Kamis, 20 Sep 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Objek Dijaga 12 Orang, Bule Bisa Duduk di Palinggih Pura Batu Karu

Rabu, 12 Sep 2018 21:16 | editor : I Putu Suyatra

Objek Dijaga 12 Orang, Bule Bisa Duduk di Palinggih Pura Batu Karu

DUDUK: Akun Instagram Tony.Jarvi mengunggah foto duduk di Palinggih Pura Beji Kauh, Batukaru, Penebel, Tabanan. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, TABANAN  - Seorang Wisatawan Asing mengunggah foto sedang duduk di sebuah padmasana di pelataran Beji Kauh Pura Batukaru, Tabanan. Foto itu diunggah pemilik akun Instagram Tony.Jarvi pada Minggu (9/9) lalu. Unggahan itu pun menuai banyak kritik.

Anggota Badan Pemusyawaratan (BPD) Desa Wongaya Gede, Penebel, Tabanan, I Ketut Sucipta mengaku kecewa. “Saya sudah cek kebenaran foto tersebut. Lokasinya memang benar ada di Beji Kauh, Pura Batukaru. Tepatnya disebut pelinggih Pekiisan. Tempat itu biasanya digunakan oleh para karma subak yang ada di sekitar Pura Batukaru untuk mendem pakelem,” ujar Sucipta.

Ketika dikonfirmasi ke petugas jaga, kata dia, tamu yang berasal dari Denmark tersebut memang tidak menggunakan Guide. “Dari pengakuan petugas yang jaga hari itu, memang tamu itu tidak membawa guide. Ia hanya datang bersama temannya sehingga tidak ada yang memberi pengertian kepadanya bahwa tidak diperbolehkan untuk duduk atau jongkok di pelinggih tersebut,” ungkapnya.

Sucipta mengaku sangat kecewa kepada pihak pengelola pariwisata Batukaru. Karena setiap hari ada 12 orang yang berjaga untuk mengawasi para tamu yang datang. “Ada 12 orang lho yang setiap hari berjaga di sana. Artinya mereka tidak bertanggung jawab atau lalai pada tugasnya. Sejauh yang saya tahu gaji mereka di atas UMK. Lalu apa yang mereka lakukan sampai bisa terjadi seperti ini? Saya sebagai masyarakat, jujur saja sangat kecewa karena otomatis tempat itu leteh kan? Jadi dimana tanggung jawabnya?” ujarnya.

Menurutnya setelah ini akan ada upacara khusus untuk menghilangkan leteh akibat aksi nekat WNA tersebut. “Mungkin nanti ada prosesi Bindu Piduka lagi, tapi itu harus ada paruman dulu. Saya harap kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi, ini sudah kedua kalinya setelah kejadian dibesakih beberapa waktu lalu. Artinya kita harus tegas, dan tegakan aturannya,” tandasnya.

Di sisi lain, ketika dikonfirmasi, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Prof. Ngurah I Gusti Ngurah Sudiana mengimbau kepada masyarakat untuk lebih ketat dalam menjaga areal suci pura. “Ini sudah kedua kalinya, kita seharusnya belajar jangan hanya menyalahkan mereka. Kita juga salah, kita membuka semua akses tempat suci kita sebagai destinasi wisata. Padahal seharusnya wisatawan tidak boleh masuk hingga areal inti atau suci pura. Boleh jika mereka ingin berkunjung. Tapi sebatas hingga jaba tengah saja! Jangan sampai mereka masuk ke areal suci kita,”ujar Sudiana.

Sudiana menambahkan, jika areal pura tersebut kecil maka pihak pengelola bisa membuat pagar pembatas di Pelinggih atau pura tersebut. “Kita harus tegas, ini warisan kita dan kita pula yang harus menjaganya. Kejadian ini kan bule itu tidak membawa gaide, jadi seharusnya tamu yang tidak membwa guide lokal tidak diperbolehkan masuk. Pengelola harus tegas soal aturan itu, ini sudah kedua kalinya kita tidak dihargai,” ujrnya.

Menurutnya aturan dan imbauan Parisda terkait destinasi wisata berupa pura sudah jelas. “Jelas aturannya, bahwa mereka diharuskan menggunakan kamen ketika berkunjung, batas wilayah suci tidak boleh dilewati ataupu dimasuki mereka yang datang berkunjung kecuali untuk sembahyang. Tapi kenyataannya masih banyak pengelola yang tidak taat aturan itu. Maka terjadilah hal ini,” Ungkapnya. Disisi lain ia juga menyarankan para pengelola memasang CCTV di areal pura. “Pasang saja CCTV jadi kita bisa segera tahu bahwa mereka melakukan perbuatan yang salah,” tandasnya.

Terakhir ia berharap pemerintah dan pihak terkait harus berani berkomitmen untuk mencari dan menjatuhkan sanksi kepada pelaku. “Apakah pemerintah dan kepolisian berani mengusut kasus ini hingga tuntas? Jika berani maka itu akan jadi pembelajaran bagi WNA asing, agar tidak berani berulah lagi di sini,” tuturnya menjelaskan.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia