Senin, 22 Oct 2018
baliexpress
icon featured
Features

“Ajik… Ajik... Adi Kalahin Tiang?” Teriak Istri Dewa Yoga Histeris

Senin, 08 Oct 2018 19:48 | editor : I Putu Suyatra

“Ajik… Ajik... Adi Kalahin Tiang?” Teriak Istri Dewa Yoga Histeris

HISTERIS: Istri dan keluarga almarhum Dewa Yoga menangis histeris menyambut kedatangan abu Dewa Yoga, Senin (8/10). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, TABANAN - Isak tangis sanak saudara menyambut kedatangan abu dari jenazah I Dewa Gede Yoga Nata Kusuma saat tiba di kediamannya di Banjar Tegal Ambengan, Desa Sudimara, Kecamatan Tabanan, Senin (8/10) sekitar pukul 16.13 wita. Tak terkecuali sang istri yang histeris sambil terus memanggil-manggil nama suami tercintanya yang kini telah meninggalkan ia bersama ketiga anaknya untuk selama-lamanya.

Dari pantauan di lapangan, setelah dikremasi di Palu, abu jenazah pria yang akrab disapa Dewa Yoga, ini diterbangkan ke Bali Senin (8/10) sekitar pukul 10.00 Wita dan tiba di Bandara Ngurah Rai sekitar pukul 13.30 Wita setelah sempat transit di Bandara Juanda Surabaya.

Selanjutnya diantar menggunakan mobil Kijang Innova bernomor polisi DK 327, abu Dewa Yoga yang dibawa oleh mertua laki-lakinya, I Gusti Putu Weda tiba di kediamannya sekitar pukul 16.13 Wita. Sebelum memasuki pekarangan rumah, keluarga pun menghaturkan bebantenan di depan pintu masuk dengan abu yang masih dalam pelukan sang mertua. Sedangkan istri Dewa Yoga, I Gusti Ayu Gede Dina Karamani, 30, langsung histeris dan berteriak “Ajik...Ajik… adi kalahin tiang?” (Bapak, Bapak, Kenapa tinggalin saya? Red).

Sedangkan ibunda Dewa Yoga dan mertua perempuan berusaha menenangkan sang istri meskipun juga tak kuat menahan kesedihan karena ditinggalkan sosok Dewa Yoga yang dikenal polos.

Setelah memasuki pekarangan rumah, abu Dewa Yoga selanjutnya diletakkan di Bale Dangin. Sementara itu satu per satu saudara dan kerabat almarhum terus berdatangan untuk menyampaikan bela sungkawa sembari ikut menyiapkan upakara untuk Pengabenan almarhum.

Adik dari almarhum Dewa Yoga, Dewa Bagus Dwipa Nata Kusuma, 36, menuturkan setelah jenazah sang kakak berhasil diidentifikasi, dengan bantuan kerabatnya Dewa Made Pringga Mudawisona yang kebetulan bertugas di Satbrimob Polda Palu, pihak keluarga kemudian berembug dan memutuskan agar jenazah Dewa Yoga dikremasi di Palu.

Sebelumnya jenazah Dewa Yoga ditemukan di antara reruntuhan Hotel Roa Roa Palu pada Jumat lalu (5/10) dalam posisi memeluk bantal. Jenazah kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Palu untuk diperiksa oleh Tim DVI dan Inafis Polri. Hingga akhirnya jenazah berhasil diidentifikasi melalui data primer sidik jari, dental, dan medis sebagai Dewa Yoga dengan nomor Antemortem 0307A.

Disamping itu menurut informasi, pada saku celana almarhum juga sempat ditemukan kunci sepeda motor dan bukti transfer yang menguatkan jika jenazah tersebut merupakan jenazah Dewa Yoga.

“Kebetulan kami ada saudara yang bertugas di Satbrimob Polda Bali, namanya Dewa Pringga. Walaupun belum pernah bertemu langsung dengan kakak saya (Dewa Yoga,Red) tetapi beliau yang mengurus dan mengawal pencarian kakak saya sampai ditemukan, diidentifikasi, serah terima jenazah pun beliau yang mewakili sampai jenazah dikremasi Minggu (7/10) pukul 15.00 Wita di Palu,” papar pria yang akrab disapa Dewa Dwipa tersebut.

Namun karena Dewa Pringga tidak bisa ikut ke Bali, maka abu Dewa Yoga dibawa ke Bali oleh mertua Dewa Dwipa yang tinggal di Makassar. Dan meskipun telah ditinggalkan selama-lamanya oleh almarhum, ia dan keluarga mengaku bersyukur karena jenazah almarhum bisa ditemukan dan kini akan diupacarai sebagaimana mestinya sesuai dengan kepercayaan umat Hindu.

“Jenazah kakak saya sudah ditemukan dan sekarang abunya sudah di rumah kami sudah merasa lega dan bersyukur, jadi kami ikhlas,” imbuhnya.

Selanjutnya prosesi Pengabenan akan dilakukan Rabu (10/10) mendatang yang diawali dengan proses Ngeringkes. Pihaknya pun memohon doa agar upacara untuk sang kakak berjalan lancar tanpa halangan yang berarti.

Sementara itu, rasa kehilangan mendalam juga dirasakan oleh mertua laki-laki almarhum Dewa Yoga, I Gusti Putu Weda. Menurutnya sang menantu merupakan sosok pria yang tidak banyak bicara namun ramah dan polos. “Orangnya polos, lugu, penurut, tidak suka aneh-aneh, ya apa adanya,” ujarnya.

Ia menambahkan jika tak ada firasat apapun sebelum kepergian almarhum ke Palu, sehingga kini ia berusaha mengikhlaskan sang menantu dan berdoa agar arwahnya diterima disisi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Sebelumnya diberitakan, Dewa Yoga yang merupakan staf di Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Wilayah II Denpasar yang juga seorang atlet gateball. Almarhum berangkat ke Palu untuk mengikuti kejuaraan Nasional Gateball Palu serangkian HUT Kota Palu mewakili BPJN bersama dua orang rekannya di BPJN Denpasar dan menginap di Hotel Roa Roa Palu lantai tujuh.

Sayangnya, Jumat sore (28/9) gempa bumi disertai tsunami kemudian terjadi dan meluluh lantakan Palu, Sulawesi Tengah, sedangkan ketika itu Dewa Yoga berada didalam hotel karena sedang istirahat. Padahal dua rekannya yang berangkat bersamanya sebelum gempa sudah mengajak Dewa Yoga keluar hotel untuk makan, namun almarhum menolak dan memilih beristirahat sejenak meskipun mengaku akan menyusul rekannya. Beberapa menit kemudian gempa mengguncang kota Palu, kabar mengenai kondisi almarhum sempat simpang siur selama beberapa hari, hingga akhirnya jenazah Dewa Yoga ditemukan diantara reruntuhan hotel.

Almarhum pergi dengan meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak yang masih kecil yakni Dewa Ayu Nindia Nata Nia, 9, Dewa Gede Danendra Nata, 6, dan Dewa Bagus Nusakti Adi Nata, 1,5 tahun. 

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia