Kamis, 21 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pancoran Desa Sedit, Tempat Malukat Semua Umat

06 September 2018, 11: 14: 24 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pancoran Desa Sedit, Tempat Malukat Semua Umat

PANCORAN : Sebelum Malukat di pancoran, pamedek harus membersihkan diri dulu di sungai sebelah tempat Malukat. Jero Mangku Dalem Puwun, Wayan Sirat (foto kiri). (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Tempat Panglukatan yang terletak di Desa Sedit, Bebalang, Bangli, tak hanya didatangi masyarakat hindu Bali saja, namun yang  non Hindu pun tak segan datang dan mandi di 11 pancoran suci yang ada di pinggir tebing tersebut.

Pancoran di Desa Sedit, Bebalang, Bangli yang diempon 35 kepala keluarga (kk) ini, dikenal sebagai tempat pembersihan dari segala kekotoran serta kesialan. “ Banyak yang datang  untuk Malukat atau membersihkan diri dari kekotoran  fisik dan non fisik. Bahkan,  beberapa diantaranya masyarakat non Hindu. Namun, mereka  tetap kita wajibkan menggunakan anteng atau selendang,” ungkap
Jero Mangku Dalem Puwun, Wayan Sirat kepada Bali Express (Jawa Pos Group),  pekan kemarin.

Larangan masuk bagi yang sedang datang bulan, lanjutnya, juga diberlakukan bagi masyarakat non Hindu yang datang. “Semua aturan, baik dari cara berpakaian serta larangan cuntaka juga diberlakukan untuk masyarakat non Hindu,” ujarnya.

 Selain itu, ia mengungkapkan mereka yang non Hindu biasanya minta izin kepadanya sebelum turun Malukat. “Memang mereka tidak muspa seperti orang Hindu  atau mempersembahkan banten Pajati, namun  mereka akan izin dengan penjaga atau dengan pemangku yang bertugas.  Pemangku yang kemudian akan matur piuning, memohonkan izin dan menyampaikan doa atau keinginan mereka,” ujarnya.

Jero Mangku  Wayan Sirat mengatakan,  tempat Panglukatan selalu ramai dikunjungi pamedek yang datang Malukat. “Di sini tak hanya ramai ketika rerahinan, tapi hampir setiap hari ada saja yang datang. Bahkan, pamedek yang datang dari jauh mengaku meniatkan sejak lama ingin datang untuk Malukat,” ujarnya.

Pemangku berumur 60 tahun ini menjelaskan, selain sebagai sarana pembersihan dan buang sial, pancoran 11 juga berkhasiat sebagai pengobatan alami. “Biasanya mereka mohon diberkati agar bisa segera punya   anak dan  kesembuhan dari sakit. Kesebelas pancoran tersebut diyakini punya tuah  dapat mengobati penyakit, terutama penyakit yang disebabkan secara niskala,” ungkapnya.
Diakuinya, memang tidak ada lontar ataupun pratima yang menjelaskan tentang sejarah keberadaan kesebelas pancoran ini. Namun, dari  cerita mulut ke mulut , tempat ini sudah ada berbarengan dengan Pura Dang Kahyangan yang ada di Bangli.

Dari tradisi yang sudah berjalan dari dahulu hingga saat ini, kesebelas pancoran tersebut juga digunakan sebagai tempat melasti seluruh pura di Bangli. “Tempat ini pusat pelaksanaan Mlasti seluruh pura di Bangli. Kalau daerah lain Mlastinya ke pantai, daerah sini Mlastinya ke tempat patirtaan,” ungkapnya.
Ditambahkannya,  jika pamedek ingin melaksanakan panglukatan  sebaiknya membawa dua Pajati. “Bawa Pajati sebanyak dua soroh. Satu soroh untuk dihaturkan di Panglukatan, satu soroh lagi dihaturkan di palinggih atas,” ujarnya. Urutan Panglukatan dimulai dengan menghaturkan sembah bhakti di pura dan di palinggihan ke sebelas pancoran. “Sembahyang dulu, setelah itu berendam sebentar di sungai,” ungkapnya.


Setelah Malukat di sungai beberapa menit, lalu dilanjutkan dengan Malukat. “Setelah berendam di Sungai, selanjutnya  Malukat dari pancoran yang paling Barat, lalu dilanjutkan dengan sumber air  di sisi Timur, setelah itu gunakan pancoran yang di sebelah Timur,” ungkapnya.


Di sisi cerukan tengadah juga karena terdapat sebuah mata air, dan  pamedek juga diwajibkan Malukat atau mandi untuk menggenapi keseluruhan prosesi Panglukatan. Terakhir,  pamedek  akan melukat di sembilan pancoran yang berjajar. “ Malukat di sembilan pancoran tersebut adalah prosesi terakhir sebelum diakhiri dengan bersembahyang di Pura Saha,” ungkapnya.


Jero Mangku Wayan Sira mengimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga kesucian pura dan tidak membuang sampah ke sungai. “Pancoran  ini berada di bawah penangan desa pakraman, maka seharusnya masyarakat tidak membuang sampah sembarangan ke sungai, agar tidak ada sampah yang menumpuk di sini ketika hujan,” pintanya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia