Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Features

Lebih Dekat dengan “Pasukan Khusus” di Polda Bali (2-habis)

Selasa, 16 Oct 2018 07:56 | editor : I Putu Suyatra

Lebih Dekat dengan “Pasukan Khusus” di Polda Bali (2-habis)

JITU: Polisi menggunakan anjing pelacak untuk membantu pengamanan IMF-WB Annual Meeting yang baru saja berakhir. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, NUSA DUA - Polda Bali memiliki 32 ekor anjing pelacak berbagai ras. Mereka ibarat “pasukan khusus” yang sangat membantu kinerja polisi.

Keberadaan pawang yang merawat masing-masing anjing ini sangat penting. Setidaknya ada 49 pawang yang disediakan termasuk juga asistennya. Kanit Satwa AKP I Wayan Nuaba menyampaikan, anjing - anjing ini hanya tunduk dengan sang pawang. Meskipun memiliki asisten pawang namun keeratan hubungannya tak seperti sang pawang sendiri. Posisi pawang pun bisa digantikan oleh asisten jika dalam kondisi tertentu. Itupun juga diakui tak semaksimal sang pawang ketika menghandle. Bahkan saking berjasanya para anjing - anjing terpilih ini, ketika usia tua pun tetap masih dirawat sebagaimana mestinya. Pun juga sudah tidak bisa dikembangbiakkan lantaran sudah disterilisasi.

"Ada yang paling tua itu umur 12 tahun. Jantan dia. Jalannya sudah reyot. Tapi tetap kami pelihara. Kasihan jasanya sudah banyak," ungkapnya.

Anjing - anjing ini pun juga memiliki pola makan yang tak kalah sehat dari manusia. Dua kali makan dalam sehari ditambah extra puddingnya. Pada pukul 07.00, mereka akan diberikan dog food dan kornet beef atau daging kaleng. Begitu juga sore hari pukul 17.00. Dengan sekali makan 300 sampai 400 gram per ekornya. Sementara itu extra pudding diberikan pada pukul 11.00 wita, yang berupa campuran susu dan telur ayam mentah.

Untuk tahap pembentukannya sendiri, singkatnya anjing - anjing tersebut dilatih kepekaan terhadap bahan - bahan peledak satu persatu. Jika satu bahan sudah bisa makan akan ditambah bahan lainnya lagi. Tiga kali latihan dalam seminggu selama 60 menit sehari.

Durasi ini dipertimbangkan karena anjing sendiri cepat mengalami kebosanan. Sehingga apabila dipaksa akan terjadi antiklimaks dengan berdampak berubahnya mood alias jenuh. Sehingga pawangnya hasur benar - benar paham kondisi tersebut.

Latihan diawali dengan pengenalan black powder alias mesiu untuk pertama kalinya. Lantaran mesiu ini memiliki bau yang sangat tajam. Jikalau sudah mahir maka akan dikenalkan bahan - bahan peledak lainnya misalnya TNT, RDX, hingga bahan peledak terbaru berbentuk gel. "Latihan sesuai kualifikasinya. Anjing itu memiliki kerja tersendiri, tidak bisa dicampur. Semakin sering dilatih semakin bagus," jelasnya.

Pihaknya pun mengatakan bahwa tidak semua anjing bisa dibentuk sebagai anjing polisi. Karena harus memenuhi kriteria tertentu. Apalagi untuk pelacak bahan peledak, diantaranya harus periang, berani tidak mudah nervous, mudah bergaul, tidak suka bertengkar alias tidak agresif. Sehingga tidak ada beban stress pada anjing saat menjalankan tugasnya."Golden, Malinois, dan Labrador biasanya. Anjing ras ini lebih gampang bergaul, lebih penurut dan sifat familiarnya lebih," katanya.

Pun diungkapkan, baik anjing jantan maupun betina tidak ada perbedaan kemampuan. Hanya saja kalau betina ada fase loop dengan fluktuasi 6 bulan sekali. "Jenis kelamin betina tidak menurunkan kinerja. Hanya saja ada massa loop itu tadi. Kalau jantan ready saja," jelasnya.

Ditanya bagaimana sang anjing ini memberi sinyal jika menemukan barang yang dicurigai, Nuaba menyampaikan bahwa anjing tersebut akan mengibas - ngibaskan ekornya sebagai tanda. Lalu duduk didekat barang tersebut. Itu artinya barang tersebut dicurigai. Kondisi tersebutlah yang harus dipahami sang pawang.

Sementara itu untuk menjadi pawang ini, anggota polisi harus memiliki ketentuan di antaranya sudah menjadi anggota aktif dan penyayang binantang. Dua kriteria tersebut kemudian dijadikan pertimbangan dan mereka akan mengikuti pendidikan pengembangan personel. "Basicnya penghobi binantang. Dan akan sekolah selama 2 bulan di Kelapa Dua. Karena pembentukan pawang kan ada teori dan praktik," ungkapnya.

Selain anjing - anjing tersebut juga terdapat 7 ekor kuda ras lokal berjenis kelamin jantan dan 2 ekor ras Belanda untuk menunjang patroli di kawasan pantai. Selain itu beberapa di antaranya juga berkolaborasi dengan anjing Dalmas untuk pengendalian masa sewaktu - waktu diperlukan. "Kuda ini setiap hari harus diumbar," tegasnya.

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia