Jumat, 24 May 2019
baliexpress
icon featured
Bali

FKUB Gianyar Rawat Kerukunan dengan Kisah Khang Ching Wie

20 Agustus 2018, 13: 08: 32 WIB | editor : I Putu Suyatra

FKUB Gianyar Rawat Kerukunan dengan Kisah Khang Ching Wie

RAWAT KERUKUNAN : Pertunjukkan seni lintas agama yang digelar FKUB Gianyar serangkaian HUT Kemerdekaan ke-73 di Balai Budaya Gianyar Sabtu (18/9) malam. (HUMAS PEMKAB GIANYAR FOR BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, GIANYAR - Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Gianyar menggelar pertunjukan seni lintas agama berjudul “Khang Ching Wie “ Sabtu (18/8) malam di Balai Budaya Gianyar. Dikaitkan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke -73.

Pertunjukkan dibawakan Yayasan Bali Nusa Jagarti, Blahbatuh, bersama Sanggar Giri Anyar, Buruan.

Pementasan diiringi sekitar 15 penabuh Sanggar Giri Anyar binaan Gusti Ngurah Aryawan. Menampilkan perwakilan dari masing-masing pemuka agama. Dikemas dengan tampilan sedikit kocak, masing-masing pemuka agama tersebut diperankan beberapa orang dengan karakter edukatif, fleksibel dengan suasana riang gembira, serta diiringi musik sesuai dengan budaya masing-masing.

Tak ayal pementasan ini kembali mengingatkan bagaimana kerukunan umat beragama di Bali yang sudah terjalin sejak dulu itu. Pementasan mendapat apresiasi para penonton yang hadir. Terlebih dalam pementasan itu, sangat jelas tergambar jalannya cerita. Bagaimana hubungan yang harmonis antar umat beragama. Sebelum akhirnya akhir pementasan ditutup dengan Tari Agni yang menggambarkan suasana penuh suka cita memaknai HUT Kemerdekaan dalam keberagaman.

Ketua Yayasan Bali Nusa Jagarti, Gusti Ngurah Putra Adnyana menjelaskan, sosok Khang Ching Wie merupakan gadis keturunan Cina yang sangat cantik dan pintar dalam ilmu perdagangan. Ketika itu ia melaksanakan ekspedisi pelayaran melalui perdagangan hingga sampai ke pesisir Kerajaan Panorajon (Balingkang), yang sekarang dikenal dengan Kintamani, Bangli.

Kerajaan Panorajon kala itu dipimpin raja Sri Jaya Pangus yang berperawakan gagah dan berparas ganteng, serta bewibawa. Kemudian, terjadilah jalinan kasih antar Sri Jaya Pangus dengan Khang Ching Wie. Perbedaan keyakinan tak menghalangi niat Sri Jaya Pangus yang meyakini Agama Hindu untuk mempersunting Khang Ching Wie yang beragama Budha.

Maka terjadilah sebuah kesepakatan penyatuan kebudayaan diantara Hindu dan Budha di Kerajaan Panorajon. “Akulturasi budaya sangat kental terjadi. Dan pengaruh kebudayan Cina mempengaruhi tatanan kehidupan Kerajaan Panorajon. Salah satunya penggunaan pis bolong (uang kepeng) sebagai sarana upacara yang diwarisi sampai saat ini oleh masyarakat Bali,” terangnya.

Sementara itu Wakil Ketua FKUB Gianyar, Haji Monajat mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari tugas FKUB untuk merawat kerukunan umat beragama di Gianyar. Melalui pentas seni lintas agama. Dan peringatan HUT Kemerdekaan kali ini diakui menjadi momentum untuk lebih memantapkan lagi kerukunan antar umat beragama yang selama ini terjaga dengan baik di Gianyar. “Tahun kemarin kita tampil masing-masing. Hari ini, ke enam agama berkolaborasi dalam satu pementasan. Konsepnya, menekankan kerukunan umat beragama melalui seni dan budaya,” papar Monajat.

(bx/wid/ima/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia