 48 orang dengan waktu paling lama pemulangan 6 bulan dan piutang sebesar Rp 56 juta.

Sementara itu sejak menggandeng pihak yayasan maupun LSM pada tahun 2018 terhitung dari Januari hingga Juli, sebanyak 14 pasien telantar tertangani oleh yayasan. Dengan waktu paling lama pemulangan 3 bulan. Tak hanya itu bahkan dari pihak yayasan dan LSM ini membantu pembayaran biaya tercatat mencapai Rp 69 juta dari jumlah piutang hampir sama dengan tahun 2017.

"Ada tiga kategori pasien terlantar, bayi terlantar, dan pasien yang ditelantarkan. Sementara kerja sama sebelummya hanya dengan pihak kepolisian dan dinas sosial," jelasnya.

Kerjasama ini dirasa lebih cepat dan efektif tanpa adanya prosedur yang berbelit -belit. Tak hanya itu keberadaan yayasan dan LSM ini menjadi vital juga bagi para pasien dari luar Bali maupun dari luar wilayah kota kabupaten yang memang membutuhkan tempat tinggal. Mereka bisa tinggal sementara dengan ditampung yayasan maupun LSM tanpa dipungut biaya selama menjalani pengobatan.

"Ke depannya kami akan gandeng lagi yayasan maupun LSM lainnya. Tentunya dengan sistem ikatan kerja sama yang lebih kuat lagi secara hukum karena mereka ini sangat membantu," tegasnya.  

 

 

“Pusing” Menangani Pasien/Jenazah Telantar

 

2016

Jumlah pasien/jenazah terlantar 42 orang

Lama pemulangan paling lama 6 bulan

Piutang Rp 350 juta

2017

Jumlah pasien/jenazah terlantar 48 orang

Lama pemulangan paling lama 6 bulan

Piutang Rp 56 juta

2018 (Januari - Juli)

Jumlah pasien terlantar 14 orang

Lama pemulangan paling lama 3 bulan

Bantuan pembayaran dari Yayasan/LSM Rp 69 juta

(bx/afi/aim/yes/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia