Jumat, 18 Jun 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Raja Sewala Titik Balik Seorang Anak Beranjak Dewasa

08 Oktober 2018, 16: 21: 45 WIB | editor : I Putu Suyatra

Raja Sewala Titik Balik Seorang Anak Beranjak Dewasa

ANAK : Sejak usia dini, ritual diadakan untuk membersihkan seorang anak dari ikutan Bhutakala yang memberikan dampak negatif. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Dalam ajaran agama Hindu, di setiap siklus hidup manusia selalu ditandai dengan upacara atau prosesi khusus. Seperti upacara Nelubulanin, Masangih hingga prosesi Ngaben. Namun, ada salah satu prosesi penting yang masih dianggap remeh dan acapkali tidak dilaksanakan adalah prosesi Raja Sewala atau prosesi Menek Kelih. Apakah prosesi ini harus dilakukan?

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dewa Brata  menjelaskan,  upacara Raja Sewala atau Menek Kelih merupakan salah satu dari ritual siklus hidup manusia di Bali. Seperti halnya siklus hidup, ada kelahiran, ada perubahan dari anak – anak ke remaja, perubahan dari remaja ke dewasa hingga prosesi kematian dan penyucian atman pun di tandai dengan prosesi ritualnya masing – masing. "Artinya, dalam hidup kita, kita harus menunaikan setiap prosesi itu paling tidak seumur hidup sekali,” jelas Dewa Brata saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group ) di sela – sela persiapan pawai budaya  untuk even IMF, pekan kemarin.

Baca juga: TNI-Polri Gelar Pasukan, 60 dari 189 Negara Peserta Sudah Datang

Upacara Menek Bajang (Kelih) atau Raja Sewala tergolong dalam upacara Manusia Yadnya. "Prosesi Menek Bajang merupakan perwujudan rasa syukur dari orang tua, bahwa si anak telah mengalami perjalanan usia secara wajar (alamiah) dan sehat dan rasa bangga memiliki anak yang telah tumbuh menjadi remaja," bebernya.


Nah, siapa yang dipuja dalam upacara ini? "Dalam kepercayaan Hindu, ketika seorang anak mengalami akil baliq, maka Sang Hyang Semara Ratih akan tedun dan menuntun si anak ke masa remaja atau pubertas. Lewat Semara Ratih inilah mereka mulai mengenal cinta, mulai ada getaran rasa dengan lawan jenis,” terangnya.


Lantas, apakah prosesi ini wajib dilakukan? Kepala Dinas Kebudayaan Bali ini menegaskan, prosesi Raja Sewala wajib dilakukan ketika seorang anak telah mengalami akil baliq. “ Ini kan sebagai ungkapan syukur kita bahwa anak tersebut berhasil tumbuh menjadi seorang remaja," terangnya. Biasanya dalam prosesi itu, lanjutnya, orang tua juga dilibatkan untuk memberikan petuah kepada anaknya agar  si anak mengerti bahwa ia telah beranjak dewasa. "Harus bisa menjaga diri, jangan sampai  melakukan hal – hal yang belum pantas dilakukan oleh seorang anak remaja,” tegasnya.


Ditambahkan Dewa Brata,  masa peralihan yang dialami si anak diyakini merupakan waktu yang tepat secara niskala untuk membantu mengubah sikap. Anak tersebut menjadi lebih dewasa, mampu bersikap waspada terhadap gangguan-gangguan yang dialami. “Ibaratnya dalam prosesi ini si anak akan dibersihkan dengan banten byakala lalu ia akan dipersiapkan secara skala dan niskala, bahwa ia sudah remaja," urainya.


Dikatakannya, menjadi remaja bukan hanya soal tumbuh dewasa, tapi pribadi yang bertanggung jawab, tidak hanya atas dirinya tetapi juga atas orang – orang di sekitarnya.


Soal  kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan upacara Raja Sewala, lanjutnya,  disesuaikan dengan desa kala patranya. “Kalau secara sastra, yang baik ketika anak tersebut usai datang bulan pertama. Tapi ada juga yang melaksanakannya pada saat hari baik. Jadi, dicarikan hari baiknya baru dilakukan upacara tersebut,” terangnya.


Ia menjelaskan, seorang anak bisa dikatakan telah akil baliq ditandai dengan perubahan bentuk fisik. “Wanita bisanya ditandai perubahan fisik mengalami datang bulan, payudara membesar, emosi mulai labil, mulai merasakan ketertarikan dengan laki – laki. Sedangkan bagi anak laki – laki akan ada perubahan fisik berupa  jakun yang membesar, pada area vital akan ditumbuhi bulu, adanya ketertarikan terhadap lawan jenis,” terangnya.


Rangkaian upacara Menek Bajang dimulai dengan mempersiapkan prasarana yang digunakan, yaitu Banten Pajati, Banten Raka untuk diletakkan di Rong Tiga (Palinggih Kemulan). Selanjutnya anak tersebut didampingi orang tua untuk sembahyang. Setelah persembahyangan selesai, pinandita atau pemangku memohon Tirta Pabersihan, Panglukatan, Prayascita, Byakala, Durmanggala, dan Tirta Pangulapan. Tirta ini digunakan untuk membersihkan sarana dan prasarana upacara dengan menyiratkan Tirta Pabersihan, Pangulapan dan Prayascita. Diawali dengan Tirta Panglukatan, Byakala, Durmanggala, Prayascita, kemudian baru Tirta Pangulapan. Kemudian dilanjutkan dengan Maprayascita  dirangkai dengan Mabyakala yang tujuannya untuk membersihkan si anak agar bersih dan suci. Dan,  Bhutakala yang  mengganggu agar  tidak  ikut serta dalam upacara berikutnya. Setelah menerima labaan (persembahan), Bhutakala tersebut diharapkan  pergi meninggalkan tempat atau orang yang bersangkutan, dan tidak mengganggu  upacara selanjutnya.

"Maksud  upacara ini  agar unsur-unsur Bhutakala yang ada pada diri si anak hilang atau pergi, sehingga badan bersih lahir dan batin," paparnya. Setelah upacara tersebut, dilanjutkan dengan sembahyang untuk Sang Hyang Semara Ratih dengan natab banten Semara Ratih. Untuk anak laki-laki menggunakan banten Raja Singa, sedangkan untuk anak perempuan menggunakan banten Sayut Raja Sewala. Tujuan dari upacara ini, lanjutnya,   agar Sang Hyang Semara Ratih berkenan menempati pada jasmani si anak yang bersangkutan, sehingga dapat berfungsi sebagai mana mestinya. "Mengatur gerak hidupnya dengan sempurna. Karena itu waktu natab atau ngayab banten tersebut, tangan diarahkan ke dada,” jelasnya.


Banten Menek Kelih atau Raja Sewala berbeda untuk anak laki – laki dan anak perempuan.  Untuk anak perempuan banten yang disiapkan adalah Pabyakala, Pajati, Prayascita,  Dapetan, dan Sesayut Tabuh Rah. Sedangkan untuk anak laki – laki justru lebih praktis, yaitu Banten Sesayut Raja Singa, Paati, dan Banten Padedarian.

(bx/tya/bay/yes/JPR)

 TOP