Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Warak Keruron, Ritual untuk Orang yang Pernah Aborsi dan Keguguran

Senin, 15 Oct 2018 08:09 | editor : I Putu Suyatra

Warak Keruron, Ritual untuk Orang yang Pernah Aborsi dan Keguguran

RARE: Segehan Rare ysng digunakan dalam upacara Warak Keruron, dibentuk menyerupai janin yang berada di perut sang ibu. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pernahkah Anda mengalami keguguran? Jika seseorang yang melakukan Aborsi dampaknya akan dibawa seumur hidup. Bahkan, dampak secara niskala tak hanya akan dirasakan si wanita, tetapi juga pria. Lantas, langkah apa sebaiknya dilakukan pelaku Aborsi, jika tak ingin merasakan dampak secara niskala?

Aborsi ilegal merupakan tindakan pembunuhan yang dilakukan secara sengaja. Aborsi umumya dilakukan oleh kalangan muda dengan kondisi hamil di luar nikah. "Dalam ajaran agama Hindu, aborsi disebut dengan Dhanda Bharunana, sedangkan keguguran yang tidak disengaja disebut Warak Keruron. Meski sebutannya berbeda, namun dampak yang dialami ibu maupun ayah sang  calon janin akan merasakan akibat yang sama," papar Ida Mpu Yogi Swara dari Griya Uma Jati kepada Bali Express ( Jawa Pos Group).


Banyak dampak negatif yang akan dialami pasangan yang tega berbuat Aborsi ataupun yang mengalami keguguran, diantaranya sakit yang berkepanjangan, susah mencari pekerjaan, tak pernah nyaman dalam bekerja dimanapun, selalu merasa gelisah, bahkan mengalami kecelakaan dalam waktu yang berdekatan.

Secara kasat mata, lanjutnya, yang akan terjadi pada muda – mudi yang melakukan aborsi
biasanya mereka akan sangat gelisah. Di tempat bekerja atau di sekolah selalu bermasalah, rezekinya pun sangat susah, dan mereka akan merasa tidak nyaman dalam hal apapun. Bahkan, mereka juga akan sering mengalami kecelakaan karena Atman sang janin yang mereka gugurkan, masih berada di Marcepada dan menuntut untuk kembali ke alam Suargan (Sorga).

Dikatakan Ida Mpu Yogi Swara, ketidaktahuan ataupun rasa malu membuat banyak pasangan yang pernah melakukan aborsi akhirnya membawa sebel atau kekotoran tersebut sepanjang hidupnya. “Memang tidak banyak yang tahu jika kesebelan itu bisa ditebusin dengan cara melakukan upacara Warak Keruron atau Pangepah Ayu,” terangnya.


Dikatakannya, dalam lontar Sunarigama dijelaskan, Atman telah bersemayam dalam janin sejak usia dua minggu kandungan atau  berbentuk  gumpalan darah yang melengkung seperti Tokek. “Sejak usia dua minggu kandungan, janin itu sudah bernyawa. Artinya, jika ia digugurkan haruslah kita mempersiapkan upacara yang layak untuk dia, bukannya setelah gugur lalu dibuang ke laut dan dianggap selesai.  Jasadnya memang hilang di laut, tapi atman bayi itu tetap mengikuti ayah ataupun ibunya kemana pun, meskipun ayah dan ibunya akhirnya tidak menikah ataupun tinggal bersama,” terangnya.


Ida Mpu Yogi Swara menerangkan, orang tua janin yang gugur atau diaborsi harus bertanggung jawab kepada sang bayi, baik secara skala maupun niskala. Bagaimana bentuk tanggung jawabnya? "Secara sekala, jika bayi itu gugur bukannya dihanyutin ke laut, tapi ditanem (dikubur) dengan banten metanem yang layak, dan prosesinya sesuai Desa Kala Patra. Lalu, tanggung jawab secara niskala, yaitu pada Atman janin itu, tetap harus dilakukan prosesi khusus untuk mengantarkan Atmannya ke alam Swargan agar dia bisa bereinkarnasi kembali,” jelasnya.
Prosesi khusus itu disebut Upacara Warak Keruron atau Upacara Pangepah Ayu. Upacara ini menggunakan Segehan Rare sebagai inti prosesi. “Sebenarnya upacara ini tidaklah mahal, intinya adalah mengembalikan Atmannya agar tidak di Mercepada ngeruwabeda atau menimbulkan masalah,” jelasnya. 

Selain menggunakan Segehan Rare, upacara Warak Keruron juga menggunakan Sasayut Guru Piduka, Banten Ngulapin, Sanggah Cucuk, dan beberapa kelengkapan lainnya. “Prosesi intinya dilakukan di laut atau segara. Namun, sebelum memasuki proses inti, pelaku aborsi dan keluarganya harus melaksanakan Guru Piduka terlebih dahulu di Sanggah Kemulan. "Dalam kepercayaan Hindu, anak merupakan titisan leluhur yang terlahir kembali. Ketika kita melakukan aborsi artinya kita juga berdosa pada leluhur kita,” terangnya.


Menurutnya, prosesi Guru Piduka di Kemulan tak harus dilakukan secara besar, prosesi itu bisa saja dilakukan secara sederhana dengan menggunakan Pajati, Tipat, Prasita, Sasayut Guru Piduka, Tumpeng Guru, Kojong Rangkadan, dan Sampian. “Tidak usah dilakukan secara wah, cukup hanya menyediakan banten inti dan dipuput oleh pemangku pun sudah puput, yang penting si ibu dan ayah yang melakukan Aborsi harus maturan piuning dan memohon maaf dan pengampunan,”terangnya.


Selain maturan Guru Piduka di Sanggah Kemulan, ayah dan ibu yang melakukan Aborsi juga harus melakukan Pacaruan Sapuh Awu di tempat mereka melakukan Aborsi. “Ada tiga tahap yang dilakukan dalam upacara Warak Keruron ini. Pertama upacara di Sanggah Kemulan masing – masing, dan prosesi Macaru Awu di tempat Aborsi itu bagian dari Guru Piduka. Ada juga upacara di Perempatan Agung yang menggunakan kasa sebagai perantara, dan terakhir prosesi puncak di laut,” ungkapnya.


Dalam prosesi puncak Warak Keruron massal yang dilakukan Paguyuban Widya Swara dan Griya Gede Manik Uma Jati kemarin, juga menggunakan Segehan Rare. “Segehan Rare merupakan bentuk simbolisasi Sang Atman. Segehan Rare terbuat dari nasi yang dikepel membentuk janin yang masih melengkung di dalam kandungan ibunya. Masing – masing peserta yang mengikuti prosesi Warak Keruron  mendapatkan banten yang berisi satu  Segehan Rare, sebuah Kelapa yang dibungkus kasa oranye dan kelengkapan banten lain yang  dihanyutkan ke laut.


Tak disanggahnya bahwa upacara Warak Keruron memang jarang dijalankan karena tak banyak yang mengetahui, dan masih banyak yang merasa malu untuk mengakui dirinya pernah melakukan Aborsi atau mengalami keguguran. “Upacara ini bukan hanya untuk Aborsi, tapi untuk kandungan yang gugur sebelum dilahirkan juga bisa melakukan upacara ini. Entah itu keguguran yang disengaja atau pun keguguran yang tidak disengaja,seharusnya melakukan upacara ini juga. Kalau merasa berat karena biaya, bisa melakukannya secara massal dan bersama – sama,” terangnya.


Ditegaskannya, upacara Warak Keruron bukan berarti membenarkan praktek aborsi ilegal. “Aborsi Ilegal tetaplah salah. Kita semua berharap anak muda tidak melakukan sebuah kesalahan fatal dengan menghilangkan nyawa, meskipun itu nyawa anaknya sendiri. Karena agama apapun tidak pernah membenarkan perbuatan tercela seperti membunuh. Juga hubungan seks di luar pernikahan,” tandasnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia