Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ratusan Warga Dilukat 11 Sulinggih di Pantai Mertasari

14 Oktober 2018, 20: 43: 40 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ratusan Warga Dilukat 11 Sulinggih di Pantai Mertasari

MELUKAT: Ratusan warga tengah melakukan panglukatan Bayu Pianaruh, di Pantai Mertasari, Sanur Minggu (14/10). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Sehari setelah perayaan hari suci Saraswati umat Hindu disebut Banyu Pinaruh biasanya sebagain besar melaksanakan panglukatan di sumber mata air yang ada. Seperti malukat masal di Pantai Mertasari, Sanur Minggu (14/10) sebanyak 500 umat Hindu malukat Gangga Pratista. Panglukatan tersebut melibatkan 11 Sulinggih dari semua soroh yang ada di Bali.

Ketua panitia kegiatan, Pinandita I Wayan Dodi Arianta menjelaskan kepada Bali Express (Jawa Pos Grop) langkah itu sebagai memberikan pemahaman panglukatan Banyu Pinaruh sesungguhnya. Lantaran jika dibandingkan dengan panglukatan biasa rangkaiannya sangat berbeda.

“Awalnya ini karena ada peraturan dari Parisada Hindu Dharma Indonesia, bahwa malukat banyu pinaruh tidak mandi biasa. Namun mendapatkan panglukatan dari Sulinggih,” terangnya.

Dia juga memaparkan rangakaiannya sudah dari malam hari sebelumnya, berawal dari ngeruak tempat panglukatan dan tempat nunas tirta (ari suci). Karena tirta yang digunakan melukat merupakan tirta yang didapatkan pada botol yang ditaruh semalaman di tengah laut. Sebelum malukat, paginya tirta tersebut diambil dengan diiringi tarian rejang.

Selain tirta dari laut itu, tirta dari Pura Khayangan Tiga dan Pura Besakih juga gunakan. “Kalau pesertanya kita buka untuk umum, sampai saat ini sebanyak 500 orang. Mereka  juga tidak dipungut biaya, dan sarananya mereka cukup hanya membawa canang atau pejati. Tidak bawa apa-apa juga boleh asalkan niatnya tulus,” terang Dodi.

Kegiatan pertama kali yang dilakukan oleh Pinandita Sanggraha Nusantara Kota Denpasar diharapkan juga dapat diterapakn pada sumber mata air yang ada di Bali. Khususnya setiap pelaksanaan Banyu Pinaruh dengan dipuput oleh 11 Sulinggih yang ada, atau perwakilan seluruh soroh.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengaku bahwa panglukatan Banyu Pinaruh sebagai pangluktan bhuana agung dan bhuana alit. Yaitu melambangkan badan manusia secara fisik yang disebut dengan bhuana alit dan dunia ini sebagai bhuana agung. Mengingat inti panglukatan sebagai menuntun Bhatari Angga dengan menghaturkan yadnya dengan tirta amerta sanjiwani.

“Makna malukat ini adalah rangkaian dari kegiatan hari suci Saraswati sebagai ilmu pengetahuan dan menjadi ilmu yang bijaksana. Kalau malukat biasa itu sesuai fungsi dan kepentingannya masing-masing, dan ini berhubungan dengan prosesi ritual hari Saraswati,” imbuhnya.

Pada tempat yang sama, salah satu warga yang ikut malukat bernama Wayan Darmi. Ia tertarik malukat di sana lantaran dipuput oleh 11 Sulinggih. Bersama keluarganya ia mengikuti prosesi tersebut dari awal sampai selesai. “Kalau malukat di pantai kan sudah biasa, ini langsung dipuput oleh Sulinggih dari semua soroh lebih bermakna saja rasanya,” imbuh pria yang mengaku dari Denpasar Timur tersebut. 

(bx/ade/bay/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia