Senin, 22 Oct 2018
baliexpress
icon featured
Bisnis

Indonesia Tak Perlu Pinjaman IMF, Ini Alasannya

Rabu, 10 Oct 2018 20:13 | editor : I Putu Suyatra

Indonesia Tak Perlu Pinjaman IMF, Ini Alasannya

PERTEMUAN: Direktur Pelaksana Christine Lagarde (kiri) bersama Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati dalam Digital Economy Brings Economic Growth Rabu (10/10) di Nusa Dua. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, NUSA DUA - Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen pada semester I tahun 2018, kondisi perekonomian Indonesia dinilai sangat baik. Bahkan saat ini Indonesia tidak membutuhkan bantuan dana atau pinjaman dana dari Dana Moneter Internasional (IMF). Demikin diungkapkan Direktur Pelaksana Christine Lagarde Digital Dalam forum diakusi Economy Brings Economic Growth Rabu (10/10) di Nusa Dua.

Lagarde mengatakan bahwa manajemen ekonomi Indonesia saat ini telah dilakukan secara optimal melalui koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia dan pihak-pihak terkait. "Pinjaman dari IMF bukan pilihan, karena ekonomi Indonesia tidak membutuhkannya," tegasnya.

Bukti dari kuatnya kondisi perekonomian Indonesia dikatakan Lagarde dapat dilihat dari tetap terselenggaranya Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Bali meskipun Pulau Lombok dan Kota Palu dilanda bencana hebat beberapa waktu lalu.

Jika seandainya ada pembatalan, maka diakuinya akan bisa menghilangkan peluang untuk menunjukkan kontribusi Indonesia kepada dunia dan menciptakan peluang dan pekerjaan. "Membatalkan Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia bukan pilihan karena akan menyia-nyiakan sumber daya yang ada telah dianggarkan selama tiga tahun terakhir," tambahnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, mengatakan dengan kondisi perekonomian saat ini, Pemerintah Indonesia tidak memiliki niat untuk meminjam dana ke IMF. "Keterlibatan Indonesia sebagai anggota IMF merupakan bagian dari dinamika sebagai bagian dari warga dunia, tidak untuk meminjam dana. Saat ini perekonomian dunia sedang dalam penyesuaian, namun tidak secara langsung membuat Indonesia dalam kondiai krisis sehingga membutuhkan pinjaman," jelasnya.

Selain fokus menjaga pertumbuhan ekonomi, saat ini dilanjutkan Menteri Sri Mulyani, Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan kualitas human capital, yang meliputi kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial dan kesetaraan gender, dalam beberapa kebijakan strategis, antara lain, bidang pendidikan, pemerintah percaya bahwa masyarakat teredukasi akan memiliki produktivitas yang lebih tinggi.

Edukasi akan membuat mereka dapat meningkatkan potensi pendapatan dan berkontribusi meningkatkan pertumbuhan kalangan menengah. "Karena itu, pemerintah juga telah mengalokasikan 20 persen dari APBN 2018 di bidang pendidikan yaitu sebesar Rp 444 triliun," tambahnya. 

(bx/gek/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia