Kamis, 23 May 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Panglukatan Agung Gangga Pratista

Edukasi Umat Bahwa Melukat Banyupinaruh Bukan hanya Mandi di Laut

16 Oktober 2018, 07: 29: 07 WIB | editor : I Putu Suyatra

Edukasi Umat Bahwa Melukat Banyupinaruh Bukan hanya Mandi di Laut

MENDAK TIRTA: Prosesi Malukat massal sudah dipersiapkan sehari sebelumnya, termasuk memohon Tirta Sanjiwani dari dalam lautan. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR -  Malukat tak  cukup  sekadar mandi dan berendam di laut. Banyupinaruh juga harus dilakukan sesuai sastra agar berjalan Tattwa dan benar. Lantas,  seperti apa Banyupinaruh yang sesuai Tattwa, dan apa  Panglukatan Agung Gangga Pratista?

Dalam Lontar Menawa Dharma Sastra dikatakan bahwa Banyupinaruh adalah saat terbaik Sang Aji Saraswati menurunkan pengetahuan sucinya kepada ia yang telah bersih dan suci. Maka itu, masyarakat Hindu berduyun – duyun pergi ke mata air ataupun laut untuk melaksanakan ritual Banyupinaruh atau prosesi pembersihan diri.


Demikian dikatakan Ida Mpu Jaya Acharya Nanda, ketika menjadi salah satu Sulinggih yang ikut muput Malukat massal di Pantai Mertasari, Sanur, Minggu (13/10) lalu.


Lantas, seperti apa Malukat Banyupinaruh yang sesuai Tattwa?  Menurutnya, Malukat merupakan upaya pembersihan Bhuana Alit. Dalam sastra disebutkan,  Malukat dalam prosesi Banyupinaruh setelah hari Saraswati  tidak cukup hanya dengan mandi di laut. “Mandi suci yang dimaksud di sini adalah mandi dengan air suci atau Tirta dari berbagai sumber, dan salah satu Tirta yang paling utama adalah menggunakan Tirta Sanjiwani,” ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group).

Dikatakan Ida Mpu Jaya Acharya Nanda, Tirta Sanjiwani adalah Tirta yang dimohonkan khusus dari tengah laut. “Jadi, sehari sebelum Banyupinaruh, sudah ada persiapan berupa mabersih di areal Panglukatan. Itu simbol dari Panglukatan Bhuana Agung. Untuk Panglukatan Bhuana Alit kita lakukan persiapan berupa memohon Tirta Sanjiwani. Kita maturan banten khusus di tengah laut, dengan sebuah botol yang diletakkan tepat di tengah laut dan posisi botolnya tertutup rapat selama semalaman,” terangnya.


Uniknya, meski botol beling yang digunakan sangat tertutup, namun ketika dipendak (diambil) pada pagi harinya, botol tersebut berisi air. “Inilah yang disebut Tirta Nirmala, Tirta yang berasal dari saripati Segara. Dimohonkan pada saat Saraswati dan dipendak dengan Tari Rejang Nirmala. Tirta inilah yang  digunakan dalam Panglukatan Agung Gangga Pratista yang dilakukan pada saat Banyupinaruh,” terangnya.


Ketika ditanya apa bedanya Penglukatan Agung Gangga Pratista dengan Banyupinaruh biasa? Ida Mpu Acharya Nanda menegaskan, Gangga Pratista berbeda dengan Malukat biasa. “Dalam Tattwa Malukat Banyupinaruh bukan hanya mandi biasa di laut. Namun, Malukat Banyupinaruh seharusnya mendapat Panglukatan Sanjiwani dari Sang Wiku,” ungkapnya.

Ia bersama 10 Sulinggih lainnya  memang ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat, bahwa Gangga Pratista Bali dan Gangga Pratista India bukanlah hal yang sama. “ Jelas berbeda, Gangga Pratista Hindu di Bali dasar sastranya adalah lontar yang sudah ada di Bali sejak berabad – abad. Sedangkan Gangga Pratista yang ada pada ajaran India runtutan dan mantranya sangat berbeda,” terangnya.


Hal senada juga dipaparkan Ketua Panitia Malukat massal, Jro Mangku Dodi. Rangkaian acara Panglukatan Agung Gangga Pratista dimulai sejak malam hari Saraswati. Dodi juga menjelaskan, tak hanya menggunakan Tirta Nirmala dalam Panglukatan Agung Gangga Pratista, juga harus menggunakan Tirta dari Kahyangan Tiga, Tirta dari Pura Besakih dan dari seluruh mata air di Denpasar,” terangnya.


Dodi juga menegaskan, kalau Panglukatan Agung Gangga Pratista ini memiliki dua tujuan utama, yaitu sebagai upaya konservasi mata air di Bali, dan juga sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat, bahwa Bali juga punya ajaran tersendiri yang berbeda dengan ajaran Hindu India maupun Hindu di daerah lain. “Ini upaya kita untuk mengedukasi masyarakat. Kita punya dasar Hindu tersendiri, tidak melulu harus mengadaptasi dari India. Dasar sastranya ada, hanya saja tidak banyak masyarakat yang tau. Jadi, kami ingin agar ajaran Dharma Bali Mula itu tidak serta merta hilang dan kita kehilangan jati diri,” tegasnya.

(bx/tya/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia