Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pasikepan, Paduan Sugesti, Keyakinan, dan Daya Magis

20 September 2018, 14: 31: 34 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pasikepan, Paduan Sugesti, Keyakinan, dan Daya Magis

PASIKEPAN : Banyak ragam model Pasikepan yang dibuat dengan sarana khusus untuk tujuan tertentu. Bahkan, tempatnya pun bisa disesuaikan dengan keinginan pemakainya. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Masih ingat video mesum pelajar di Jembrana yang  beredar beberapa waktu lalu? Video yang sengaja disebar lewat handphone itu, ternyata pelaku wanitanya menggunakan Pasikepan alias Jimat di pinggangnya. Apa sejatinya fungsi benda yang diyakini memiliki kekuatan niskala ini?

Pasikepan atau yang biasa disebut Jajimatan merupakan benda atau sebuah media yang digunakan untuk tujuan tertentu dari sang pemiliknya. "Pasikepan atau Jimat tersebut digunakan sesuai keinginan dari sang pemilik, seperti meningkatkan kewibawaan, pengasih – asihan, penjaga keselamatan dan tolak bala," terang praktisi sekaligus spiritualis, Raden Bagus Made Bayu Giantara kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin di Denpasar.
Dikatakannya, Jimat pada umumnya menggunakan rerajahan berupa tulisan atau gambar,  kalau Pasikepan  menggunakan simpul khusus serta doa atau mantra khusus yang disesuaikan dengan keinginan pemilik.


Dari sudut pandang spiritisme, Jimat adalah sebuah benda yang berbentuk image, gambar, lukisan, herbal, bahan suci, bahan keramat,  bahkan patung, keris, tasbih  atau japamala, pratima, dan benda lainnya, yang diritualkan dengan waktu, persembahan, mantra, afirmasi, energi tententu, untuk dapat menghasilkan berbagai fungsi yang diinginkan. Pada umumnya, Jimat dibagi menjadi lima fungsi umum, yaitu sebagai


Pengasihan  terkait urusan karir, jabatan, cinta kasih pada manusia, dan cinta kasih pada semua mahluk). Kemudian difungsikan sebagai Pelet yang terkait urusan seksual atau nafsu. Fungsi selanjutnya sebagai penglaris, terkait urusan bisnis dan keberuntungan. Fungsi lainnya sebagai proteksi, yakni untuk proteksi energi negatif sampai kekebalan. Dan, fungsi terakhir  terkait spiritual, mulai dari urusan meditasi, healing, mata ketiga  hingga Astral Projection.


Pria yang akrab disapa Jro Master Made Bayu Gendeng ini menjelaskan, ada beberapa pantangan dalam penggunaan Pasikepan, yakni dilarang menggunakan saat cuntaka (kotor atau sebel), pantang menggunakannya di tempat yang dianggap kotor, seperti toilet, dan juga dilarang menggunakan  saat berhubungan intim. Jika salah satu pantangan dilanggar sang pengguna, lanjutnya,  maka pengaruh Pasikepan atau Jimat akan berkurang, bahkan hilang. “ Membuat itu kan membutuhkan media, juga energi khusus dari ahlinya. Nah, jika pantangannya dilanggar, maka energi tersebut akan hilang,” ungkapnya.


Baginya, membuat sebuah Pasikepan atau masupati sebuah media menjadi Jimat harus dilakukan oleh orang yang ahli. Memiliki Pasikepan atau Jimat tidak boleh sembarangan, karena perlu perawatan dan ritual khusus. “ Tak hanya disimpan, Jimat perlu juga  perawatan, seperti   diminyaki dengan minyak khusus, diupacarai atau ritual khusus  saat purnama, tilem, kajang kliwon atau pada bulan Suro," terangnya.


Namun, bisa jadi muncul  konotasi negatif jika mendengar seseorang memakai Jimat. Padahal, Jimat dibuat dan digunakan leluhur sejak ribuan tahun lalu. Dalam budaya suku-suku di Indonesia, bahkan  di seluruh dunia, dalam spiritual bangsa Viking,  Gothic,  Hindu, Kejawen, Buddha Tantra, Shiva-Buddhism, Jimat dianggap sebagai perlengkapan yang luhur, yang utama, di samping pakaian dan perhiasan yang digunakan setiap hari.


Jenis Jimat berdasar cara membuatnya  pun beragam. Ada yang pakai energi dari blessing dari orang suci, pertapa, para guru, ada juga yang memakai bantuan spirit. Spirit disini bukan hanya Jin, tetapi lebih luas dan banyak lagi, seperti Angel, Devata hingga Vampires, dan lainnya.
Tak disanggahnya, Jimat diyakini sebagian orang dapat memberikan power magis untuk perlindungan. Bahkan, penjahat pun tak jarang membawa barang ini, yang di Bali dinamai juga Gegemet, Buntilan, Pangimpas-impas atau Sasabukan. Makanya, tak langka lagi kalau maling ketangkap basah, yang bisa didapatkan dari sakunya atau di badan lainnya sebuah Jimat. Bahkan, produk satu ini jadi pilihan favorit di tengah maraknya Ormas di Bali, apalagi penjualnya bak chief restoran bintang lima, bumbunya mantap. Konon,  laksana Pangimpas-impas, semua masalah lewat. Pangimpas-impas merupakan  ilmu atau ajian, di mana seorang akan terhindar dari mara bahaya yang bersifat gaib (niskala).


Ditilik dari namanya,  Pangimpas-impas sudah jelas maknanya  bukan untuk melawan atau berbenturan, namun menghindari atau membelokkan masalah agar si pembawa selamat dari gangguan. Pangimpas-impas digolongkan tiga jenis, dibuat di luar tubuh berupa sarana tertentu atau berupa Sasabukan, Pekakas, Gegemet, Buntilan, Pasikepan, dan benda gaib lainnya. Kemudian, Pangimpas-impas buatan yang bersifat di dalam tubuh, berupa sarana tertentu yang dimasukkan ke dalam tubuh, bisa berupa untal-untalan (ditelan)  atau dengan cara lainnya.
Semua sarana tersebut dipasupati dengan ritual tertentu, sehingga  dapat mamurti atau hidup secara gaib dan bekerja sesuai fungsinya.


Selanjutnya, ada Pangimpas-impas berupa rapalan mantra (doa-doa).Biasanya orang yang menekuni kebatinan, tidak memerlukan lagi  sarana, karena  sudah menguasainya dengan mantra untuk membentengi dirinya. Namun, bagi sebagian orang, sarana seperti ini justru digunakan untuk mendukung tingkahnya yang tidak baik. Dari awalnya tujuannya untuk tidak baik, dan dilandasi keyakinan yang berlebih, sehingga yang muncul merasa sakti, sombong karena merasa yakin dan aman untuk melakukan tindakan tidak baik. Bila itu pemahamannya, langkah yang paling bagus kalau sudah punya sarana itu, baiknya pralina atau buang jauh jauh. Harus disadari sepenuhnya bahwa manusia dilahirkan dengan karma wasana. Apapun yang dialami kini, merupakan buah dari karma di kehidupan dulu dan kini. Jadi, wajib setiap orang  untuk selalu berbuat, berada, dan menjalani hidup  di jalan Tuhan sesuai dengan agama dan keyakinannya.
Karena Pangimpas-impas sejati yang utama itu adalah keyakinan dan bhakti kepada Tuhan. Jadi, jangan harap Jimat akan berdaya sempurna kalau akhirnya untuk diajak kompromi berbuat  yang tidak baik, power Pasupatinya pasti melecut hilang, dan menunggu waktu akan mempermalukan dan bikin sial  pemakainya. Ditambahkannya, Pasikepan atau Jimat dapat menjadi bumerang bagi penggunanya, jika sang pemilik tidak merawatnya dengan benar. “Jadi, tidak boleh sembarangan kalau memiliki benda – benda niskala seperti itu. Kalau tidak bisa mengikuti aturan, justru akan jadi bencana bagi pemiliknya,” paparnya.


Bayu Gendeng mengimbau kepada masyarakat yang memiliki Pasikepan atau Jimat, namun tak sanggup untuk menjaganya, agar tidak begitu saja membuangnya. “Kalau mau dilepas harus dilebur atau dipralina. Itu pun oleh orang khusus yang memang mampu untuk meleburnya. Jika tidak, energi itu akan berubah negatif dan balik menyerang si pemilik,” tukasnya.


Hal senada juga dijelaskan Sulinggih serta dosen Institute Hindu Dharma (IHDN) Denpasar, Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda. Menurutnya, penggunaan Pasikepan dalam tradisi dan budaya Bali merupakan hal yang lumrah. “Pasikepan itu kan sebenarnya bekerja dalam ranah sugesti,” ujarnya.


Dijelaskannya, Pasikepan yang saat ini masih mengakar dalam kepercayaan masyarakat, umumnya Pasikepan atau Jimat yang berfungsi untuk meningkatkan kepercayaan diri.
Untuk urusan ini,  Ida Pandita mengimbau kepada masyarakat agar lebih bijak. “ Pasikepan itu bekerja kan karena adanya sugesti dari penggunanya. Jadi dia peracaya. Karena percaya, akhirnya dia berani dan yakin. Karena yakin akhirnya kepercayaan dirinya tumbuh dan semua yang dia inginkan bisa tercapai,” paparnya.


Di tempat terpisah Jro Mangku Agni Baradah dari Karangasem mengatakan, saat ini Pasikepan tidak terlalu populer karena disebabkan oleh produk dari Pasikepan itu tidak lagi diyakini atau memang Pasikepan itu tidak bertuah.


Ditambahkannya, Pasikepan pada dasarnya dalam lontar disebut sesikep yang berarti yang tingkah laku yang baik akan membawa manfaat. "Jadi, seseorang yang membawa Pasikepan haruslah mempunyai pola tingkah laku yang baik," urai Jro Mangku Agni.


Lantas, perlukah seseorang membawa Pasikepan? "Bagi yang rasa percaya dirinya kurang, maka Pasikepan sangat perlu dibawa agar rasa percaya dirinya semakin tumbuh dan kuat. Namun, jika percaya diri kuat, dewasa dalam bersikap dan lainnya, Pasikepan tidak perlu, sebab Pasikepan memadukan dua hal, yakni keyakinan si pembawa dan kehebatan si pembuat," bebernya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia