Kamis, 20 Sep 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Sulap Tukad Bindu, Dua Tahun Ubah Kebiasaan Buang Sampah

Rabu, 12 Sep 2018 11:37 | editor : I Putu Suyatra

Sulap Tukad Bindu, Dua Tahun Ubah Kebiasaan Buang Sampah

SEGAR: Suasana Tukad Bindu yang kerap digunakan mandi oleh anak-anak setempat, Selasa kemarin (11/9). . (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Tukad Bindu merupakan salah satu objek wisata anyar yang merupakan buah dari kesadaran tentang lingkungan. Kawasan yang sebelumnya kumuh ini sengaja ditata dan disulap menjadi tempat yang asri. Namun, mengubah pola pikir masyarakat agar berhenti membuang limbah ke sungai butuh kesabaran. Setidaknya dua tahun lamanya. 

Ketua V Yayasan Tukad Bindu,  I Made Gede Duaja mengatakan, membuat tukad tersebut seperti saat ini mengaku bukan hal mudah. Perlahan pihaknya memberikan pemahaman kepada masyarakat setempat untuk turut menjaga lingkungan, khususnya sungai. "Itu yang susah, kalau sungai memang biasanya untuk tempat pembuangan. Padahal hal itu akan membuat bencana dikemudian hari bagi kita," terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Selasa kemarin (11/9). 

Dia memaparkan, memerlukan dua tahun untuk merubah kebiasaan masyarakat supaya berhenti membuang limbah ke sungai. Parahnya, sebelum kawasan Tukad Bindu ditata secara terang-terangan ada yang membawa sambungan pipa limbahnya ke sungai. "Kalau membuat septic tank pinggir sungai kan tidak masalah. Karena kadar air yang dikeluarkan limbah setelah masuk ke tanah lebih bagus dan tidak mencemari air sungai," terang pria selaku petugas keamanan Tukad Bindu tersebut. 

Bahkan sampai saat ini pengunjung selain berolahraga, belajar atau sekadar menikmati alam ada juga yang mandi di sungai. Mengingat air di sana sudah aman untuk kulit, meskipun secara kesehatan belum aman untuk diminum. "Jika airnya sekarang tidak layak untuk mandi, terus ngapain anak-anak berulangkali mandi di sini. Ini menandakan bahwa airnya aman untuk mandi," jelas Duaja. 

Dalam kesempatan itu, dia mengaku yayasan yang beranggotakan 15 orang berangkat dari nol. Bahkan untuk menata dia mengaku pihaknya bersedia untuk ngutang terlebih dahulu. Mengingat saat ini sudah mulai dikenal oleh masyarakat dan banyak pula yang berkeinginan memanfaatkan wilayah itu untuk berjualan. 

Namun Duaja lebih memilih untuk fokus memanfaatkan tenaga atau warung dari masyarakat setempat. Karena bagi dia untuk menjaga lingkungan dan sungai itu diperlukan sinergitas terlebih keterlibatan masyarakat. "Memang di Denpasar beberapa sungai telah ditata, namun ada berani gak mandi seperti di sini yang tanpa limbah. Maka kesadaran dan edukasi ke masyarakat itu sangat penting," tuturnya. 

Pada tempat yang sama, salah satu pengunjung, Putu Suryadi mengaku sering berenang di sana. Bahlan dalam seminggu bisa tiga kali dia bersama temannya berenang di sepanjang Tukad Bindu tersebut. "Airnya tidak membuat kulit gatal, makanya saya berani berenang. Apalagi hari libur seperti sekarang bisa sejak pagi menghabiskan waktu di sini," imbuh bocah kelas dua SMP tersebut.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia