Senin, 22 Oct 2018
baliexpress
icon featured
Kolom

Guru, Pintu Terdepan di Kalangan Siswa Dalam Menangkal Berita Hoax

Oleh: Pande Made Parwatha*

Kamis, 11 Oct 2018 08:00 | editor : I Putu Suyatra

Guru, Pintu Terdepan di Kalangan Siswa Dalam Menangkal Berita Hoax

Ilustrasi (ISTIMEWA)

KEMAJUAN teknologi informasi ( TI ) di Indonsia saat ini banyak mengalami perubahan. Dewasa ini  orang lebih akrab dengan sosial media sebagai sarana mendapatkan sumber dan menyebarkan informasi. Melalui sosial media sebuah informasi akan cepat menyebar hingga ke seluruh penjuru negeri. Sosial media diakui telah mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi apapun yang diinginkannya.Penggunaan sosial media sering menimbulkan tindak kejahatan di antaranya penipuan,  penculikan, dan bahkan pencemaran nama baik seseorang, instansi, atau lembaga.  Sering dijumpai sebuah berita yang isinya menyudutkan seseorang ataupun menyebarkan berita bohong yang dikenal istilah berita hoax. Berita hoax biasanya dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang dengan tujuan akan menciptakan kekacauan atau hanya mencari sensasi agar terkenal.

Saat ini  informasi hoax mudah tersebar di berbagai media. Kondisi tersebut juga dialami oleh para siswa sebagai salah satu konsumen pembaca. Tidak sedikit siswa menjadi korban berita hoax karena mereka belum bisa memilah mana berita yang benar, dan mana berita yang salah. Terjadinya perkelahian antarpelajar dalam satu sekolah dan tawuran antarsekolah  dimungkinkan karena adanya berita hoax. Berita yang tidak jelas sumbernya dan kebenarannya ternyata telah meresahkan guru maupun siswa. Oleh sebab itu, maraknya berita hoax dapat menimbulkan dampak negatif bagi siswa, karena itu menjadi tanggung jawab  semua pihak  terutama penyelenggara pendidikan.

Guru adalah salah satu unsur dalam penyelanggara pendidikan. Peran guru dalam menangkal dan mengantisipasi berita hoax terhadap siswa mutlak dibutuhkan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran guru harus mampu menyelipkan himbauan tentang bahaya berita hoax. Selain itu, penanaman pendidikan karakter pada siswa juga harus diperkuat. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengantisipasi berita hoax.Yang pertama, mengajari siswa untuk mengidentifikasi berita yang termasuk hoax atau bukan. Yang kedua, mengajak para siswa untuk tidak begitu saja percaya pada berita hoax. Selain itu, mengajak siswa mencari referensi lain dari situs online dan membandingkan isinya.Mengapa siswa perlu dikenalkan dan diajari cara mengantisipasi berita hoax? Kenyataan menunjukkan bahwa berita hoax sering menimbulkan dampak negatif. Ada beberapa dampak negatif dari dari berita hoax, yakni  merugikan pihak tertentu, menimbulkan reputasi buruk terhadap seseorang maupun sebuah produk,   menyebarkan fitnah yang dapat merugikan seseorang yang difitnah.  

Hal ini sering terjadi ketika seseorang membaca sebuah berita yang sedang viral dan ada petunjuk untuk share  kepada pihak lain tanpa diteliti terlebih dahulu kebenarannya. Hal ini sangat berbahaya dan akan merugikan pihak tertentu dan menciptakan  kesan  yang jelek terhadap seseorang atau produk suatu barang. Selain reputasi buruk yang yang harus diterima oleh seseorang maupun produk barang, melalui berita hoax yang telah tersebar pada hakikatnya telah menciptakan sebuah  fitnah.Dengan dampak hoax yang demikian besarnya tersebut, sudah saatnya masyarakat waspada dan segera mengambil sikap untuk mengurangi penyebaran hoax. Pemblokiran pada situs yang diduga memiliki unsur hoax merupakan langkah awal yang harus dilakukan. Juga perlu dilakukan edukasi pada jurnalis dan masyarakat. Gerakan untuk melek berita hoax perlu dikumandangkan kepada segenap lapisan masyarakat secara konsisten dan berkesinambungan terutama di kalangan siswa yang sangat rentan terhadap berita hoax.

Cara mengedukasi siswa untuk memerangi hoax  di antaranya guru lebih intensif mengawasi siswa dalam menggunakan media sosial. Selain itu, guru mengajarkan cara penggunaan medsos  secara cerdas dan bijak. Penggunaan medsos secara cerdas perlu diajarkan kepada para siswa sangat penting, sebab mereka masih perlu bimbingan agar tidak terpengaruh dengan informasi menyesatkan. Bimbingan ini diharapkan mampu menstimulan kecerdasan siswa terhadap penggunaan medsos.Harus diakui di era teknologi informasi sangat sulit mencegah atau menutup-nutupi penggunaan media sosial  di kalangan siswa, sebab dampaknya bisa memicu mereka untuk lebih mengetahuinya secara diam-diam yang bisa berujung pada salah penggunaan. Secara psikologi usia mereka pada tahap keingintahuannya sangat tinggi.

Jika para guru dan siswa sudah mampu membedakan berita hoax  atau bukan, maka lambat laun hoax pasti dapat dilumpuhkan. Guru dan siswa serta keluarga dapat membuat group atau komunitas untuk kegiatan diskusi antihoax. Oleh karena itu,  siswa harus diajarkan dan diberi pemahaman tentang penggunaan media sosial, serta tidak mudah mempercayai informasi-informasi menyesatkan. Ada kegiatan yang dapat dijadikan sebagai salah satu memerangi dampak berita hoax yakni kegiatan pendidikan literasi sekolah.  Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan siswa yang cerdas dan kritis, serta mampu membuat penilaian terhadap konten media hingga akhirnya mampu membedakan mana media yang baik dan buruk. (*)

*) Guru SMKN 1 Abang

(bx/ima/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia