Rabu, 19 Sep 2018
baliexpress
icon featured
Features

Ribuan Kelelawar Berekor Huni Goa Gala, Kini Jadi Obyek Wisata

Rabu, 12 Sep 2018 12:33 | editor : I Putu Suyatra

Ribuan Kelelawar Berekor  Huni  Goa Gala,  Kini Jadi Obyek Wisata

KELELAWAR: Suasana goa yang dihuni ribuan kelelawar berekor di Dukuh, Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Selasa (11/9). (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, TABANAN -  Sebuah goa di Banjar Dukuh, Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan dihuni ribuan kelelawar berekor. Tetapi tidak jelas bentuk tubuhnya karena suasana didalam goa gelap. Keberadaan goa ini belakangan menjadi obyek wisata di kawasan Desa Kelating.

Berdasarkan pantauan Bali Expres (Jawa Pos Group) di lapangan, goa tersebut tidak terlalu luas dan terlihat ribuan kelelawar sedang hinggap pada dinding goa. Terdapat pula sebuah patung Macan di dalam goa dan tempat sarana menghaturkan sesajen. 

Kelian Dinas Banjar Dukuh, Gede Wayan Suyadnya didampingi Kelian Dinas Banjar Dangin Pangkung, Gusti Made Widiarta menjelaskan, keberadaan goa dan kelelawar berekor tersebut memang sudah ada sejak dulu. Namun ia tidak mengetahui secara pasti bagaimana awal mula kawanan kelelawar bisa datang.

Menurut cerita, asal muasal Desa Kelating berasal dari goa tersebut, "Dulu sebelum dinamakan Desa Kelating, desa kami bernama Desa Goa Gala," ujarnya saat ditemui Selasa (11/9) kemarin. 

Ditambahkan, goa tersebut berada di sekitaran enjung yang bernama Karang Taman Agung. Dimana di bagian atas goa terdapat Pura Tegal Linggah yang diempon oleh krama Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri, Tabanan. Meski demikian krama Desa Kelating ketika ada hari suci tertentu selalu menghaturkan canang guna memohon kerahayuan.

 "Dan menurut cerita dari para tetua, konon goa ini juga ada hubunganya dengan Pura Rambut Siwi di Jembrana. Dimana kalau terjadi permasalahan di Rambut Siwi akan ada dua anak macab ke goa ini. Tetapi itu dulu karena dua anak macam yang sempat hidup disana sudah hilang tidak diketahui keberadaanya," paparnta 

Sedangkan terkait dengan ekor kelelawar tersebut, kata dia memiliki panjang sekitar 2,5 centimeter dan berwarna hitam. Namun tubuh dari kelelawar itu memang lebih kecil daripada tubuh kelelawar pada umumnya. Dan memiliki warna hitam kecoklat-coklatan. 

Menurutnya, masyarakat setempat meyakini jika kelalawar itu tidak boleh ada yang mengusik ataupun menembak. Karena krama setempat yakin areal enjung ini dikenal keramat. Disamping karena jarak sekitar 15 meter jufa ada Setra (kuburan), aura di sekitaran goa tersebut dikatakan berbeda. "Bahkan dulu kalau sore hari orang tidak berani ke areal goa," lanjutnya.

Kendatipun demikian karena zaman sudah berubah keberadaan goa dan kelelawar tersebut menjadi daya tarik wisatawan, baik wisatawan yang sedang bermain ATV sengaja berhenti untuk mengambil foto, begitu pula wisatawan yang kebetulan berlibur di hotel disekitar lokasi juga datang ke kawasan goa tersebut untuk melihat ribuan kelelawar itu.

Sayang adanya potensi tersebut tidak didukung dengan akses jalan yang memadai. Lantaran dari pintu masuk menuju goa ke arah barat tidak ada jalan khusus, melainkan harus melewati pesisir pantai. "Dan rencananya di programkan sebagai pengembangan terhadap kelelawar dan goa ini sudah ada, namun masih berproses, jadi kita tunggu saja," pungkasnya.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia