Senin, 10 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Kelian Dinas Patok Tarif Rp 25 Juta untuk untuk Urus Sertifikat Tanah

10 Oktober 2018, 08: 36: 00 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kelian Dinas Patok Tarif Rp 25 Juta untuk untuk Urus Sertifikat Tanah

PUNGLI: Terdakwa I Nyoman Wirawan alias Komang Bilawa tiba di Pengadilan Tipikor Denpasar untuk menjalani sidang pertama. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Oknum Kelian Dinas Banjar Buahan, Desa Buahan, Payangan, Gianyar, atas nama I Nyoman Wirawan alias Komang Bilawa, 33, kemarin siang (9/10), menjalani sidang pertamanya atas dugaan kasus pungutan liar atau pungli terkait proses pembuatan sertifikat tanah sporadik.

Sidangnya digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Denpasar dengan majelis hakim yang diketuai Hakim Angeliky Handajani Day. Sidang perdana itu diisi dengan agenda pembacaan surat dakwaan oleh jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Gianyar.

Oleh Jaksa Putu Iskadi Kekeran, Komang Bilawa yang tertangkap dalam operasi tangkap tangan atau OTT Tim Saber Pungli Polres Gianyar itu didakwa dengan melakukan pungli.

Akibat perbuatannya itu, terdakwa diancam dengan dua pasal dalam Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau Tipikor yang telah diubah dan ditambah dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001.

Dalam dakwaan kesatu, dia diduga melakukan tindak pidana seperti diatur dan diancam dalam Pasal 12 huruf e. Sementara di dakwaan kedua, dia diduga melakukan tindak pidana sebagaimana ketentuan Pasal 11.

“Bahwa terdakwa dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain, secara melawan hukum atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya, memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran dengan ptoongan atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri,” ujar jaksa  saat menguraikan bagian awal dari dakwaan kesatu terhadap Komang Bilawa.

Perbuatan terdakwa itu terjadi pada 18 Juli 2018 lalu di rumahnya sendiri, di Banjar/Desa Buahan, Payangan. Gianyar. Saat itu dia dalam posisi ditangkap Tim Saber Pungli Polres Gianyar setelah menerima uang senilai Rp 10 juta yang dimintanya dari saksi Ni Made Wirani alias Nuasih.

Saksi tersebut kebetulan warga Banjar Buahan yang sejak beberapa bulan sebelumnya sedang berusaha mengurus sertifikat dua bidang tanah. Yakni sebidang tanah sawah di Banjar Buahan seluas 8.350 meter persegi. Serta sebidang tanah tegalan di banjar yang sama dengan luas 24.300 meter persegi.

“Berawal pada 5 Mei 2018, saksi Ni Made Wirani alias Nuasih bersama adiknya, saksi  Komang Triyasa Suryana, bermaksud mengurus sertifikat tanah milik orang tua saksi atas nama I Nyoman Sandra,” ungkap

Saat itu, saksi membawa dua bendel berkas surat pengajuan sertifikat ke rumah terdakwa. Mulai dari silsilah keturunan dari kakek saksi, surat pernyataan penguasaan fisik bidang tanah, surat penyataan penguasaan fisik bidang tanah sporadik, surat keterangan kepala desa/lurah tentang penguasaan fisik bidang tanah, surat akta pembagian waris, dan surat keterangan ahli waris.

Tiga hari kemudian atau pada 8 Mei 2018, terdakwa kemudian mengirimkan pesan singkat kepada saksi untuk meminta datang ke rumahnya. “Gimana kabarnya mbok. Ada waktu sekarang. Pulang ke rumah untuk bicara sebentar, tapi jangan bilang sama kades,” ungkap jaksa mengutip isi pesan singkat terdakwa kepada saksi saat itu.

Namun, saksi baru bisa datang dua hari berikutnya atau pada 10 Mei 2018. Saksi awalnya mengira berkas-berkas yang dibawanya sudah ditandatangani terdakwa. Tetapi kenyataannya, itu belum juga dilakukan terdakwa. Malah sebaliknya, terdakwa mengatakan bahwa permohonan tanda tangan untuk pengurusan sertifikat yang diajukan saksi dikenakan biaya sebesar Rp 25 juta.

Saksi kaget dengan nilai yang dikenakan kepadanya itu. Bahkan sempat menanyakannya kepada terdakwa. Namun, terdakwa menyebutkan bahwa itu lumrah untuk permohonan tanda tangan kelian banjar.

Tawar-menawar pun terjadi. Sampai akhirnya terdakwa bersedia menurunkan nilainya menjadi Rp 20 juta. Namun, saksi tidak langsung menyerahkannya. Karena saat itu dia sedang tidak memiliki uang senilai yang diminta terdakwa.

“Saksi meminta pembayaran ditunda dan memohon agar berkasnya ditandatangani. Tapi terdakwa tetap menolak menandatangani berkas dengan alasan terdakwa pernah mengurus yang sama dan dijanjikan sejumlah uang tapi tidak ditepati,” ujar jaksa melanjutkan isi dakwaan kesatu.

Singkat cerita, komunikasi terdakwa dengan saksi terus dilakukan. Bahkan, saksi diminta untuk mengambil berkasnya dan mengatakan agar mengusahakan dana seberapapun yang sedang dimiliki saksi saat itu. “Berapa dulu bisa bantu. Surat mbok supaya tidak lama diam di rumah,” imbuh jaksa mengutip pesan singkat terdakwa kepada saksi. 

Puncaknya, 23 Mei 2018, saksi yang belum punya uang senilai yang diminta terdakwa menyatakan pasrah. Seandainya memang terdakwa tidak bersedia menandatangani berkas-berkas yang diajukannya tersebut.

Namun pada 18 Juli 2018, saksi kembali diminta datang ke rumah terdakwa untuk mengambil berkasnya. Setelah diteliti, ternyata ada beberapa berkas yang belum ditandatangani terdakwa. Saksi pun bertanya kembali, berapa biaya yang harus dia bayar. Dan terdakwa kembali menyebutkan nominal Rp 25 juta, kemudian dikurangi menjadi Rp 20 juta. Sementara saat itu saksi hanya membawa uang Rp 10 juta yang dibungkus dalam amplop putih.

Uang itu kemudian diterima terdakwa. Saksi pun pulang ke rumah. Namun di tengah jalan, saksi didekati Tim Saber Pungli Polres Gianyar untuk mendapatkan informasi terkait terdakwa. Hari itu juga, Tim Saber Pungli Polres Gianyar menuju rumah terdakwa dan melakukan penggeledahan. Hasilnya, petugas menyita satu amplop putih berisi uang Rp 10 juta dan ponsel milik terdakwa.

Menanggapi dakwaan tersebut, pihak Bilawa yang didampingi penasihat hukumnya I Ketut Dodik Arta Kariawan menyatakan tidak keberatan. Sehingga pihak terdakwa berkenan melanjutkan agenda sidang dengan pembuktian. Hanya saja, pihak penuntut umum belum siap menghadirkan saksi. Sehingga sidang baru akan dilanjutkan pada minggu depan.

(bx/hai/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia