Senin, 10 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Badung Kekurangan Tiga Sirine Tsunami

12 Oktober 2018, 16: 24: 03 WIB | editor : I Putu Suyatra

Badung Kekurangan Tiga Sirine Tsunami

RAWAN: Suasana Pantai Petitenget beberapa waktu lalu. Belum ada alat peringatan suami di pantai ini. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, MANGUPURA-Gempa Lombok beberapa waktu lalu dan Situbondo, Kamis (11/10) dini hari terasa hingga ke wilayah Badung. Meski tak berpotensi tsunami, namun masyarakat diminta tetap waspada. Terkait potensi tsunami, ternyata kawasan pantai di Badung selatan belum semua dilengkapi sirine. Padahal, alat tersebut sangat vital sebagai salah satu alarm bagi masyarakat kawasan pesisir.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Badung, baru ada lima unit TEWS dipasang di seluruh Badung. Itupun hanya di wilayah Selatan Badung. Seperti di Pantai Tanjung Benoa, ITDC, Pantai Kedongan, Pantai Kuta dan Pantai Double Six Seminyak. Sementara di bagian barat Badung belum dilengkapi alat ini, seperti Pantai Petitenget, Pantai Batubolong dan Seseh.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Badung, I Wayan Netra tak membantah pantai di Badung belum semuanya dilengkapi TEWS tsunami. Ia mengakui idealnya perlu 8 unit TEWS. Akan tetapi, yang terisi saat ini baru 5 TEWS. Artinya, masih kurang lagi tiga TEWS. Adapun pantai yang belum tersentuh alat serine tsunami ini adalah pantai bagian barat Badung, mulai dari Petitenget ke barat, seperti Pantai Camagi, Pantai Batu Bolong dan Seseh. “Idealnya kalau ingin menjangkau seluruh Badung, kita perlu delapan unit. Tapi, baru ada lima, jadi tiga masih kurang, yakni untuk Pantai Petitenget, Pantai Batu Bolong dan Pantai Seseh,” ungkapnya, Kamis (11/10).

Berdasarkan kekurangan tersebut, Netra mengaku sudah pernah mengusulkan penambahan ke pihak Pemprov Bali. Akan tetapi, sejauh ini belum ada penambahan. Harga alat TEWS ini sendiri diakui cukup mahal.  Jadi pemerintah selama ini hanya mengandalkan bantuan pusat. “Kami sudah sempat usulkan. Kalau untuk harga memang lumayan mahal. Satu alat saja dulu harganya sekitar satu setengah miliar. Kalau sekarang mungkin sudah dua miliaran lebih. Dan kalau kita beli harus koordinasi dengan BMKG dan BPBD Provinsi,” terangnya.

Dijelaskan Netra, TEWS dipasang dan dikendalikan oleh BPBD Provinsi Bali. Pihaknya di Badung hanya melakukan evaluasi dan monitoring tiap bulan. Sejauh ini pihaknya memastikan lima alat ini berfungsi dengan baik. “Tiap bulan sudah diuji coba. Rata-rata semua aktif dan berfungsi kok,” kata Wayan Netra sembari menyebut tiap alat mampu menraungkan suara mencapai 8 sampai 10 km.

Bila terjadi bencana berpotensi tsunami, maka alat tsunami BMKG akan memberikan peringatan yang diteruskan ke Ruspudalops BPBD Bali. Kemudian, petugas Ruspudalops BPBD Bali akan menekan tombol melalui laptop untuk membunyikan seluruh serine yang ada.  “Kalau gempa 7 SR keatas, sesuai SOP tombol serine pasti dipencet. Semua serine bunyi.  Artinya masyarakat segera melakukan evakuasi,” tukasnya.

Netra melanjutkan, masyarakat pesisir Badung sebagian besar sudah paham fungsi dan tindakan yang harus diambil saat serine yang dipasang diatas tower tersebut bersuara. “Secara umum masyarakat sudah tahu. Kami juga sudah bentuk Desa Tangguh Bencana dan Forum Pengurangan Resiko Bencana. Ini yang gencar ikut memberikan sosialisasi ke masyarakat,” terangnya.

Selain itu, pihaknya juga sudah memasang rambu-rambu dan peta evakuasi apabila terjadi bencana. Bila terjadi gempa, maka masyarakat diimbau mencari tempat lapang. Kemudian apabila gempa disusul ada ancaman tsunamii maka masyarakat diimbau segera melakukan langkah evakuasi dengan mencari tempat-tempat tinggi.

Bahkan, kata dia, di wilayah Badung selatan, pihaknya bahkan sudah membuat MoU dengan sejumlah hotel. Bila terjadi bencana tsunami, maka hotel tersebut wajib memberikan tempat berlindung. “Kalau di Badung selatan wilayah yang agak tinggi kan bukit Ungasan dan Pecatu. Jadi bila ada tsunami kita imbau kesitu. Bisa juga naik ke hotel-hotel yang masih kokoh,” tandasnya.

(bx/adi/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia