Senin, 10 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Features

Pakai Pakaian Adat Bali, Ketua PN Belajar dari Sopir dan Youtube

11 Oktober 2018, 20: 12: 10 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pakai Pakaian Adat Bali, Ketua PN Belajar dari Sopir dan Youtube

PAKAI PAKAIAN ADAT: Suasana sidang di Pengadilan Negeri Denpasar dengan majelis hakim mengenakan pakaian adat Bali, Kamis (11/10). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali, mulai diterapkan, Kamis (11/10). Seperti yang tampak di lingkungan PN Denpasar. Seperti apa?

Suasana kerja di lingkungan Pengadilan Negeri (PN) Denpasar Kamis (11/10) terasa berbeda. Terutama dari segi busana yang dikenakan para panitera pengganti sampai stafnya. Mereka, laki dan perempuan, terlihat kompak mengenakan pakaian adat Bali.

Bahkan, para hakim pun menggunakan pakaian yang sama saat bersidang. Bedanya, saat sidang mereka tetap mengenakan toga. Jadi hanya hakim yang laki yang terlihat masih mengenakan pakaian adat. Karena ikatan kepala atau udeng yang mereka kenakan masih terlihat jelas.

Bukan tanpa sebab suasana kerja dengan nuansa pakaian adat Bali ini diterapkan di lingkungan PN Denpasar. Seperti dikatakan Ketua PN Denpasar H. Amin Ismanto, pengenaan pakaian adat Bali ini sebagai tindak lanjut dari penerapan

Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali. “Kami sudah koordinasi dengan pimpinan di Pengadilan Tinggi Bali, setiap Kamis imbauannya seperti ini. Mengenakan busana adat,” kata Amin Ismato di sela-sela aktivitasnya.

Menurut dia, busana adat yang dimaksud sebetulnya tidak harus pakaian adat Bali. Terutama dalam kerangka Kebhinekaan. Mungkin yang dari Jawa akan mengenakan pakaian adat Jawa. “Mungkin suatu saat, karena asaya dari Jawa, akan pakai blankon,” ungkapnya.

Disinggung soal ketentuan serupa bagi hakim yang menjalankan tugas untuk bersidang, Amin menilai tidak menjadi persoalan. Sebab, penggunaan toga yang sudah menjadi aturan tidak tertutup pakaian adat. “Kalau sidang syaratnya memang harus pakai toga. Tapi kan tidak ketutupan. Walaupun pakai udeng, toga masih terlihat,” imbuhnya.

Amin sendiri tidak terlalu mempersoalkan aturan ini. Malah sebaliknya mengaku senang. “Saya dari dulu punya prinsip, di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung,” tegas hakim kelahiran Semarang, Jawa Tengah, ini.

Karenanya, pada hari pertama penggunaan pakaian adat, hampir sebagian besar hakim sampai dengan staf PN Denpasar terlihat menjalankan ketentuan tersebut. “Tadi saya ke pengadilan tinggi juga begini. Semuanya juga pakai (busana adat),” katanya.

Amin sendiri mengaku sebelumnya sudah menyiapkan pakaian adat Bali sejak jauh hari. Bahkan, dia juga sudah menyempatkan diri belajar cara mengenakannya. “Saya belajarnya sama sopir saya sendiri. Kalaupun tidak, ya saya lihat-lihat tutorialnya di Youtube,” pungkasnya. 

(bx/hai/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia