Senin, 10 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Tradisi Sentana dan Dampak Kisah Jaratkaru

12 Oktober 2018, 16: 53: 58 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tradisi Sentana dan Dampak Kisah Jaratkaru

Prof DR Wayan P Windia (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Masyarakat Bali hingga saat ini menerapkan sistem Patrilineal. Dimana seluruh kegiatan adat dan keagaaman bergantung pada laki – laki. Karena sistem tersebutlah, memiliki anak laki – laki dianggap sangat penting. Di sisi lain, tak jarang wanita diposisikan sebagai pihak yang lemah. Dan, dianggap bernilai jika ia berhasil melahirkan seorang anak laki-laki.

Dalam tradisi adat di Bali, memiliki anak laki – laki dianggap sangat penting. Guru Besar Bidang Hukum Adat Bali Universitas Udayana, Prof DR Wayan P Windia  mengatakan, anak laki – laki  ditujukan untuk melanjutkan ayah atau kewajiban persembahan di sanggah merajan sebagai penerus keturunan. Selain itu, anak laki – laki secara adat juga dimanfaatan untuk kerja sosial sebagai krama desa.


Diakuinya, lahirnya tradisi Sentana memang dilatarbelakangi oleh anggapan memiliki anak laki – laki sebagai suatu keharusan. “Banyak yang mendorong fenomena ini terjadi, selain kepercayaan bahwa hanya anak laki – laki yang dapat menghantarkan atman ke Suwarga Loka, adanya aturan adat soal putung juga ikut menjadi dalang atau kambing hitam,” ujar Wayan P Windia kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), Kamis (11/10) kemarin.

Permasalahan ini, lanjutnya,  berkolerasi antara permasalahan waris, hak tanah, adat , hukum, sosial, budaya, dan agama. Banyak faktor yang melatarbelakangi tradisi Sentana terjadi, di antaranya tidak memiliki anak sama sekali atau disebut putung atau bekung. Atau memiliki banyak anak perempuan, namun ta memiliki anak laki – laki, sehingga keluarga tersebut diharuskan ngidih atau meminta anak untuk dijadikan penerus keturunan.

Salah satu faktor yang paling memengaruhi adalah adanya aturan adat jika sebuah keluarga tidak memiliki keturunan penerus (anak laki- laki), maka tanah, tegak rumah, sawah dan tegalan akan diambil atau diserahkan ke puri atau ke desa pakraman. “Adanya aturan tersebut sebenarnya tak lepas dari aturan lama ketika masih zaman kerajaan dan feodal Belanda waktu itu.

Di mana dikatakan bahwa puri membagi – bagikan tanah kepada leluhur kita untuk kemudian dikelola dan dipergunakan. Makanya, mereka membuat aturan jika keluarga tersebut putung tanah itu harus dikembalikan ke puri atau ke desa,” jelasnya.


Adanya Hak Camput Desa atau hak untuk menolak aturan desa, lanjut Windia, maka dibuatlah sebuah Lembaga Sentana. Lembaga Sentana inilah yang dahulu mengatur hak dan kewajiban masyarakat kepada pemerintahan saat itu. “Puri atau kerajaan waktu itu memberian tanah bukan cuma – cuma  sebagai upah karena masyarakat mengabdi kepada puri. Dahulu hal itu memang sudah jadi polemik, makanya pihak kerajaan membuat Lembaga Sentana yang mengatur soal kepemilikan tanah dan upaya mengangkat anak. Tapi, lembaga itu kini sudah tidak ada, hanya tradisi Sentananya saja yang masih dijalankan hingga saat ini,” terangnya.

Ia menjelaskan, Sentana  berarti anak keturunan. Namun, dalam artian khusus Sentana berarti anak lelaki yang menggantikan ayahnya sebagai kepala keluarga. “ Dalam aturan Sentana ini, perannya akan bergeser. Misalkan sebuah keluarga hanya memiliki anak perempuan, lalu ia ingin mengangkat menantunya menjadi Sentana. Dalam tradisi, peran Purusa Pradananya bergeser. Si pengantin wanita akan dianggap sebagai Purusa, dan pengantin laki–lakinya yang akan dianggap sebagai Pradana,” terangnya.


Diterangkannya,  ada aturan khusus terkait cara mengangkat Sentana. “Kalau dulu memang ada aturan khususnya, seperti orang tersebut haruslah dari atau garis keturunan sang ayah, ataupun harus berasal dari satu sanggah dadia atau matunggal sembah. Namun, karena seiiring waktu akhirnya aturan tersebut sudah tidak diberlakukan lagi. Dimana masyarakat sudah bebas dalam menentukan siapa saja yang boleh dijadikan Sentana. Dan bebas juga memilih mau atau tidak untuk nyentana,” jelasnya.

Ditambahkannya, adanya sebuah kepercayaan yang meyakini jika tidak memiliki anak laki – laki, maka  kedua pasangan tersebut akan terhambat di Titi Ugal-agil kelak. Kepercayaan tersebut diperkuat oleh kisah kisah dongeng tentang perjalanan Surga dan Neraka. Salah satu yang fenomenal adalah kisah Jaratkaru. Kisah tersebut berawal ketika  Jaratkaru pergi berkunjung ke Ayatanasthana diceritakan, tempat tersebut merupakan sebuah  tempat yang ada di antara Surga dan Neraka. Berkat ketekunannya, Jaratkaru memang dianugerahi kesaktian dimana ia dapat mengungjungi berbagai tempat dan melihat ketiga dunia, Bhur, Bwah, dan Swah.

Di alam Ayatanasthana ia melihat  leluhurnya tergantung pada sebuah Buluh Petung, mukanya tertelungkup, kakinya diikat, di bawahnya terdapat sebuah jurang dalam jalan ke Neraka.  Jurang tersebut terlihat sangat dalam, dan Buluh Petung tempat leluhurnya bergantung terlihat sangat rapuh.  Jaratkaru juga melihat seekor tikus tinggal di dalam Buluh di tepi jurang itu, dan ia melongo ketika melihat tikus tersebut menggerogoti buluh Petung itu secara perlahan.


Sang Jaratkaru merasa iba,  kemudian  mendekati leluhurnya yang berpakaian sebagai seorang petapa, berambut tebal, berpakaian kulit kayu dan tiada makan selamanya.

Sang Jaratkaru bertanya kepada leluhur itu. “Mengapa kalian berada di tempat seperti ini, bukankah seharusnya kalian sudah ada di Suargan?” seru Sang Jaratkaru. Dengan ketakutan akan terjatuh, leluhur itu pun menjawab.  “Keadaan saya seperti ini  karena keturunan kami ini putus. Itulah sebabnya saya pisah dengan dunia leluhur dan bergantung di Buluh Petung ini, tempat ini bagaikan Neraka,” ujar penulis buku bertajuk ‘Mapadik: Orang Biasa, Kawin Biasa, Cara Biasa di Bali’ ini.


Kemudian leluhur itu kembali berkata. “Ada seorang keturunanku bernama Jaratkaru, ia pergi berkeinginan melepaskan ikatan kesengsaraan orang, ia tidak beristri, karena menjadi seorang Brahmacari dari kecil. Itulah yang menyebabkan saya berada di Buluh ini, karena brata semadhinya kepada asrama sang pertapa,” kata sang leluhur itu.

“Kalau kamu begitu mengasihaniku, katakana pada Jaratkaru keturunanku agar ia bersedia menikah dan memiliki keturunan. Agar aku dapat kembali bersama leluhurku,” ungkapnya.


Dengan berat hati, Sang Jaratkaru akhirnya berkata jujur kepada leluhurnya. “Saya Jaratkaru, ampuni dosaku karena telah membuat leluhur menjalani siksa di sini. Saya akan mengakhiri masa Brahmacari saya dan menikah, agar leluhur tak lagi mengalami derita,” jelas Jaratkaru.


Selanjutnya  Sang Jaratkaru pergi mencari istri yang senama dengannya. Ia pergi ke semua penjuru, tetapi tidak menemukan istri yang senama dengannya. Karena tidak tahu harus berbuat apa lagi, ia pun mencari pertolongan kepada bapaknya supaya dapat menghindarkan dirinya dari sengsara. Masuklah ke hutan sunyi, menangislah ia sambil mengeluh kepada semua Dewata. Berkatalah ia pada semua makhluk.

“Hai segala makhluk, termasuk makhluk yang tidak bergerak, saya ini Jaratkaru seorang Brahmana yang ingin beristri. Berilah saya istri yang senama dengan saya, biar saya  mempunyai anak, supaya leluhur saya bisa pulang ke Sorga,” ujarnya.

Tangis Sang Jaratkaru itu terdengar oleh para Naga. Sang Naga Basuki pun mencari Sang Jaratkaru dan memberikan  adiknya Sang Naga Ngini yang diberi nama Jaratkaru, supaya berputra seorang Brahmana yang akan menghindarkan dirinya dari korban ular (Yadnya Sarpa).


Akhirnya Sang Jaratkaru pun beristri Jaratkaru yang akan memberikannya putra dan membebaskan roh leluhurnya dari kesengsaraan. Suatu ketika Jaratkaru berkata kepada istrinya. "Saya berjanji dengan engkau, jika engkau mengucapkan apa yang tidak menyenangkan kepadaku, apalagi melakukan perbuatan yang tidak pantas, jika seandainya hal itu dilakukan olehmu, maka  aku akan meninggalkan engkau," kata Jaratkaru.


Setelah beberapa lama mereka hidup bersama, mengandunglah Si Naga perempuan Jaratkaru. Sang Jaratkaru senang, bahkan dia meminta istrinya memangku kepalanya, dan akhirnya tertidur lelap. Jaratkaru cukup lama tertidur hingga senja, istrinya cemas, apalagi waktunya untuk sembahyang sudah tiba. Lalu, dibangunkan suaminya. 

"Hai tuanku Mahabrahmana, bangunlah tuanku.  Waktu telah senja tuanku, waktu untuk mengerjakan tugas agama, semua perlengkapan sudah tersedia," ujarnya.

Jaratkaru lantas bangun. Cahaya kemarahan memancar pada matanya dan mukanya memerah. "Engkau naga perempuan yang sangat jahat, engkau sebagai istri menghinaku, engkau sampai hati mengganggu tidurku. Tidak layak lagi tingkah lakumu sebagai istri. Oleh karena itu akan kutinggalkan engkau sekarang ini," ujar Jaratkaru yang kemudian bergegas pergi.

Istri Jaratkaru memohon maaf karena tidak bermaksud  menghina. "Hanya membangunkan dan  mengingatkan sembahyang tiap senja. Salahkah itu, sehingga aku menyembah tuanku. Seyogyanyalah engkau kembali tuan yang terhormat. Jika hamba telah beranak, di mana anak itu akan menghapuskan korban ular bagi saudara-saudaraku, maka tuanku dapat membuat tapa lagi.” pintanya.

Setelah itu, lahirlah anak yang dinamai Astika. Ia kemudian dipelihara oleh Basuki, dididik serta diasuh sesuai aturan Brahmana, dirawat dan diberi kalung Brahmana. Dengan lahirnya Astika, maka arwah leluhur yang menggantung di ujung bambu itu melesat pulang ke Pitraloka.


“Dari kisah Jaratkaru itu, maka banyak yang meyakini bahwa memiliki keturunan (anak laki –laki ) adalah hal yang wajib. Padahal, keturunan itu bukan hanya anak laki – laki. Anak perempuan pun keturunan namanya. Kalau masalah adat saat ini kan sudah banyak solusinya, dengan cara Nganten Nyentana atau Nganten Pada Gelahang,” terangnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia