Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Menepis Mitos, Mengurai Makna Banten Saraswati

06 Oktober 2018, 10: 21: 48 WIB | editor : I Putu Suyatra

Menepis Mitos, Mengurai Makna Banten Saraswati

BALI EXPRESS, DENPASAR - Dalam banten Saraswati terdapat daun Bingin (Beringin) dan jajanan yang dibentuk menyerupai cicak dan Ongkara yang harus dimakan saat Banyupinaruh. Ada mitos jika seseorang memakan jajan tersebut akan menjadi pintar. Benarkah?

Hal terpenting dalam prosesi perayaan Hari Saraswati adalah sarana bantennya. Karena dalam banten Saraswati terdapat Jaja (Jajan) Sesamuhan perlambang hadirnya Tuhan sebagai  yang mahatahu dan ia yang mahasuci. Jajan Sesamuhan yang umumnya berbentuk Cicak dan Ongkara ini dibuat dari adonan tepung beras dan ketan yang dicampur air dan dibentuk sedemikian rupa.

Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia, Bali,  Prof I Gusti Ngurah Sudiana menjelaskan, Jajan Sesamuhan atau yang biasa disebut Jajan Saraswati merupakan sentral atau inti dari perayaan Hari Saraswati. “Biasanya ada dua jenis banten Saraswati, yaitu banten Sibakan dan banten Suci Bungkulan,”terangnya kepada Bali Express, kemarin. Jajan Saraswati merupakan lambang dari Dewi Saraswati sebagai manisfestasi Tuhan dalam wujud ia yang mahatahu, dan sumber dari Ilmu Pengetahuan. “Coba perhatikan pada Jajan Saraswati ada bentuk dua Cicak.  Bahkan kadang ada juga yang membentuknya lengkap dengan telur dan sarangnya. Kedua Cicak itu adalah simbol purusa dan pradana, hitam dan juga putih. Artinya, Ilmu Pengetahuan apapun bentuknya selalu suci, selalu benar, hanya saja kita manusia yang belum tentu menggunakannya sebagai tujuan baik. Bisa juga diartikan bahwa lewat Ilmu Pengetahuan kita bisa mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk,” jelasnya.

Selain itu, Cicak dalam kepercayaan kuno juga diyakini sebagai lambang kepekaan spiritual yang alami. “Cicak dalam kepercayaan lama dianggap sebagai perantara doa. Jika seseorang berdoa dan Cicak berbunyi, konon akan dikabulkan, itu mitosnya. Tapi, secara filosofi Cicak dalam banten Saraswati dianggap sebagai motivasi agar kita semua mengasah kepekaan spiritual kita, diantaranya  dengan cara meditasi dan rajin sembahyang. Dengan cara seperti itu, beliau akan dapat menurunkan Ilmu pengetahuannya,” terangnya.

Selain bentuknya yang unik, Jajan Saraswati juga memiliki warna putih yang dominan. “ Jajan Saraswati yang berbentuk Ongkara itu dasarnya putih, tapi dominannya berwarna hitam. Itu juga memiliki arti bahwa Ilmu Pengetahuan tersebut dikatakan netral. Putih dan hitam adalah warna yang netral. Jadi, tidak ada Ilmu Pengetahuan yang salah. Yang ada hanyalah bagaimana kita menggunakan ilmu itu. Jika digunakan baik, maka akan menjadi jalan kita menuju Tuhan lewat simbol ongkaranya itu,” jelasnya.
Selain Jajan Saraswati, ada juga pelengkap lainnya, yaitu daun Beringin. Menurutnya, daun Beringin berarti suci.

“Biasanya daun Beringin ini akan diselipkan di telinga ketika natab banten Saraswati pada hari Banyupinaruh. Fungsinya bahwa setelah menjalani Tapa Brata Saraswati diharapkan kita kembali suci. Pikiran dan penerapan Ilmu Pengetahuan kita menjadi lebih suci,” terangnya. Ia juga menegaskan, mitos tentang jika menggunakan daun Bingin dan memakan Jajan Saraswati dianggap bisa menjadi pintar secara instan, adalah anggapan yang salah. “Tidak ada cerita begitu. Baru makan Jajan Saraswati lalu mendadak pintar. Saya tegaskan, kalau mau pintar ya harus belajar dan diimbangi dengan berdoa,” tegasnya.


Ia juga menjelaskan, banten Saraswati umumnya dibuat dalam bentuk Tamas kecil yang sederhana. Beberapa bahan yang digunakan  adalah Tamas, daun Beringin, daun Cemara, Jajan Saraswati atau  Sesamuhan atau Cacalan, Sumsum,  Pisang, Tebu, Tape, Jajan Uli, Jajan Begina, Rasmen, Celemik, Sampian, Sesayut dan Panyeneng kecil. Dalam Tamas itu biasanya ditanding dengan dua buah Pisang, Tebu atugelan, Begina dan Uli. Di bagian bawah diisi dengan daun Cemara celemik atau Ituk ituk yang diisi daun Beringin yang salah satunya diisi Bubur Sumsum sedikit. Lalu, bagian paling atas ditanding Jajan Saraswati dan diisi dengan Segehan Kober, kemudian diisi Rasmen, Panyeneng, dan Sampian Sesayut.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia