Senin, 22 Oct 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Baluri Boreh Ubun-ubun Bayi Atasi Gangguan Sekala dan Niskala

Selasa, 09 Oct 2018 08:50 | editor : I Putu Suyatra

Baluri Boreh Ubun-ubun Bayi Atasi Gangguan Sekala dan Niskala

RENTAN: Anak yang usianya di bawah tiga bulan, kondisi fisiknya rentan sakit, juga terkena gangguan niskala, sehingga perlu perlakuan khusus. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Bayi yang belum memasuki usia tiga bulan, ubun – ubunnya selalu dibaluri boreh putih. Konon bayi yang  belum Nelubulanin, rohnya masih mudah keluar dan masuk tubuhnya, karena ubun – ubun sang bayi belum mengeras dan lembek.

Penggunaan Boreh (lulur) Beras Kencur pada bayi telah dilakukan sejak berabad – abad oleh masyarakat di Bali (Hindu). Boreh, salah satu pengobatan tradisional Bali yang umumnya bersumber dari tradisi serta ilmu pengetahuan yang tercatat dalam Lontar Usada.

Salah satu praktisi Usada dan pangempon yang juga pemangku Pura Dalem Majapahit, Peguyangan, Jro Mangku Bawa mengatakan, Usada berasal dari kata 'Ausadhi' yang berarti tumbuhan yang berkasiat sebagai obat atau penyembuhan. Ausadhi merupakan bahasa Sansekerta yang bila diartikan merupakan suatu pengetahuan pengobatan yang disusun berdasarkan acuan tertentu dan digabungkan dengan pengalaman praktik pengobatan. "Salah satu jenis Usada yang hingga saat ini masih digunakan adalah Boreh yang merupakan perpaduan berbagai jenis tumbuhan berkasiat yang dilumat dan dibalurkan pada tubuh pasien," beber Jro Mangku Bawa ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin.


Dikatakannya,  penggunaan Boreh Beras Kencur pada ubun – ubun bayi secara harfiah memiliki fungsi sebagai penghangat pada bayi. “Memang di usia rentan, tepatnya sebelum tiga bulan, ubun – ubun bayi masih dalam keadaan basah atau lembek.  Leluhur kita mengajarkan agar membalurkan Boreh Beras Kencur di ubun – ubun yang fungsinya untuk menjaga tubuh bayi tetap hangat. Itu salah satu contoh usada Bali yang masih kita gunakan hingga kini,” terangnya.
Dikauinya, masih banyak masyarakat yang salah dalam mengartikan metode pengobatan tersebut. “Memang ada mitosnya, , katanya jika sang anak tidak  dibaluri Boreh ubun ubunnya,  atmannya akan bebas keluar dan masuk. Ini mitos, dan pemahaman yang keliru,” terangnya.

Boreh yang terbuat dari beras, kencur, dan garam itu dibalurkan atau terkadang disemburkan pada ubun – ubun bayi, lanjutnya, agar tubuh bayi tetap terjaga kehangatannya. “ Masalahnya bayi di usia dini umumnya sangat rentan dengan penyakit dan infeksi. Apalagi dengan perubahan cuaca, makanya leluhur kita mengajarkan untuk memproteksi bayinya dengan sarana Boreh Kencur ini,” terangnya.


Boreh Kencur dibuat dari beras, kencur dan garam yang dilumatkan dengan gilingan atau dilumatkan dengan mengunyahnya. “Memang kalau di desa – desa masih menggunakan metode maimbuh. Mereka mengunyah beras, kencur, dan garam  bersamaan, lalu menyembur anaknya dengan lumatan beras dan kencur itu. Tapi di daerah perkotaan saat ini lebih memilih menggunakan alat penggiling agar lebih higienis,” katanya.

Di sisi lain,  praktisi sekaligus penekun ajaran  Kandapat, I Made Warnawa mengatakan,  bayi yang baru lahir memang rentan mengalami gangguan secara niskala. “Kalau mitos itu memang saya pernah dengar, tapi saya tidak membenarkannya juga. Memang bayi yang baru lahir rentan mengalami gangguan secara niskala, makanya leluhur kita mengajarkan beberapa upaya penangkal seperti memasang taring ulatan daun keraras di jendela kamar bayi, mengubur ari – ari bayi , dan membaluri beras dan kencur pada ubun – ubun si bayi. Fungsinya tentu untuk menjauhkan bayi dari gangguan niskala,” terangnya. 


Dalam ajaran Kandapat, lanjut pria yang akrab dipanggil Swami ini, bayi yang baru lahir memang kerap mengalami beragam bentuk gangguan. “Coba perhatikan bayi yang belum lepas pusernya (kepus pungsed), terkadang  tertawa sendiri atau tiba tiba menangis tanpa sebab. Sebenarnya secara niskala, ia dihampiri oleh saudara Kandapatnya yang datang dalam bentuk berbeda – beda. Biasanya dalam bentuk roh halus dan lelembut,” jelasnya.


Menurutnya, kunjungan para Kandapat biasanya terjadi setelah makepus pungsed atau seminggu setelah kelahiran.  Setelah kepus pungsed  satu persatu saudara Kandapatnya akan datang. " Perwujudan Air Ketuban atau disebut juga Yeh Nyom, biasanya akan datang dengan wujud Celeng Demalung, lalu darah dalam Kandapat akan datang dengan wujud Banteng atau Kala Srenggi. Perwujudan Ari – ari akan datang menyerupai Asu Ajeg atau Anjing," urai Swami.
Kandapat yang terdiri dari Selaput Ketuban, Air Ketuban, Darah, Ari – ari, Puser, masing – masing akan berubah menjadi Asu, Banteng, Celeng, Kebo, Kidang, Menjangan Tikus, Taliwangke, dan Lutung.


Mereka secara tak kasat mata akan datang menghampiri si bayi.Terkait mitos Atman yang dapat keluar masuk dengan mudah apabila ubun- ubun tidak diberi boreh, ia tak memberi jawaban pasti. “Kalau soal itu saya tidak berani memberi jawaban, apakah benar atau tidak. Tapi yang pasti divusia tersebut, memang Atman dengan tubuh belum menyatu secara sempurna. Mengenai boreh kencur, saya melihat itu sebagai upaya pencegahan agar bayi lebih tenang dan tidak mengalami gangguan secara niskala,” tandasnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia