Senin, 10 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Balinese
Sekaa Roban Tenganan

Simbolisasi Ibu Pertiwi yang Selalu Penuhi Kebutuhan Anak-anaknya

11 Oktober 2018, 09: 56: 48 WIB | editor : I Putu Suyatra

Simbolisasi Ibu Pertiwi yang Selalu Penuhi  Kebutuhan Anak-anaknya

SIBUK : Sejumlah Ibu yang tergabung dalam Sekaa Roban punya tugas khusus, saat prosesi Aci Katiga di Tenganan, Karangasem. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Desa Bali Mula Tenganan, Karangasem, memiliiki  Sekaa (perkumpulan) yang disebut Sekaa Roban. Sekaa ini, berbeda dengan Sekaa pada umumnya. Sekaa Roban hanya beraktivitas  dalam waktu tertentu saja. Lantas, apa itu Sekaa Roban?

Sekaa Roban adalah perkumpulan ibu –ibu yang anak – anaknya menjadi anggota Sekaa Teruna. "Peran Roban sangat penting dalam acara prosesi besar, seperti  prosesi Aci Katiga dan tradisi besar lainnya yang dilakukan di Desa Tenganan,"'papar  Bendesa Adat Desa Pakraman Tenganan, Wayan Sudarsana, pekan lalu kepada Bali Express ( Jawa Pos Group). 

Dijelaskannya,  yang tergabung dalam Sekaa Roban biasanya para ibu – ibu yang saat itu memiliki anak laki – laki yang masuk Teruna. Hal itu terkait dalam prosesi tertentu, seperti Aci Katiga di Tenganan, yang berperan aktif dalam pelaksanaan acinya adalah para Teruna.
Sudarsana mengatakan, Sekaa Roban bertugas menyiapkan berbagai keperluan upacara, seperti membuat jajanan atau disebut Cacalan yang akan digunakan sebagai gantung – gantungan di Bale Agung. Selain membuat  jajanan sebagai prasarana upacara, Sekaa Roban juga membuat berbagai prasaran upakara seperti bebantenan. “Sekaa ini  hanya aktif menjelang prosesi besar di Tenganan. Di luar itu, sekaa ini tidak  beraktivitas. "Memang hampir seluruh anggota Sekaa Roban adalah ibu – ibu PKK, namun tidak semua anggota ibu – ibu PKK adalah Sekaa Roban. Hanya yang memiliki anak Teruna yang saat itu tengah memangku tugas saja,” terangnya.

Sudarsana menjelaskan, Sekaa Roban biasanya juga bertugas membuat nasi dengan lauk pauknya. “Mereka juga bertugas memasak. Baik untuk persembahan ataupun untuk prosesi makan bersama. Terkadang dalam prosesi makan bersama mereka  membawakan nasi dan juga tuak sebagai pendampingnya,” terangnya. Menjelang upacara Aci Katiga, Para Sekaa Roban biasanya membuat jajan Cacalan, jajan yang terbuat dari tepung beras yang dibentuk menyerupai hewan, seperti kambing, ayam, manusia, dan bentuk lainnya. Dikatakan Sudarsana, Jajan Cacalan dalam kepercayaan masyarakat Tenganan dianggap sebagai simbolisasi mahluk hidup. Makanya berbentuk beraneka ragam. Ada yang berbentuk manusia, ada yang berbentuk hewan, seperti kambing, gajah, dan ayam. Jajan Cacalan nantinya akan digantung di Bale Agung sebagai prasarana dalam suatu prosesi.

Setelah jajan Cacalan dibentuk sedemikian rupa, Sekaa Roban biasanya akan menggoreng dan mengaitkannya dengan tali untuk dipasang di Bale Agung Desa Tenganan.  Gantungan – gantungan tersebut dipasang oleh para teruna  di bagian hulu  atau luanan di sisi Utara Bale Agung. 

"Gantungan tersebut dianalogikan sebagai mainan untuk anak – anak yang berusia tiga bulanan.Biasanya penggunaan jajan Cacalan sebagai gantungan digunakan dalam prosesi Aci Katiga," terang Sudarsana. 

Ditambahkannya, filosofi dari Sekaa Roban, berarti pertolongan tulus iklas yang diberikan seorang ibu kepada anak – anaknya. “Kalau melihat dari sisi filosofinya, Roban sendiri disimbolisasikan sebagai ibu pertiwi yang selalu memberi semua kebutuhan anak – anaknya. Itulah makanya anggota Sekaa Roban hanya terdiri dari ibu – ibu yang kebetulan memiliki anak Teruna yang saat itu sedang ikut serta dalam prosesi,” terangnya.
Sementara Aci Katiga, lanjutnya, adalah prosesi telu bulanan (tiga bulan) Hyang Indra sebagai dewa tertinggi.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia