Senin, 10 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Features

Cerita Gede Sudarsana Jadi Sopir Ambulans Pengawal RI 1 Turun Temurun

05 Oktober 2018, 20: 47: 01 WIB | editor : I Putu Suyatra

Cerita Gede Sudarsana Jadi Sopir Ambulans Pengawal RI 1 Turun Temurun

TURUN TEMURUN: I Putu Gede Sudarsana menjadi sopir ambulans pengawal RI 1, mewarisi pekerjaan dari kakek dan pamannya. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, JIMBARAN - I Putu Gede Sudarsana, 35, yang tinggal di Dalung, Badung ini seperti mendapat anugerah turun temurun. Lantaran profesinya sebagai sopir ambulans RSU Sanglah yang sudah lama digeluti mengantarkannya menjadi salah satu sopir RI 1 yakni Presiden RI jika sewaktu - waktu ada agenda kunjungan ke Bali. Tak tanggung - tanggung Sudarsana pun pernah menyopiri ambulans yang tergabung dalam barisan VVIP ini hingga ke NTT.

"Iya dipilih dari rumah sakit. Karena mungkin dilihat kebersihan ambulans. Kami kan ndak tahu seleksinya. Dipilih dari rumah sakit," ungkapnya kepada koran ini Jumat (5/10) di Jimbaran.

Pihaknya menceritakan bahwa bermula dari kakeknya yang bernama I Nyoman Redji yang juga menjadi sopir Ambulan VVIP jamannya Presiden Soeharto, Megawati dan Abdurrahman Wahid alias Gusdur.

Kemudian dilanjutkan oleh pamannya yang bernama Wayan Budayasa yang kerap ikut mengawal barisan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga kini kepercayaan itu dipegangnya sejak tahun 2006 lalu. Sedangkan Sudarsana sendiri mulai bisa nyetir mobil sejak kelas 2 SMA.

"Saya sering dijuluki ambulans keluarga. Oleh orang POM orang Kesdam itu sering dipanggil Ambulans keluarga mana. Orang dari kakek, paman hingga saya cucunya," ungkapnya sambil tertawa.

Laki - laki INI beruntung mampu menyisihkan pesaing lainnya yang notabene merupakan sopir ambulans senior sejak setahun kerja di RSU Sanglah.

Berbagai tes kesehatan dan berbagai training diikutinya. Di antaranya training Life Support, RJP, Bantuan Hidup Dasar (BHP), dan Paramedik Dasar secara berkala. Pun training DVI dan Radioaktif di Korps Brimob Tohpati juga pelatihan sopir pun dari Polda Bali.

"Suka dukanya asyik sih. Asyik ngawal, sempat jalan - jalan. Dukanya kadang-kadang di lapangan nggak dapat nasi. Sekarang dah tahu, ya menikmati saja," ungkapnya.

Pihaknya masih ingat betul pertama kali menjadi sopir ambulan VVIP, tak tahu mobil pembawa kotak nasi yang kerap diberi kode Kotak Senyum. Bahkan jika tidak paham kondisi ini, bisa saja seharian harus menahan lapar. Lantaran pihaknya sempat mengalami hal tersebut. Harus menahan lapar seharian hingga merasa pusing.

“Dengan membawa nama rumah sakit itu kebanggaan saya. Pokoknya kami lega bisa melayani orang nomor satu gitu lo. Walaupun jaraknya mungkin lagi enam orang gitu. Kawalannya itu,” lanjutnya.

Sedikit berbagi pengalaman, dengan tugas yang sering diembannya saat rombongan Jokowi datang saat itu di Pullman Kuta. Sudarsana merasa bangga lantaran Jokowi menyapanya. "Mobil ambulans itu dah makan belum?" kata Sudarsana menirukan pertanyaan Jokowi.

Terkait dengan kecepatan mobil ambulans yang dikendarainya saat pengawalan, Sudarsana menyampaikan bahwa itu tergantung pengawalan VVIP di bagian depan. Jika bagian pengawalan depan kencang, maka kecepatan bisa mencapai 80 bahkan pernah 100 kilometer perjam.

"Kalau presiden kan sudah bawa dokter pribadi. Nah, kami ditunjuk oleh Kemenkes untuk membawa ambulansnya," ungkapnya.

Pihaknya mengaku kesiapan saat mengawal VVIP ini tidak ada bedanya dengan kesiapan kerja biasa. Hanya jika kemungkinan akan menginap, Sudarsana sudah menyiapkan lap kanebo kesayangannya.  

Tentunya ambulans VVIP ini modelnya mini ICU, dengan 5 personel yang terdiri dari dokter spesialis jantung dan spesialis anestesi serta perawat. 

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia