Kamis, 18 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Bali

WNA Langgar Lalu Lintas Disebut karena Meniru Warga Lokal

26 Agustus 2018, 19: 24: 14 WIB | editor : I Putu Suyatra

WNA Langgar Lalu Lintas Disebut karena Meniru Warga Lokal

TAK PAKAI HELM: Salah satu WNA mengendarai sepeda motor di jalan raya tanpa menggunakan helm. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Tak bisa dihindari sebagai dampak dari pusat pariwisata, Bali kerap disuguhi berbagai macam pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh beberapa WNA (warga negara asing). Terutama di wilayah Kuta. Salah satu penyebabnya karena mereka meniru pelanggaran yang dilakukan oleh warga lokal sendiri.

Hal tersebut kemudian menggelitik pihak Dikyasa Dit Lantas Polda Bali untuk memprogramkan sosialisasi terhadap asosiasi pengusaha rental sepeda motor. Dengan harapan si pengusaha tidak serta merta hanya menyewakan sepeda motornya namun juga membekali mereka terkait tertib berlalu lintas yang benar di Indonesia. Juga meminta identitas orang asing sebagai penyewa.

Kasubdit Dikyasa Dit Lantas Polda Bali, AKBP Nyoman Sukasena mengaku telah melakukan sosialisasi kepada asosiasi pengusaha rental sepeda motor yang berada di Kuta dengan melibatkan bendesa adat. Pasalnya dari hasil pengamatannya pelanggaran lalu lintas oleh orang asing lebih banyak dilakukan di Kuta. Dengan adanya kegiatan ini bisa menekan kecelakaan dan pelanggaran.

"Orang asing ini kan kasus menonjol dan harus ditangani. Misalnya terjadi kecelakaan maka biasanya kami lebih mudah mengetahui identitasnya dari usaha yang menyewakan motor tersebut. Sehingga kami bisa menghubungi konsulatnya. Nah, jika tidak ada identitas, sewaktu - waktu terjadi kecelakaan kan susah mengetahui identitasnya," jelasnya kemarin.

Untuk itu dalam sosialisasi tersebut pihaknya pun menghimbau agar setiap perusahaan rental memasang stiker nomor perusahaan masing - masing yang bisa dihubungi. Terlebih juga seringnya kejadian orang asing meninggalkan motor sewaannya dimanapun seenaknya sendiri. Tanpa petunjuk stiker tersebut petugas kepolisian pun juga menghadapi kesulitan tersendiri.

Dengan langkah memberikan edukasi kepada masyarakat, sekolah, karyawan hingga asosiasi rental pihaknya berharap masyarakat maupun orang asing akan berkendara dengan benar. Pasalnya ternyata pelanggaran yang dilakukan oleh orang asing ini disebut - sebut dipicu oleh masyarakat Bali sendiri yang kerap mempertontonkan berbagai bentuk pelanggaran kepada mereka.

"Jadi dari beberapa keterangan mereka ini (orang asing) melanggar karena melihat masyarakat kita juga melanggar. Mereka jadi panutan. Misalnya masyarakat kita nggak pakai helm. Warga asing ini juga ikut. Alasannya masyarakat kita nggak pakai helm nggak apa - apa. Jadi mereka juga nggak apa - apa. Terlebih lagi juga saat naik ke trotoar," jelasnya.

Pelanggaran tersebut kebanyakan adalah pelanggaran kecepatan, tidak memakai helm, pelanggaran marka dan rambu - rambu serta kelengkapan surat - surat.

"Kalau kami lihat efektifnya imbauan itu belum bisa kami ukur. Kalau untuk wilayah - wilayah kami teruskan ke Kasat Lantas masing - masing. Mengingat pada waktu kecelakaan nggak bawa identitas dan pelengkapan," jelasnya.

Pun, diakuinya bahwa pernah juga sosialisasi ke konsulat terkait. Dan pihak konsulat tersebut memyampaikan kepada warga negaranya agar membudayakan tertib berlalu lintas. "Agen travel seperti bus sudah kami himbau sekitar seminggu lalu. Kalau rentcar-nya berkala. Tapi menurut saya lebih bagus itu ya represif karena langsung efek jera," tegasnya.

Sebelumnya dari hasil rekapan Semester I tahun 2018 terhitung sejak Januari sampai Juni sebanyak 10 kejadian kecelakaan melibatkan orang asing di wilayah hukum Polresta Denpasar. Disusul 5 kejadian di wilayah hukum Gianyar dan 2 kejadian di Karangasem. 

(bx/afi/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia