Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Features

Cerita Wayan Okta W, Seniman Tato Muda yang Tersangkut Kasus Narkotika

Senin, 15 Oct 2018 15:54 | editor : I Putu Suyatra

Cerita Wayan Okta W, Seniman Tato Muda yang Tersangkut Kasus Narkotika

TERJERAT –Terdakwa kasus narkotika yang juga seniman tato, Wayan Okta Widiantara, usai menjalani sidang beberapa waktu lalu di PN Denpasar. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Ketergantungan I Wayan Okta Widiantara terhadap narkotika, khususnya jenis sabu, begitu berpengaruh pada proses berkarya. Saking ketergantungannya, seniman tato ini baru bisa produktif mengeluarkan ide dan membuat desain. Dari cerita Okta ini, tidak ada yang salah dengan tato. Tapi cara Okta untuk menumbuhkan produktivitasnya dengan mengkonsumsi narkotika tetaplah salah di mata hukum. Kini semua harus dia bayar mahal. Bahkan hukuman tengah menantinya.

Cerita soal ketergantungan Okta, seniman tato muda dari Sanur, Denpasar Selatan, itu terungkap dalam sidangnya yang berlangsung beberapa waktu lalu di Pengadilan Negeri Denpasar.  Kebetulan, saat itu pemuda yang di lehernya penuh dengan tato itu menjalani sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa.

Ceritanya tersebut terungkap saat dirinya diperiksa majelis hakim yang diketuai Hakim Angeliky Handajani Day. Begitu juga saat dirinya menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan penuntut umum, Jaksa Cokorda Intan Merlany Dewie, dan penasehat hukumnya, I Ketut Dodik Arta Kariawan.

“Biasa saya konsumsi menjelang mau membuat gambar. Lebih gampang saya mendapatkan inspirasi. Enak saja kalau habis pakai. Apalagi kalau dipakai sedang menggambar,” tutur Okta, menjawab pertanyaan yang salah satunya datang dari penasehat hukumnya.

Soal motivasinya menggunakan narkotika jenis sabu-sabu itu juga sempat dia ceritakan kepada majelis hakim dan penuntut umum. Jawabannya pun sama. Bahkan hakim sempat bertanya soal pekerjaan sebagai seniman tato. Bagaimana dirinya memasarkan desain tatonya kepada orang lain. “Saya gambar dulu di badan saya. Kalau bagus, saya jual,” akunya kepada hakim.

Di luar keterangannya itu, ada juga cerita yang agak miris dari seniman muda ini. Bisa dikata, sejak balita dia sudah ada dalam lingkungan yang broken home. Klasik memang. Namun, situasi seperti itu membuat dirinya, bahkan siapa saja, bisa jadi mudah terpengaruh pergaulan bebas.

“Umur dua tahun, kedua orang tuanya cerai,” tutur seorang sumber di luar persidangan. 

Kendati alasan Okta demikian, toh persoalan hukumnya tetap jalan. Kendati dalam persidangan terungkap bahwa dirinya seorang pemakai, dalam surat dakwaan tertera empat pasal alteratif yang diterapkan penuntut umum dalam masing-masing dakwaan yang merujuk pada Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Dakwaan pertamanya, dia melanggar ketentuan pidana Pasal 114 ayat (1). Kedua, Pasal 112 ayat (1). Ketiga, Pasal 115 ayat (1). Dan yang keempat atau yang terakhir, Pasal 127 ayat (1).

Okta sendiri ditangkap pada Kamis, 10 Mei 2018, malam. Sekitar pukul 20.30. Waktu itu dia kebetulan berada di pinggir Jalan Raya Puputan. Tepatnya di Banjar Sembung, Desa Kelurahan Sumerta Kelod, Denpasar Timur

Dia ditangkap karena memang sedang diintai petugas dari Satuan Reserse Narkoba Polresta Denpasar yang sedang melakukan penyelidikan atas informasi yang mereka dapatkan sebelumnya.

Saat ditangkap, terdakwa tidak melawan. Pun demikian saat dirinya digeledah hingga akhirnya petugas menemukan barang bukti berupa sabu-sabu seberat 0,15 yang disimpan dalam dompetnya. Dalam keterangannya saat ditangkap, dia mengaku mendapatkan serbuk kristal itu dengan cari membeli dari seseorang bernama Wowok eharga Rp 450 ribu. Dia membelinya dengan cara mengambil tempelan.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia