Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Features

Tak Tahu Hukum, Dukun Pijat Itu Aborsi Pakai Tangkai Daun Singkong

Selasa, 11 Sep 2018 21:30 | editor : I Putu Suyatra

Tak Tahu Hukum, Dukun Pijat Itu Aborsi Pakai Tangkai Daun Singkong

HARUS DITUNTUN: Ni Wayan A harus dituntun anggota kepolisian karena menderita penyakit rematik. (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Polsek Banjarangkan, Klungkung sudah menetapkan tiga tersangka kasus pembuangan orok di Subak Penasan, Dusun Penasan, Desa Tihingan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung. Tiga tersangka yakni, I Wayan AA, 19 (berita sebelumnya DA), dan Ni Kadek DG,19, yang merupakan orang tua si jabang bayi. Serta seorang dukun pijat Ni Wayan A, 75.  Kenapa nenek mau terlibat aborsi?

Ditemui jelang dirilis ke media, Senin (10/9) lalu, nenek tersebut terlihat sudah menggunakan pakaian warna orange layaknya tersangka pada umumnya. Lengkap dengan penutup kepala (sebo). Sesekali penutup warna hitam itu dibuka ketika berbincang dengan Bali Express (Jawa Pos Group). Dibuka karena dia mengalami gangguan pendengaran.

Selain mengalami gangguan pendengaran, dia tidak begitu mengerti bahasa Indonesia. Nenek asal Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Karangasem itu juga menderita sejumlah penyakit. Untuk sekadar berjalan saja harus dituntun polisi. Diperkirakan karena faktor usia. Salah satu penyakitnya adalah rematik. Ia harus menggunakan kaus kaki biar tidak kedinginan, yang dinilai bisa memicu rematiknya kumat.  Polsek Banjarangkan memutuskan tidak melakukan penahanan dengan alasan usia dan kesehatan si nenek.

Kepada koran ini, wanita dengan tiga orang anak tersebut tak merinci sejak kapan menjadi dukun pijat. Ia sebatas mengaku sudah lama “spesialis” memperbaiki posisi bayi dalam kandungan. Berulang kali dia menegaskan bahwa hanya kali ini membantu aborsi. Yakni terhadap Ni Kadek DG. “Nasib tyang niki, kena hukum, mapenjara,” ujar Ni Wayan A.

Nenek ini mau membantu menggugurkan kandungan remaja asal Desa Tihingan itu karena merasa iba saat pertama kali didatangi. Remaja tersebut ingin menggugurkan kandungan karena belum siap menikah. Pacarnya juga masih kuliah.

Lantaran remaja itu terus memelas, nenek ini pun merasa kasihan. Sebelum melancarkan aksinya, nenek mengaku sudah sempat memperingatkan bahwa dirinya tidak ikut menanggung risiko jika terjadi masalah. Terutama terhadap keselamatan jiwa, termasuk pertanggungjawaban secara niskala. Kalau terkait praktik yang dilakukan melanggar hukum, nenek ini mengaku sama sekali tidak tahu kalau perbuatannya melanggar hukum.

Namun apa pun alasannya, dia tetap diduga bersalah secara hukum. Bahkan ancaman hukumannya lebih berat ketimbang dua tersangka lainnya, yakni pasal 349 KUHP.

Meski tak ingat betul kapan dua remaja itu datang ke rumahnya, nenek itu memastikan praktik aborsi dilakukan dua kali dengan imbalan Rp 2 juta. Upaya aborsi pertama belum berhasil, dilanjutkan praktik kedua. Aborsi dilakukan dengan memijat perut hingga memasukkan tangkai daun singkong ke alat ke kelamin remaja itu.

“Pipis (uang) Rp 2 juta anggon tiang banten masih,” tandas dia. Ia pun mengaku menyesal membantu melakukan aborsi.

Begitu juga dengan I Wayan AA, yang merupakan ayah bayi tersebut juga tak kuasa menahan tangis. Sejak ditangkap polisi dia terus menangis tersedu-sedu. Bahkan sempat terlihat bersimpuh mohon maaf kepada polisi. Dia menyesal menggugurkan buah cintanya.

“Ampura tiang Pak, tiang salah,” ujar  mahasiswa salah satu kampus di Gianyar itu. AA memutuskan menggugurkan kandungan pacarnya karena tidak siap menikah.

Saat dirilis kepada media, Wakapolres Klungkung Kompol Heri Supriawan, didampingi Kasubag Humas Polres Klungkung AKP I Putu Gede Ardana, dan Kapolsek Banjarangkan AKP Ni Luh Wirati, menegaskan ketiga tersangka dikenakan pasal berbeda-beda.  I Wayan AA,19, dikenakan pasal 348 KUHP, Ni Kadek DG diancam pasal 348 KUHP. Sedangkan nenek diancam pasal 349 KUHP. Hanya I Wayan AA ditahan. Dua tersangka lainnya tidak ditahan dengan alasan kesehatan, namun proses hukum tetap lanjut.

Supriawan menyebutkan, remaja itu memutuskan aborsi karena belum siap menikah. Mereka tahu ada dukun pijat dari rekannya bernama Agung asal Gianyar. Saat ini Agung masih berstatus saksi. “Nanti kalau memang unsurnya terpenuhi, baru kami arahkan ke sana (tersangka, Red),” ujar Supriawan.

Mantan Kabag Operasional Polres Karangasem itu menambahkan, pasangan muda tersebut datang ke rumah sang dukun pijat pada 12 Agustus 2018. Saat itu belum berhasil aborsi. Dilanjutkan lagi 23 Agustus 2018. Keesokan harinya mulai keluar darah, dan keguguran pada 25 Agustus 2018 di rumahnya. Selanjutnya Ni Kadek DG membuang orok yang dibungkus plastik itu di saluran irigasi dekat rumahnya pada 26 Agustus, dan ditemukan Kepala Dusun Penasan I Made Parwata keesokan harinya. Orok ditemukan tanpa pembungkus hampir 1 kilometer dari tempat pembuangan.  

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia