Rabu, 19 Sep 2018
baliexpress
icon featured
Balinese
Mengenal Keunikan Desa Songan (3-Habis)

Anak Kembar Wajib Jadi Jro, Dilarang Makan Daging Babi dan Sapi

Selasa, 11 Sep 2018 08:00 | editor : I Putu Suyatra

Anak Kembar Wajib Jadi Jro, Dilarang Makan Daging Babi dan Sapi

ISTIMEWA: Salah satu anak kembar yang ada di Songan. Sejak lahir sudah dilakukan istimewa dan memiliki beberapa kewajiban dan pantangan. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, BANGLI - Desa Songan, Bangli yang terletak di sisi utara Danau Batur ini, menyimpan sejuta keunikan. Tak hanya keyakinan serta budayanya yang unik, Desa Songan juga dikenal memiliki jumlah anak – anak kembar terbanyak di Bali. Istimewanya lagi, mereka yang terlahir kembar  diwajibkan melakukan ritual Pawintenan untuk menjadi seorang Jro Kembar.

Jro Kembar adalah sebutan masyarakat Desa Songan untuk anak – anak kembar yang telah diwinten  atau disucikan serta dibuatkan palinggihan khusus di halaman rumahnya.  “Tradisi yag selama ini ada di Desa Songan, Mawinten  berlaku bagi mereka yang terpilih dan mendapat petunjuk niskala. Nah, bagi anak kembar itu pengecualian. Mereka yang terlahir kembar wajib juga melakukan prosesi Mawinten untuk menjadi Jro Kembar,” ujar  Bendesa Desa Pekraman Songan, Bangli, Jro Temu, ketika ditemui Bali Express ( Jawa Pos Group) di kediamannya, pekan kemarin.

Alasannya, semua anak kembar di Desa Songan dianggap Suci. “Mereka dianggap suci, sama seperti halnya Dewa Dalem atau Dewa Kembar yang terlahir  di lingkungan keluarga  mereka. Makanya, lebih cepat diwinten akan lebih baik. Memang aturannya ada batasan umur, minimal di usia enam bulan mereka sudah bisa diwinten,” paparnya.

Jro Temu mengatakan, ada beberapa pantangan dan prosesi khusus yang tidak boleh dilanggar anak kembar. “Mereka tidak boleh makan daging sapi serta daging babi. Bagi Jro Kembar, tiap enam  bulan sekali ada ritual khusus yang mereka lakukan di Pura Dewa Dalem, mereka harus hadir dan tidak boleh bolos kecuali sedang cuntaka. Kalau cuntaka atau sebel (kotor), mereka tidak diwajibkan hadir, namun tidak boleh bepergian atau keluar dari wilayah desa,” jelasnya.

Selain prosesi khusus, para Jro Kembar juga wajib bersembahyang dan menghaturkan persembahan rutin di palinggihannya. “Tiap hari mereka diwajibkan bersembahyang, mereka juga wajib mabanten dan menghaturkan banten,” ungkapnya.

Bendesa Desa Pakraman Songan ini berharap agar masyaakat selalu berpegang teguh pada adat serta budaya yang selama ini mereka pertahankan. “Ini semua warisan leluhur kita, leluhur pasti sudah memikirkan cara yang terbaik untuk kehidupan kita. Kalau bukan kita yang menjaga lalu siapa lagi," ujarnya. (habis)

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia