Minggu, 26 Sep 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Tiga Nabe Pilihan dalam Diksa Sulinggih

22 September 2018, 09: 39: 56 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tiga Nabe Pilihan  dalam Diksa Sulinggih

I Ketut Sandika S.Pd.,M.Pd (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Seorang calon Sulinggih sebelum didiksa harus memilih tiga Nabe yang dianggap nyambung dengan keterikatan batin. Di sisi lain,  seorang Nabe juga harus cermat menerima Nanak atau anak rohaninya.

Peneliti budaya I Ketut Sandika S.Pd.,M.Pd menjelaskan, diksa adalah ritus pentasbihan untuk menjadi orang suci dalam tradisi Hindu, baik melalui ritual dan laku yang hendaknya dilalui bagi calon sang diksita.

Baca juga: Sebelum Bertugas, Bupati dan Wabup Gianyar Natab Segehan Agung

Pada dasarnya, lanjut dosen Ilmu Yoga dan Kesehatan IHDN Denpasar ini, siapa pun diperbolehkan Madiksa sebagai sebuah proses penyucian diri. "Diksa dalam konteks menjadi Sulinggih sejatinya sangat berat, sebab sang calon mesti melewati liturgi atau tahapan ritual dan penggemblengan spiritual yang mapan, sehingga ia pantas menyandang sang Dwija, yakni orang yang terlahir kedua kalinya. Lahir pertama dari rahim ibu, dan lahir kedua dari rahim Sang Nabe atau guru rohani," beber penulis buku Tantra ini kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di Denpasar, kemarin.


Ditambahkan Sandika, dalam tradisi aguron-guron, sang calon Diksita atau yang akan menjadi Sulinggih, hendaknya memilih tiga Nabe yang utama, yakni Nabe Napak, Nabe Waktra, dan Nabe Saksi. Dalam proses memilih Nabe pun bukanlah perkara mudah, sebab melalui Ala-Ayu Nunggal, yakni ada ikatan batin yang kuat antara calon Diksita degan Nabe. Oleh karena itu, bagi calon Diksita diperkenankan mengunjungi beberapa Nabe untuk berdiskusi dan 'nyambung rasa'. Dan, jika tidak ada rasa itu (nyambung rasa), diperkenankan memilih Nabe yang lain. Nabe pun demikian, sangat memerlukan kecermatan untuk menerima Nanak atau Anak Rohani, sebab apapun nantinya Sang Nabe yang bertanggung jawab terhadap segala kemungkinan terburuk sekali pun.

Dijelaskan pria ysng baru saja meluncurkan buku Siwa Tattwa ini, Nabe Napak memiliki fungsi sebagai Napak ketika prosesi Diksa dan ketika dipandang sang calon siap secara jasmani dan rohani. Kemudian Nabe Waktra adalah guru yang bertugas mengajarkan sesana kawikon, stawa stuti, puja mantra, bebantenan, wariga, tattwa, patanganan, ngabajra, dan lainnya. Sedangkan Nabe Saksi bertugas menyaksikan ketika prosesi Diksa. Nabe Saksi juga bertugas mengawasi tindak tanduk sang calon, dan berhak ketiga Nabe membatalkan padiksan, jika dirasa calon Diksita belum cukup, baik dari segi kemampuan, kecakapan, dan terpenting adalah sesana kawikon.

Jadi, ketiga Nabe memiliki peran penting dalam mengandung Nanaknya agar nanti embas atau terlahir benar-benar menjadi Pandita Sista. Tentunya dalam menggembleng calon Nanaknya Nabe hendaknya menerapkan apa ucap sastra, seperti Siwa Sesana, Wreti Sesana, Silakramaning aguron-guron, dan semua teks itu adalah memuat Sesana Kawikon atau etika menjadi seorang Wiku Sista. "Memegang sesana inilah yang menyebabkan banyak oknum Sulinggih yang gagal, dan banyak harus Dipanten atau diputihkan oleh Sang Nabe, sehingga ia menjadi Walaka kembali dan gelar sulinggihnya diletakkan kembali," urai pria yang juga dosen IKIP PGRI Bali ini.

Lantas, apakah ketika dipanten orang tersebut dipandang berdosa, hina dan rendahan dari kualitas moral? Tentu tidak. Nabe masih memberikan kesempatan untuk menempa dirinya dalam kehidupan yang yang lebih matang. Memberikan kesempatan untuk belajar banyak hal, memberikan pula seluas-luasnya untuk menyelami kehidupan lebih dalam. Ketika sudah waktunya dan ketika dirasa sudah siap, ia diperkenankan kembali Madiksa untuk menjalani hidupnya menjadi Wiku. "Mengabdi pada dharma tidak mesti menjadi seorang Sulinggih, ia yang Chandalapun bisa menjadi bajik dan bijak, ketika ia menyadari dirinya sebagai manusia yang tidak luput dari noda dan papa," ulasnya.

Dikatakannya, banyak Wiku dalam susastra suci yang pernah melakukan kesalahan, seperti Rsi Wiswamitra yang tergoda dengan Menaka. Rsi Durwasa yang sukanya marah-marah, Rsi Walimiki adalah Ratnakara dulunya perampok yang sadis. Bagaimanapun, Wiku adalah manusia, dan pastinya memiliki kesalahan. "Dipanten atau meletakkan kasulinggihannya ketika melakukan kesalahan besar adalah pertanda ia  bijak dan berbesar hati menerima semua konsekuensi atas kesalahannya. Dan, justru itu disebut Brahmana Jati, sebagaimana Wiku adalah Siwa Sekala, dan Beliau ada dalam telengin hati," papar Sandika.

Ditekankannya, menjadi Sulinggih melalaui ritus  hanyalah sebuah simbolik penyucian, dan Sulinggih sebenarnya dapat menempatkan Siwa dalam dirinya.  "Orang yang akan menjadi Sulinggih semestinya membutuhkan kesiapan jasmani dan rohani, jika berkeinginan untuk menjadi pelayan umat dan abdi dharma secara komunal. Sebab, menjadi Sulinggih adalah ikon umat dan dharma, sehingga benar-benar menjadi Wiku yang Dwija dan Sista, jangan sampai menjadi Wiku Ceda," pungkasnya.

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP