Rabu, 19 Sep 2018
baliexpress
icon featured
Features

Ini Pembelaan Terdakwa Kasus 2 Kilogram Kokain dari Kolumbia

Minggu, 09 Sep 2018 19:49 | editor : I Putu Suyatra

Ini Pembelaan Terdakwa Kasus 2 Kilogram Kokain dari Kolumbia

TERDAKWA: Terdakwa kasus dua kilogram lebih kokain, Nyoman Arnaya, dalam salah satu persidangan dan didampingi kuasa hukumnya dari PBH Peradi Denpasar, I Ketut Bakuh. (PBH PERADI DENPASAR FOR BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Kasus penyelundupan dua kilogram kokain dari Kolumbia dengan terdakwa seorang sopir lepasan, I Nyoman Arnaya, akan segera memasuki tahap putusan. Penuntut umum bahkan telah memohon kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Denpasar agar menjatuhkan hukuman 19 tahun kepada Arnaya. Atas tuntutan itu, pihak terdakwa melalui tim kuasa hukum dari Pusat Bantuan Hukum Peradi Denpasar  belum lama ini mengajukan pembelaan. Seperti apa?

Tuntutan hukuman 19 tahun boleh jadi menjadi mimpi buruk bagi Nyoman Arnaya. Bagaimana tidak, lantaran kepergiannya ke Kolumbia, dia harus berurusan dengan hukum. Karena begitu tiba di Bandara Ngurah Rai dan menjalani pemeriksaan, di tas bawaannya justru terdapat dua kilogram kokain.

Mengelak dari kenyataan itu justru tidak mungkin dilakukan bagi Arnaya. Apalagi narkotika kategori wahid di dunia itu jelas-jelas ada pada tasnya. Karena itu, tim kuasa hukum terdakwa yang terdiri dari Ketut Bakuh dkk berupaya melakukan pembelaan. Dengan harapan hukuman yang akan dijatuhkan majelis hakim kepada terdakwa kelahiran Singaraja itu bisa diringankan.

“Kami tidak akan mengulas lagi soal unsur-unsur pasal yang diuraikan penuntut umum. Kami lebih fokus pada esensi dari pemidanaan,” kata Ketut Bakuh, kemarin (9/9).

Terkait itu, Bakuh menjelaskan bahwa sesuai fakta-fakta yang dihadirkan dalam persidangan, pihaknya tidak menemukan adanya niatan atau kehendak dari terdakwa untuk melakukan perbuatan sebagaimana yang didakwaan penuntut umum.

Selebihnya, sambung dia, karena alasan ekonomi, terdakwa memberanikan diri keluar negeri untuk menjalankan pekerjaannya. Yakni mengantarkan dokumen dari satu negara ke negara lain.

“Terdakwa sendiri mengetahui bahwa barang-barang yang ada dalam tasnya telah ditukar Mr Don. Termasuk isinya pun bukan miliknya,” imbuhnya.

Namun yang menjadi persoalan, sambung dia, terdakwa sama sekali tidak memeriksa kembali barang apa yang ada dalam tas yang telah ditukar Mr Don. “Karena terdakwa dilarang untuk membukanya oleh Mr Don,” tegas pengacara dari Kintamani, Bangli, ini.

Terdakwa sendiri, lanjutnya, baru mengetahui bahwa isi di dalam tas yang dia bawa dari Kolumbia itu berisi kokain. Itu setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas Bea dan Cukai Bandara Ngurai Rai saat tiba di Bali.

“Dalam hal menguasai, terdakwa memang tidak bisa menghindar dari itu. Tapi perlu diingat juga, bahwa terdakwa sama sekali tidak ada niatan membawa kokain itu. Kokain itu terbawa ke Bali karena ketidaktahuannya,” tegasnya.

Dengan alasan-alasan itu ditambah status terdakwa yang selama ini belum pernah dihukum, sikapnya yang kooperatif, serta posisinya sebagai tulang punggung keluarga, Bakuh dan timnya berharap majelis hakim nantinya menjatuhkan putusan yang seringan-ringannya.

“Bila memang majelis hakim punya pertimbangan lain, kami memohon putusan yang seadil-adilnya,” pungkas Bakuh.

Sekadar mengingat, Arnaya sendiri duduk di kursi pesakitan di Pengadilan Negeri Denpasar jelang akhir Juni 2018 lalu. Untuk pertama kalinya, Arnaya yang tinggal di Benoa, Kuta Selatan, itu menjalani persidangan.

Dia sendiri harus berurusan di meja hijau lantaran kedapatan membawa dua kilogram lebih kokain dari Kolumbia setibanya di Bali pada 23 Maret 2018.


Kasus yang menjerat Arnaya ini berawal saat dirinya berkenalan dengan seseorang bernama Bhella. Kenalnya pun lewat media sosial Facebook. Dalam sebuah kesempatan dia dibelikan tiket ke Kolumbia dan diminta bertemu dengan Mr Don. Jadwal keberangkatannya pada 2 Maret 2018. Alasannya, Arnaya ditawari pekerjaan untuk mengambil dokumen.

Singkat cerita, Arnaya tiba di Kolumbia. Di situ dia bertemu dengan Mr Don terjadi pada 13 Maret 2018. Saat itulah, tas terdakwa ditukar Mr Don. Namun dia dilarang untuk membukanya.


Atas perintah Mr Don, terdakwa kemudian diperintahkan pergi ke Madagaskar. Bahkan dia sudah membeli tiket via email agar bisa berangkat ke sana.  

Namun dalam perjalanan menuju Bandara Bogota di Kolumbia, terdakwa diberitahukan oleh Bhella untuk tidak pergi ke Madagaskar karena berbahaya. Kenalannya itu lantas meminta dia untuk ke Hongkong.

Bhella menjanjikan tiket untuk terdakwa bisa pergi ke Hongkong. Namun, tiket yang dijanjikan itu tidak kunjung dia terima. Sehingga terdakwa meminta tolong ke adiknya, Ketut Yuliawan, untuk dibelikan tiket agar bisa pulang ke Bali.

Tiket untuk kembali ke Bali akhirnya dia pegang. Sehingga dalam kepulangannya tersebut, terdakwa juga membawa narkotika tersebut. Setelah menempuh penerbangan dan transit di Madrid, pada 23 Maret 2018 sore dia tiba di Bali. Hingga akhirnya dia berurusan dengan meja hijau. 

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia