Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Balinese
Patirtaan Tadah Uwuk di Desa Nyalian (1)

Diyakini Bisa Obati Gangguan Jiwa dan Penyakit Kulit serta Jerawat

Kamis, 18 Oct 2018 19:46 | editor : I Putu Suyatra

Diyakini Bisa Obati Gangguan Jiwa dan Penyakit Kulit serta Jerawat

PENUH KHASIAT : Patirtaan Tadah Uwuk di Banjar Uma Anyar, Desa Nyalian, Klungkung. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Di Bali begitu banyak sumber mata air dan tempat penglukatan unik dan disakralkan. Salah satunya Patirtaan Tadah Uwuk atau yang dikenal dengan nama Penglukatan Panca Durga Panugrahan Pancaka Tirta, sebuah tempat penglukatan purba. Meski sempat terisolasi dan terlupakan, patirtaan yang berada di Banjar Uma Anyar, Desa Nyalian, Klungkung, ini mulai berbenah.

Secara literal sebutan Tadah Uwuk yang digunakan, berasal dari kata Tadah dan Uwuk. Tadah disini memiliki arti kematian, peleburan, mayat dan membunuh. Sedangkan Uwuk merujuk pada arti cairan, air mayat, cerukan dan berarti juga sebagai tempat. Secara filosofi, Tadah Uwuk merupakan tempat dimana air mayat mengalir untuk melebur segala kekotoran diri. Hal itu yang dipaparkan Bendesa Adat Banjar Uma Anyar, Desa Nyalian, I Nengah Suparta kemarin (16/10) di Patirtaan Tadah Uwuk.

Bendesa yang identik dengan kacamatanya itu menjelaskan, air mayat yang dimaksudkan dalam filosofi Tadah Uwuk, bukanlah air mayat yang berupa danur atau banyeh. “Pengertian air mayat disini adalah air peleburan, yang funginya melebur segala kekotoran yang terdapat dalam diri setiap orang,” terangnya.

Dalam kitab Saramuscaya diterangkan, manusia yang hidup dengan leteh serta kekotoran secara niskala, seperti menjalankan hidup bagai mayat berjalan tanpa arah. “Atas dasar itulah, kita sebagai manusia harus jengah. Jangan sampai kita hidup seperti mayat hidup, penuh dosa, leteh, dan kekotoran. Makanya dalam Saramuscaya dikatakan, dalam hidup setidaknya kita harus melakukan penglukatan. Baik itu secara skala yaitu membasuh tubuh dengan air suci, dan niskala yaitu memandikan fikiran dan jiwa,” terangnya.

Ditanya mengenai sejarah Patirtaan Tadah Uwuk. Pria yang berdinas di Dinas Pendapatan Daerah Klungkung ini menjelaskan, dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng, tercatat sebuah tempat pertapaan yang mata airnya mengalir dari celah bebatuan, yang terletak dibawah sebuah setra. “Jika diteliti dalam lontar Budha Kecapi Cemeng memang mata air yang dikisahkan adalah mata air Penglukatan Panca Durga Panugrahan Pancaka Tirta, atau yang dikenal sebagai Tadah Uwuk. Dari lokasinya, tempat ini tepat berada dibawah Pura Dalem dan setra,” tegasnya.

Masih dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng diceritakan, tempat pertapaan dari pertapa bernama Budha Kecapi, didirikan di pinggir mata air yang mengalir dari celah bebatuan yang tidak jauh dari patirtaan. Tepat diatas patirtaan terdapat sebuah kuburan yang disebut Setra Ganda Mayu. Konon, Budha Kecapi sengaja membuat tempat pertapaan disana, karena diketahui mata air tersebut mengandung kasiddhian atau kekuatan untuk melebur segala kekotoran (sarwa mala) dalam diri seseorang.

“Dari dasar lontar itulah kita tahu, ternyata mata air ini begitu magis, dan dikenal sebagai pusat dari mandala atau simbol magis yang berhubungan dengan dengan setra sebagai pelebur. Serta Pura Dalem sebagai stana Dewa Siwa, dengan fungsinya sebagai pelebur segala kekotoran atau mala,” terangnya.

Memiliki sumber mata air yang keluar dari celah bebatuan, membuat mata air ini terbilang unik. Dengan lima pancoran yang debit airnya sangat deras, terlihat sangat menyejukan. “Kenapa pancorannya ada lima?. Karena lima pancoran adalah simbolisasi pertemuan antara Bhatara Siwa dan saktinya Bhatari Durga. Sehingga melahirkan Tirta Amretam yang melebur segala kekotoran diri,” jelasnya.

Lantas apa fungsi dan khasiat air penglukatan dari masing-masing pancoran. Bendesa yang juga sebagai pengelola Patirtaan Tadah Uwuk ini menuturkan, masing-masing pancoran memiliki khasiat yang berbeda. “Kalau pancoran yang sebelah utara disebut penglukatan Hyang Sri Durga. Melalui kekuatan beliau, air penglukatan di pancoran itu dipercaya dapat menyembuhkan segala penyakit kulit, seperti penyakit cacar, penyakit kulit, jerawat menahun, upas desti dan upas terang jana. Segala jenis penyakit kulit jika mandi dibawah pancoran Hyang Sri Durga pasti sembuh. Dan memang sudah banyak yang datang membuktikan,” terangnya.

Pancoran kedua disebut pancoran Hyang Dari Durga. Khasiatnya diyakini sebagai peleburan segala mala yang melekat pada Pranamaya Kosa. Yaitu penyakit yang berada pada lapisan Prana seperti ipian mala, sumpah cor, tiwang karena desti, kedewan-dewan dan sakit karena desti. Pancoran ketiga disebut pancoran penglukatan Hyang Sukri Durga. Dimana airnya bermanfaat sebagai pelebur mala yang melekat pada Manomayakosa, yaitu lapisan fikiran dalam diri manusia. Penyakit yang biasa diobati dengan pancoran ini adalah penyakit kejiwaan, kebingungan, miyut, salah wetu/oton, gangguan mental.

Pancoran keempat disebut pancoran penglukatan Hyang Raji Durga. Diyakini berfungsi sebagai pelebur mala dalam tingkat Vijnana Kosa, atau lapisan badan halus. “Nah di pancoran keempat ini, jiwa kita akan lebih tenang. Karena tiga lapisan tubuh lainnya sudah dibersihkan lewat tiga pancoran lainnya. Lewat pancoran keempat, kita akan jauh dari penyakit hati, seperti dendam, benci, iri hati yang membuat kita mengalami duka atau papa,” terangnya.

Pancoran kelima atau terakhir disebut pancoran penglukatan Hyang Dewi Durga. Fungsinya sebagai penglebur lapisan terdalam dalam diri manusia, yaitu jiwa yang masih terbelenggu Wasana Karma. “Nah kalau ada yang selalu merasa sial, lalu ada yang kena kepangor, kena sumpah, kena kutukan, dan kesisipan, mata air di pancoran kelima akan sangat membantu,” terangnya.

Untuk alur dan tatacara melukat. Suparta menjelaskan, dalam melakukan penglukatan pemedek tidak diperkenankan memakai baju atau kaos. Bagi yang wanita harus mengenakan kamen, yang dililitkan dari atas dada hingga menutupi kaki. Sedangkan bagi laki-laki tidak boleh hanya mengenakan celana, tapi juga harus mengenakan kamen yang menutupi perut hingga ujung kaki.

Suparta menjelaskan, setelah pemedek berganti pakaian, mereka harus membasuh tubuhnya di pancoran bawah terlebih dahulu. Setelah itu pemedek diperbolehkan mandi di lima pancoran utama. “Pemedek harus memulai mandi dari utara, yakni di pancoran Hyang Sri Durga. Karena tiap pancoran membersihkan tiap bagian dari tubuh kita, mulai dari bagian terluar, hingga bagian terdalam dalam diri yaitu jiwa,” beber pria ini.

Dalam kesempatan kemarin, dirinya juga bercerita, ketika dulu sebelum adanya sistem irigasi dan bendungan, masyarakat biasa mencari air di Petirtaan Tadah Uwuk untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Namun setelah air mudah dicari, karena adanya bendungan. Maka secara perlalahn mata air tersebut akhirnya ditinggalkan dan terlupakan. “Maklum saja, faktor geografisnya memang agak berat. Untuk mengambil air saja, mereka harus turun dan naik dengan medan yang terjal,” ungkapnya.

(bx/tya/wid/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia