Rabu, 19 Sep 2018
baliexpress
icon featured
Kolom

Ekonomi Indonesia Masih Stabil Meski Rupiah Melemah

Oleh: Diaz Wulandari*

Senin, 10 Sep 2018 11:26 | editor : I Putu Suyatra

Ekonomi Indonesia Masih Stabil Meski Rupiah Melemah

Ilustrasi (ISTIMEWA)

AKHIR-akhir ini publik dihebohkan dengan berita melemahnya nilai Rupiah bahkan hingga menginjak angka Rp 15.000. Bahkan beredar spekulasi-spekulasi yang meresahkan masyarakat yang menyangkutkan melemahnya nilai rupiah ini dengan krisis yang terjadi pada tahun 1998. Namun apakah benar melemahnya nilai rupiah ini akan menyebabkan Indonesia mengalami krisis ekonomi? Sama sekali tidak, ekonomi Indonesia masih tetap stabil bahkan meski nilai rupiah kini melemah. Hal ini juga dijelaskan oleh beberapa pakar-pakar ahli.

Stabilitas data penurunan nilai rupiah yang terjadi saat ini, tidak akan mencapai pada tiitk krisis moneter seperti yang terjadi pada tahun 1998. Pemerintah pun tidak panik, namun lebih mawas serta mengobservasi data-data market yang ada di Indonesia serta kejadian yang ada di Internasional.

Penurunan nilai rupiah kali ini juga tidak terlalu berpengaruh pada daya beli masyarakat, menurut Kepala Ekonom PT. Bank Central David. Hal ini dikarenakan seiring dengan pelemahan nilai rupiah, pemerintah Juga tetap menjaga harga-harga barang terutama makanan supaya tetap stabil. Bahkan tahun ini juga dapat dilihat gaji-gaji naik, harga-harga juga tetap terjaga stabil meskipun harga beras mengalami kenaikan harga. Beliau menjelaskan jika sebenarnya yang benar-benar merasakan dampak penurunan dari nilai rupiah ini adalah golongan masyarakat menengah ke atas yang memiliki gaya hidup serta konsumsi barang-barang impor. Sedangkan untuk masyarakat yang golongan menengah ke bawah, kebutuhan makan dan hidup masih tetap tercukupi.

Lalu apa sebenarnya yang menyebabkan penurunan nilai rupiah terhadap Dollar? Ada berbagai faktor-faktor yang menyebabkan, hal pertama dikarenakan neraca perdagangan yang defisit. Berdasarkan data-data yang ada, neraca perdagangan yang ada di Indonesia sebenarnya sempat mengalami surplus pada bulan Maret-Juni 2018. Namun jika dilihat secara tahunan, neraca perdagangan mengalami defisit hingga sebanyak 1,02 miliar Dollar AS. Faktor kedua disebabkan karena kerja perdagangan yang kurang begitu optimal. Perdagangan yang ada di dalam negeri memang cenderung kurang optimal yang membuat nilai rupiah terus melemah pada pertukaran nilai Dolar AS. Kondisi ini juga diyakini menjadi penyebab pertama yang kemudian berimbas pada defisit transaksi berjalan. Namun hal ini sebenarnya tak hanya terjadi pada nilai rupiah saja, namun juga terhadap mata-mata uang dari Negara-negara lainnya.

Faktor ketiga dikarenakan Yield Spread yang terjadi antara US Treasury (surat-surat berharga milik Pemerintah AS) dan surat-surat berharga Negara dengan tenor 10 tahun yang juga semakin lebar menjadi faktor yang cukup berpengaruh pada pelemahan nilai rupiah. Bima Yudhistira, peneliti dari Institute of Development for Economis and Finance menjelaskan jika semakin besar yield spread menyebabkan investor-investor asing cenderung menjual surat- surat hutang Indonesia. Faktor keempat disebabkan karena perang dagang dan sistem perbankan. Menurut Shanti Rachmand, Presiden ASEAN International Business menjelaskan jika ada 2 faktor tambahan lainnya yang menyebabkan nilai rupiah anjlok. Pertama yaitu infrastruktur sistem perbankan di Indonesia yang kurang memadai serta adanya trade war (perang dagang) yang makin memperburuk kondisi keuangan global. Misalnya saja, pada beberapa waktu yang lalu Argentina mengalami krisis yang menjadi salah satu hal penyebab nilai rupiah melemah, menurut penjelasan Darmin Nasution selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Padahal Argentina baru saja mendapat pinjaman dana dari International Monetary Fund (IMF) selaku badan PBB sekitar 50 miliar Dollar. Namun dikarenakan arus modal keluar yang dimiliki Argentina masih sekarat, menyebabkan bunga nya dinaikkan hingga ke tingkat 60%. Hal ini yang menyebabkan kurs mata uang di beberapa Negara-negara di Asia tenggaraa termasuk Indonesia juga ikut melemah.

Menurut Arief Wana, pengamat Ekonomi Indonesia menjelaskan jika serangan-serangan dollar akan terus berkelanjutan menjadi hal yang tidak bisa dipungkiri. Diawali dengan adanya trade war serta kenaikan suku bunga amerikan membuat kekuatan Dollar akan terus berlanjut. Namun tentu saja serangan Dollar ini tidak akan terus menerus terjadi karena kekuatan Dollar bisa menghambat ekspor serta perkembangan Ekonomi di Amerika Serikat.

Saat ini kebijakan Pemerintah Indonesia, Bank Indonesia, serta OJK memiliki pengaruh yang sangat penting agar jangan sampai ekonomi menjadi ikut melemah. Stabilitas menjadi hal yang penting dilakukan dalam jangka waktu dekat. Bank Indonesia, dengan kebijakannya akan terus meningkatkan suku bunga agar tetap menguatkan rupiah dan menjaga kestabilan. Baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang, pemerintah juga diharapkan menjaga momentum serta mengamankan kestabilan ekonomi Indonesia.

Dan tak hanya dalam bidang Ekonomi saja, Wiranto juga menjelaskan jika penegakan hukum yang tegas dan politik juga dapat meningkatkan stabilitas serta keamanan sosial yang dapat mendorong perekonomian Negara. Tidak akan ada Negara yang dapat membangun perekonomiannya jika keamanan politik nya terganggu. Pengusaha dan investor  juga tidak akan menspekulasi modal pada Negara-negara yang keamanannya tidak stabil. Kejahatan-kejahatan seperti terorisme, kejahatan siber, kejahatan radikalisme, narkoba, korupsi, adu domba, dan hoaks menjadi bentuk ancaman Negara yang sedang dihadapi pemerintah. Untuk itu lah pemerintah meminta kerja sama yang kompak pada TNI, Kepolisian, BNPT, serta aparat-aparat lainnya yang berkepentingan agar tetap menjaga kestabilan politik sehingga keamanan di dalam Negara tidak terganggu, terlebih lagi untuk mengamankan pemilu yang akan dilangsungkan tahun depan.

Meskipun kejadian-kejadian politik belum tentu langsung mempengaruhi stabilitas ekonomi, namun bukan berarti hal ini tidak dapat terjadi. Untuk itu lah peran penting Pemerintah dan Aparat Keamanan Negara untuk membantu menjaga keamanan dan kestabilan Negara.

Selain itu, langkah-langkah lainnya yang dilakukan pemerintah Indonesia saat ini adalah berusaha memangkas Impor dan memperbaiki defisit neraca pembayaran agar dapat mendongkrak nilai rupiah. Impor memang menjadi satu-satunya solusi bagi Indonesia, apalagi Indonesia belum bisa berkomitmen memperbaiki kemandirian dalam bidang pangan. Untuk itu lah pemangkasan Impor ini akan berdampak cukup besar pada nilai tukar rupiah.

Selain itu, pemerintah Indonesia juga harus memperluas pada bidang ekspor barang dengan mencari pasar alternative yang bisa dijadikan sebagai ekspor. Misalnya saja pada bidang hasil pertanian, karena hal ini bisa memilik dampak yang besar pada nilai kurs Dollar.

Dan tak hanya itu saja, pemerintah juga mengimbau kepada masyarakat Indonesia untuk turut membantu mendorong nilai rupiah. Dengan cara apa? Bisa dilakukan dengan menukarkan uang Dollaarnya ke rupiah sehingga membantu penguatan. Selain itu, masyarakat Indonesia juga bisa melakukan gerakan stop membeli barang-barang import dan lebih mencintai barang-barang produksi dalam negeri sehingga menciptakan peningkatan perdagangan di dalam negeri.

Dengan begitu, Wakil Presiden Jusuf Kalla meyakini jika nilai rupiah akan kembali menguat setelah ditekan terus menerus oleh Dollar AS selama 2 pekan ini. untuk itu lah, tak hanya peran Pemerintah dan perangkatnya saja, masyarakat juga memiliki andil yang cukup penting dalam membantu mendorong nilai rupiah agar kembali stabil. Salah satunya dengan mengurangi kebiasaan menggunakan produk import dan mendorong para pengusaha di Indonesia untuk semakin meningkatkan eksport. (*)

*) Penulis adalah Mahasiswi Universitas Pasundan

(bx/ima/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia