Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Ini Makna dan Fungsi Caru Lantang di Bugbug

Senin, 10 Sep 2018 10:49 | editor : I Putu Suyatra

Ini Makna dan Fungsi Caru Lantang di Bugbug

CARU: Caru Lantang yang berbentuk nasi dan lauk pauk sepanjang 400 meter, dimakan dengan cara Magibung oleh warga dari ujung Timur ke ujung Barat Desa Pakraman Adat Bugbug, pekan lalu. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Tradisi Magibung yang dipelopori Raja Karangasem ini, hingga kini dilaksanakan. Namun, acara santap bersama secara lesehan ini, dilaksanakan di Desa Pakraman Bugbug sedikit berbeda, dan namanya Caru Lantang. Seperti apa tradisi Caru Lantang tersebut?

Caru Lantang  di Desa Pakraman Bugbug, Karangasem yang hanya digelar setiap 10 tahun sekali ini terbilang cukup unik. 

Caru yang berupa nasi berisi  bermacam lauk seperti lawar, jukut ares, daging ayam dan babi ini  dijejer beralaskan daun pisang. Uniknya, hidangan tersebut digelar tepat di tengah – tengah pelataran Desa Bugbug, Karangasem. Makanan yang nantinya dimakan secara bersama – sama tersebut digelar sepanjang desa, dari ujung timur hingga ke ujug barat desa. Dari pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), Jumat (7/9) kemarin, pukul 17.15 Wita, masyarakat mulai berduyun – duyun datang memadati Bale Agung yang terletak di tengah – tengah Desa Bugbug. Para wanita datang membawa baskom yang penuh berisi nasi putih. Sedangkan para pria terlihat membawa bertumpuk – tumpuk daun pisang dan berbagai perlengkapan untuk acara mebat (memasak).

“Persiapannya sudah dimulai dari pukul 15.00 , mulai dari mebat seperti ngelawar, bikin caru dan mempersiapkan segala perlengkapan untuk  prosesi,” ujar Bendesa Pakraman Adat Bugbug, Jero Mas Suyasa.

Dikatakan Suyasa, ritual yang diadakan setiap 10 tahun sekali ini, merujuk pada Tahun Caka yang berakhir dengan angka nol, panglong ping 13 atau 14 atau 15 nuju kajeng. “Untuk tahun ini prosesinya jatuh pada 7 September 2018, atau Tahun Caka 1940 ,” jelasnya. Caru yang digelar sepanjang Pura Puseh hingga Pura Segara itu, merupakan wujud syukur masyarakat Bugbug sekaligus sebagai penyeimbang. "Caru itu kan artinya seimbang. Kami di Desa Pakraman Bugbug mencoba menyelaraskan alam kembali melalui prosesi Caru Lantang ini,” ujarnya.

Caru Lantang atau yang disebut juga Caru Panca Sanak, berfungsi sebagai permohonan Amerta Karana kepada Ibu Pertiwi."Semuanya harus beralaskan daun menyentuh tanah. Karena dengan menyentuh tanah kita memohon kepada Inti, yaitu Ibu Pertiwi agar beliau senantiasa memberikan anugerah Amerta 

Karana pada kami semua,” jelasnya. Secara prosesi, labjutnya, Caru Lantang berbeda dengan caru pada umumnya,  karena pada prosesi caru inti upakaranya adalah Caru Panca Sanak. 

Caru Panca Sanak adalah persembahan yang berupa pengorbanan berupa hewan tertentu yang dihaturkan di lima tempat berbeda. “Di Bale Agung kami menggunakan ayam sebagai persembahan, lalu di Pura Puseh menggunakan caru berupa Kucit Butuan (anak babi berwarna hitam) dan Bebek Blangkalung (bebek yang berbulu putih pada lehernya saja). Di Pura Segara, caru yang digunakan adalah Godel (anak sapi) dan Anjing Blangbungkem , dan terakhir ada caru khusus yang dihaturkan di Bale Agung, yaitu Caru Panca Sata," bebernya.

Prosesi Caru Lantang diawali dengan ngunggahin banten ( menghaturkan)  yang dipimpin oleh pemangku adat setempat. Kemudian dilanjutkan dengan menghaturkan Panca Sembah . “Seletah Panca Sembah, masyarakat belum boleh nyurud atau memakan hidangan itu. Mereka baru boleh makan setelah seluruh prosesi selesai ditandai dengan bunyi kulkul desa sebanyak tiga kali,” ujarnya.

Tepat setelah kulkul desa dibunyikan, masyarakat desa berebut mencicipi hidangan yang tersaji sepanjang 400 meter tersebut. Tak hanya untuk di makan langsung di tempat, banyak juga yang  membawa pulang untuk sanak keluarganya. 

Nasi tersebut ternyata tak hanya untuk dimakan, beberapa diantara mereka juga terlihat mengais dan menyimpan sisa nasi yang masih ada. “ Nasi untuk disebar di sawah, katanya sawah kami akan terlindung dari hama dan diberkati panen dan hasil yang bagus,” ujar Artana, salah satu masyarakat Desa Pakraman Bugbug.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia