Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Warga Sogra Perbaiki Jalan Putus Akibat Erupsi Secara Swadaya

Sabtu, 08 Sep 2018 11:00 | editor : I Putu Suyatra

Warga Sogra Perbaiki Jalan Putus Akibat Erupsi Secara Swadaya

JENGAH: Masyarakat Dusun Sogra, Desa Sebudi Karangasem jengah. Karena jalan putus tidak bisa diperbaiki dengan dana pemerintah, lantaran kendala status jalan. Mereka perbaiki jalan putus menuju Bukit Galah secara gotong royong. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Warga Dusun Sogra, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem secara swadaya memperbaiki jalan menuju Bukit Galah. Jalan itu putus saat erupsi Gunung Agung beberapa waktu lalu. Jalan yang putus itu harus dipasang buis beton. Lantaran putusnnya makin dalam karena dialiri lahar hujan saat erupsi.

“Kami dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem membantu menyewakan excavator, buisnya dari warga,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Karangasem, Ida Bagus Ketut Arimbawa Jumat (7/9) kemarin.

Ia mengakui, akibat terputusnya akses itu, warga Bukit Galah sekitar 35 kepala keluarga (KK) belum bisa pulang ke rumahnya. Warga sempat menunggu perbaikan dari pemerintah, ternyata tidak bisa. Karena terkendala status jalan. Statusnya jalan desa. Saat erupsi ada dana tanggap darurat, tapi tidak bisa digunakan memperbaiki lantaran saat itu wilayah tersebut masih masuk zona bahaya erupsi.

“Sekarang status tanggap darurat sudah dicabut, dananya sudah tidak ada. Pakai dana kabupaten tidak bisa. Kendala status jalan,”jelas Arimbawa kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Perbekel Sebudi, I Komang Tinggal menambahkan, sebelum terjadinya erupsi, alur sungai yang menjadi akses utama warga Bukit Galah itu dangkal, tidak ada airnya. Namun setelah erupsi, kedalaman sungai menjadi sekitar 15 meter. Warga sempat membuat jembatan bambu, namun tidak bisa dilewati kendaraan.

Lantaran tidak ada dana membangun jembatan permanen,  warga Bukit Galah bersama BPBD Karangasem secara gotong royong mengurug sungai mati itu, lalu dipasangi buis beton, dan kembali diurug dengan tanah. Sehingga bisa dilewati. “Kalau langsung diisi buis kan masih dalam. Jadinya kami urug dulu. Setelah agak dangkal barulah dipasang buis beton,” paparnya.

Lanjut dia, buis itu urunan para pengusaha di Sebudi. Pemasangannya butuh waktu sekitar tiga hari. “Kami di desa tidak punya anggaran. Pembelian buis dari pengusaha di Sebudi,”imbuh Tinggal.  

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia