Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Balinese
Tradisi Unik Adat Songan (1)

Tergantung Penyebab Kematian, Disediakan Empat Setra

Kamis, 13 Sep 2018 08:00 | editor : I Putu Suyatra

Tergantung Penyebab Kematian, Disediakan Empat Setra

BAYI: Di Songan khusus ada Sema Cerik untuk menguburkan orok dan bayi yang meninggal. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SONGAN - Di setiap Desa Pakraman di Bali umumnya memiliki satu Setra atau kuburan. Namun, di Desa Songan, Bangli justru memiliki empat jenis Setra. Untuk apa saja Setra lebih dari satu ini?

Desa Pakraman Songan, Kecamatan Kintamani, Bangli terletak tepat di sisi Danau Batur. Memiliki kaitan sejarah dengan Kerajaan Dalem Balingkang, membuat desa yang tergolong Bali Mula ini, terbilang cukup unik. Tak hanya dari kepercayaan serta tradisi. Bahkan perangkat Desa dan Tata Desanya pun terbilang sangat unik, salah satunya adalah Setra  atau kuburan milik Desa Pakraman Songan. Jika di daerah lain hanya memiliki satu Setra, Desa Songan memiliki tiga Setra Desa dan satu Setra tambahan.

Keempat Setra (Sema) tersebut adalah Sema Bangsil atau Sema Pengkingsan, Sema Gede (Sibakan Kebot, Sibakan Kenawan), Sema Cerik, dan Sema Gel-gel. 

Menurut Bendesa Pakraman Songan, Jro Temu, keempat Setra ini memiliki fungsi yang berbeda.

Sema Bangsil diperuntukkan  warga yang meninggal karena Salah Pati, Ulah Pati, dan Alih Pati. Yang dimaksud meninggal Salah Pati, lanjutnya, orang  yang meninggal karena penyebab yang tak disangka – sangka, seperti kecelakaan, digigit ular ataupun dibunuh. Sedangkan Ulah Pati merupakan kematian yang disebabkan karena ulah sendiri, seperti bunuh diri meminum racun dan gantung diri. “Mereka yang meninggal Salah Pati biasanya tidak disemayamkan dulu di rumahnya. Biasanya mereka akan langsung dibawa ke Setra dan langsung dimakamkan. Karena bagi kami, mereka yang meninggal Salah Pati terlalu riskan jika harus dibawa pulang dulu,” paparnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), pekan kemarin.

Bagaimana dengan Sema Bangsil? Laki – laki  ramah tersebut menjelaskan, istilah Bangsil dahulu digunakan bagi orang – orang yang memiliki kelainan perut membesar. “Dahulu di sini banyak yang pernah terjangkit penyakit aneh, perutnya tiba – tiba membesar dan bengkak. Ketika mereka meninggal dikhawatirkan penyakit itu akan menular . Makanya, dulu Sema itu disebut Sema Bangsil. Artinya kuburan untuk orang – orang Bangsil. Tapi karena belakangan sudah jarang ada yang menderita penyakit seperti  itu, akhirnya digunakan juga untuk mereka yang meninggal karena Salah Pati,” ujarnya.

Selain Sema Bangsil, ada juga Sema Cerik. Kuburan ini dikhususkan untuk menguburkan jenazah orok, bayi dan anak – anak. Kuburan ini lebih kecil dengan Sema lainnya. "Aturannya, jika anak tersebut belum tanggal gigi (Maketus) pertamanya dia dikubur di sini. Jika sudah Maketus, dia akan dikubur di Sema Gede seperti orang dewasa lainnya,” ujarnya. 

Ia juga menambahkan, dalam prosesi pemakaman orok, bayi, dan balita, yang membedakan hanya pada tahapan upacaranya. Di Songan ada tiga prosesi khusus yang dilakukan ketika memakamkan orok, bayi ataupun balita. Jika yang dikuburkan adalah orok, yakni antara usia 0 kandungan hingga sebelum tiga bulan kandungan, prosesi yang digunakan adalah prosesi Ngeuron. Jika yang dikuburkan bayi dengan kisaran antara tiga bulan lahir hingga bayi yang telah Makepus pungsed (lepas tali pusar), maka dibuatkan prosesi upacara Ngalungah. Dan, jika yang meninggal bayi yang telah berusia tiga bulan hingga usia Maketus giginya dibuatkan prosesi Panyambit namanya. 

Dalam penguburan orok atau bayi di Sema Cerik, masyarakat Songan tidak memiliki tradisi nongosin ( menunggu). “Kalau di wilayah lain mungkin ada tradisi Nongosin kuburan bayi selama tiga hari, tapi kalau di sini tidak ada tradisi begitu. Setelah dikubur ya sudah, tinggal menunggu prosesi Ngaben massalnya saja,” ungkapnya.

Berbeda dengan Sema Bangsil dan Sema Cerik, Sema Gede merupakan wilayah pemakaman dengan areal terluas yang ada di Desa Songan. “Sema Gede luasnya sekitar 200 are, yang  dibagi menjadi dua bagian, yakni Sibakan Kebot dan Sibakan Kenawan," terangnya. Sema Gede dibagi dua, lanjutnya, karena faktor kebiasaan. "Jika dari dulu leluhur warga dikuburkan di Sibakan Kebot, maka secara turun temurun semua keluarganya jika meninggal ikut dikuburkan di kawasan itu,” ungkapnya.  Sema Gede diperuntukkan masyarakat Desa Songan yang meninggal secara wajar.  Maksudnya yang meninggal wajar itu adalah meninggal karena sakit.  Terlepas apakah sakitnya karena sakit medis ataupun sakit karena gangguan akibat Black Magic, kalau dia sakit dalam jangka waktu lama lalu meninggal, maka akan dikubur di Sema Gede.Mereka yang dikuburkan di Sema Gede antara usia enam bulan hingga usia lanjut atau tua. “Untuk Sema Gede, semua orang baik orang suci (setingkat Sulinggih) hingga penjahat, semua dikuburkan di Sema Gede,”ujarnya.

Tak hanya kuburannya yang terbilang unik. Cara memakamkan jenazah pun berbeda dengan masyarakat Bali pada umumnya. Masyarakat Desa Songan tidak terbiasa langsung melaksanakan prosesi Pangabenan. Mereka terlebih dahulu menguburkan jenazah keluarganya. Setelah bertahun – tahun, Desa Pakraman akan mengadakan Pangabenan massal sesuai agenda tahunan. “Dalam prosesi Ngaben itu hanya simbolik. Jadi, tidak ada tradisi Ngagahin tulang atau jazad. Dalam prosesi Ngaben kami hanya menepuk pusara, lalu mengambil sejumput tanahnya untuk diletakkan pada Sawa. Usai prosesi Ngaben massal itu, makam – makam ini dianggap kosong, walaupun secara fisik kita masih dapat melihat tulang belulangnya,” jelasnya.

Menurut Jro Temu, rangkaian prosesi itu berlaku bagi semua masyarakat Desa Pakraman Songan. “Tradisi itu berlaku untuk semua, bukan karena alasan dana Pangabenan itu ditunda. Tapi, memang adat kita, dresta adatnya yang begitu sejak dahulu, dan masih kita lakukan hingga hari ini,” ungkapnya. Ketika ditanya, apakah prosesi pemakaman tersebut juga berlaku bagi mereka yang meninggal Salah Pati atau  orok? “Itu berlaku untuk semua jenazah, baik yang ada di Sema Bangsil, Sema Gede ataupun Sema Cerik, kecuali sema Gel – gel,” ungkapnya. Lantas, kenapa harus, ada pemakaman lebih dari satu di Songan? ikuti tulisan berikutnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia