Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Features

Membantu Ribuan Kehidupan Baru, tapi Tak Bisa Menolong Diri Sendiri

Selasa, 02 Oct 2018 08:47 | editor : I Putu Suyatra

Membantu Ribuan Kehidupan Baru, tapi Tak Bisa Menolong Diri Sendiri

PANGGUNG: Simpen yang menjadi bidan saat pementasan 11 Ibu, 11 Panggung, 11 Kisah, di rumahnya di Banjar Dinas Labak, Desa Anturan, Minggu (30/9) malam lalu. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Pementasan 11 Ibu, 11 Panggung, 11 Kisah, terus berlanjut. Aksi  yang dilakukan di rumah Ketut Simpen di Banjar Dinas Labak, Desa Anturan, Minggu (30/9) malam lalu, merupakan pementasan yang keenam. Kali ini, Ni Ketut Simpen yang notabene berprofesi sebagai seorang bidan senior, ditantang menjadi seorang aktor pementasan teater.

Simpen mementaskan naskah berjudul ‘Ribuan Kelahiran Baru di Tanganku’. Naskah tersebut ditulis sekaligus disutradarai oleh Kadek Sonia Piscayanti.

Pada pementasan tersebut, Simpen menceritakan awal kisah hidupnya hingga menjadi seorang bidan. Simpen adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara. Semasa kecil ia harus mengasuh anak dari kakak-kakaknya. Ia harus tinggal berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, mengikuti kakak-kakaknya.

Simpen kemudian masuk ke sekolah perawat dan melanjutkan belajar sebagai seorang bidan di Surabaya. Pada tahun 1977 ia dinyatakan lulus dan berhak membuka praktek bidan. Selama 41 tahun ia telah menolong ribuan kehidupan baru lewat proses persalinan.

Ironisnya, Simpen seolah tak mampu menolong dirinya sendiri. Pernikahannya diterjang prahara. Seringkali Simpen menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. “Tahun demi tahun, penderitaan demi penderitaan. Kekerasan demi kekerasan. Aku tak mampu menolong diriku sendiri,” kata Simpen saat melakukan pementasan.

Dalam kondisi yang benar-benar putus asa, Simpen sempat berpikir mengakhiri hidupnya. “Aku merobek-robek bajuku sendiri. Aku tak kuat. Aku ingin membunuh diriku sendiri. Ibu, aku berdosa padamu ibu,” ujar Simpen dengan penuh ratapan.

Rasa putus asa itu benar-benar membuat Simpen dalam kondisi tertekan, terpuruk, dan putus asa. Namun, dalam rasa putus asa itu, Simpen menemukan jalan. Ia memutuskan memulai kehidupan baru, membuka langkah baru, lahir sebagai pribadi yang baru.

Meski baru pertama kali menjajal panggung teater, Simpen berhasil melakukan pementasan dengan baik. Tak sedikit penonton yang terisak haru menyaksikan pementasan tersebut.

Sutradara pementasan, Kadek Sonia Piscayanti mengatakan, project 11 Ibu, 11 Panggung, 11 Kisah, merupakan tonggak bagi dirinya mengembangkan teater dokumenter. Bagi Sonia, menulis naskah teater dokumenter adalah tantangan tersendiri. Ia merasa harus menjadi 11 ibu untuk memaknai nilai di balik kisah.

Tantangan utamanya adalah membuat jarak antara subjektivitas sebagai perempuan dan objektivitas sebagai penulis. Tantangan ini kemudian disikapi Sonia sebagai proses yang harus dilalui.

“Kuncinya adalah kepercayaan sebagai tim dan komitmen belajar mendengarkan. Para ibu adalah pejuang hebat. Mereka sudah menjadi aktor di hidupnya sendiri. Saya percaya sekecil apapun kisah bisa dibagi dan nilainya bisa dipelajari,” ucap Sonia.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia