Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Meninggal Usai Bekas Jahitan Bocor, Keluarga Sesalkan RS Sanglah

Kamis, 13 Sep 2018 09:03 | editor : I Putu Suyatra

Meninggal Usai Bekas Jahitan Bocor, Keluarga Sesalkan RS Sanglah

MALAPRAKTIK?: Korban semasa hidup saat dirawat di ruang Angsoka VI RSU Sanglah. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Keluarga Muhammad Ra'i, 60, warga Jalan Ahmad Yani, Gang Kenari, Denpasar menyesalkan pelayanan di RS Sanglah setelah lelaki paro baya itu meninggal dunia. Pihak keluarga menduga, Ra’i menjadi korban malapraktik. Ra’i sendiri di RS Sanglah sudah menjalani tiga kali operasi di perutnya.

Salah satu anggota keluarganya, Muhyiddin, kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin (12/9) mengungkapkan, awal mula kejadian sejak Rabu (1/8) lalu. Korban saat itu dibawa ke RS Wangaya atas keluhan sakit di perutnya. Bahkan ke rumah sakit itu sebanyak tiga kali berturut - turut dan selama itu pula dilakukan pemeriksaan. Namun hasilnya nihil.

Dari pemeriksaan pertama di RS Wangaya yang perut korban dinyatakan baik - baik saja korban kemudoan dibawa pulang. Selama dua hari di rumah korban justru mengeluh kesakitan dan bahkan kerap pingsan karena menahan sakit.

"Dokter bilang nggak ada apa - apa. Tidak ada sakit apapun. Padahal sudah dirontgen tiga kali. Sehingga kami bawa pulang lagi. Pergi lagi ke Wangaya jika dia mengeluh sakit. Lama - lama jenuh kami lalu ke Sanglah," ungkapnya lelaki yang akrab disapa Udin itu.

Barulah pada Minggu (5/8) korban dibawa ke RS Sanglah, dan hasil pemeriksaan bahwa usus korban robek. Selama tiga hari perawatan pertama di ruang Angsoka VI, selanjutnya diambil tindakan operasi ususnya dan langsung pemasalangan selang diperut untuk pembuangan kotoran. Dua minggu kemudian korban dioperasi lagi untuk membuka selang.

"Ada dua bentuk operasi, pertama dati atas ke bawah di tengah - tengah perut, kedua menyamping ke kiri. Jadi bentuknya seperti huruf T," ungkapnya.

Di hari yang pertama usai operasi yang kedua korban masih tidak apa - apa. Begitu memasuki hari kedua bekas operasi yang pertamanya dari atas ke bawah, bagian bawahnya berlubang dan keluar bau busuk.

"Setelah dilihat ternyata kotoran. Bau busuk itu ternyata kotoran. Lalu dipasang model perban dan kantong yang memutar. Tapi perkiraan waktu 4 sampai 5 jam kantong sudah penuh bahkan meluber," ungkapnya.

Selanjutnya pihak keluarga melaporkan ke petugas jaga dengan kondisi tersebut. Namun justru disuguhi jawaban yang mengecewakan dengan mengatakan itu tidak apa - apa. Kondisi korban saat itu semakin memburuk. Seminggu kemudian dengan kondisi yang sama dokter pun menimpali jawaban serupa "Oh itu tidak apa - apa". Dokter justru menganjurkan makan yang banyak, supaya tertutup sendiri.

"Sempat minta jus apokat. Namun kata perawatnya nggak boleh dulu. Besoknya saat kontrol pasien dokter justru bilang boleh. Hanya selang satu hari kok beda jawaban," ucapnya.

Seiring perjalanan waktu kondisi korban semakin drop dan hanya mendapat penanganan biasa saja. Keluarga menyesalkan bahwa tidak ada tindakan penutupan lubang tapi justru disuruh banyak mengkonsumsi makanan saja.

"Saat melapor perawat menyampaikan bahwa tidak bisa dioperasi sekarang karena ICU penuh. Banyak alasan. Bhasanya kasih makan saja yang banyak nanti lubangnya nutup sendiri. Sementara sebab robeknya usus tersebut keluarga pun tidak mengetahuinya," jelasnya.

Karena keluarga korban sering mengeluh, selang beberapa hari dari operasi pencabutan selang tersebut kemudian luka bocor baru dijahit. Dua hari kemudian pada Jumat (7/9) kondisi korban pun kritis. Dari kemaluan korban mengeluarkan darah. Sempat saat itu ditangani dan esoknya korban meninggal dunia.

"Apa karena kami pakai KIS sehingga penanganannya terbilang asal - asalan. Karena kami mengaca pada pasien sebelah keluarga yangjuga diperlakukan begitu. Mereka sampai bertengkar dengan dokter dan akhirnya dicabut paksa pulang," ungkapnya kesal.

Yang disesalkan pihak keluarga yakni untuk mengambil tindakan penutupan bekas jahitan yang bocor saja susah dan banyak alasan. Sehingga keluarga curiga ini merupakan tindakan malapraktik. Sementara itu Kasubbag Humas RS Sanglah Denpasar I Dewa Ketut Kresna saat dikonfirmasi belum memberikan respons.

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia