Sabtu, 25 May 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ngelungah, Upacara Pitra Yadnya bagi Bayi Meninggal sebelum Ketus Gigi

19 Oktober 2018, 09: 49: 53 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ngelungah, Upacara Pitra Yadnya bagi Bayi Meninggal sebelum Ketus Gigi

PROSESI: Suasana upacara Ngelungah Massal di Pantai Mertasari beberapa waktu lalu. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Rangkaian upacara pitra yadnya bagi bayi yang belum ketus gigi, berbeda dari upacara kematian orang dewasa. Bayi yang belum ketus gigi dianggap sangat suci, sehingga ada prosesi khusus yang disebut Ngelungah.

Dalam Lontar Yama Purana Tatwa dijelaskan, prosesi kematian bagi bayi yang belum ketus gigi memang sangat istimewa. Pasalnya tak seperti orang dewasa yang jenazahnya boleh diinapkan dirumah duka sebelum akhirnya diaben, jenazah bayi yang meninggal di usia 42 hari dan belum mengalami ketus gigi, harus segera dibawa ke kuburan untuk dikuburkan. Hal itu dijelaskan Jro Mangku Dharma Wisesa, Anggota Paguyuban Widya Swara.

Jro Mangku Dharma Wisesa ketika ditemui dalam prosesi Ngelungah Massal di Pantai Mertasari beberapa waktu lalu mengatakan, bayi yang belum mengalami ketus gigi memang sangat rawan dimanfaatkan “oknum” tertentu. “Dalam Lontar Yama Purana Tatwa dijelaskan, bayi yang belum ketus gigi dianggap sangat suci. Makanya prosesi upacara pitra yadnya yang dilakukan sangat berbeda dengan orang dewasa. Selain karena suci, tubuh bayi biasanya juga rentan dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” ucapnya.

Dia menambahkan, ketika bayi yang belum meketus meninggal. Maka jenasahnya harus segera dikuburkan dan diupacarai. “Jika bayi yang meninggal itu berusia kurang dari 42 hari, maka upacara yang harus dilaksanakan adalah upacara Nyapuh Gumukan. Lalu jika bayi itu sudah mekepus pungsednya, upacara Ngelangkir yang dilakukan. Tapi jika bayi itu berusia lebih dari 42 hari, sudah mekepus pungsed, tapi belum meketus giginya, maka dia harus diupacari Ngelungah,” terangnya.

Nah dalam prosesi Ngelungah, terdapat prosesi yang disebut ngencuk don bingin selayaknya prosesi Ngerorasin. “Paling tidak si bayi harus berusia 12 hari, jika ingin melaksanakan upacara Ngelungah. Karena dalam prosesi Ngelungah ada upacara ngencuk don bingin yang hampir serupa dengan Ngerorasin. Artinya atman yang ada pada bayi diatas usia12 hari, sudah dikatakan ajeg atau menyatu pada ragha sariranya,” ungkapnya.

Tak itu saja, Jro Mangku Dharma Wisesa menjelaskan, bayi yang belum meketus giginya juga belum bisa diaben. “Bayi boleh diaben, asal ketika dia meninggal sudah dalam keadaan meketus giginya. Dalam Hindu, bayi yang sudah meketus giginya biasanya sudah menginjak diatas 3 bulan, artinya dia sudah menjalani prosesi upacara 3 bulanan. Secara tatwa, bayi yang sudah melewati upacara 3 bulanan, sudah dianggap ajeg atmannya pada ragha sariranya,” terangnya.

Lalu apa saja prasarana upacara Ngelungah. Dituturkan olehnya, prasaranya memang cukup sederhana. Yakni kasturi merajah dasa bayu atau nyuh bungkak yang dirajah, dukut padang, dan don bingin. Prosesi ini harus dipimpin Ida nak lingsir atau seorang pandita.

Dia menuturkan, untuk prosesi Ngelungah sebaiknya dilaksanakan di segara atau pantai. Namun sebelumnya pihak keluarga harus matur piuning di Pura Dalem maupun Prajapati. “Mohonkan kepada beliau agar atman sang bayi dapat segera menyatu ke alam suargan,” terangnya.

Selain itu, di Pura Dalem dan Prajapati, keluarga juga diharuskan menghaturkan banten di gumuk (tanah gundukan kuburan) bayi. “Banten di gumuke ini terbilang vital. Karena sebelum atmannya diantar melalui upacara Ngelungah, kita jemput dulu dia di kuburan, dengan menghaturkan pesucian, pejati, peras, daksina, sode, nasi putih kuning, bubuh pirate, rantasan putih kuning, samsam, beras kuning, beras catur warna, dan segehan saha tetabuhan,” ungkapnya.

Usai mebanten di liang lahat, atman sang bayi kemudia di-ayengkan sementara di bale dangin dengan prasarana sawa, sebelum keesokan harinya dibawa ke segara untuk melaksanakan ritual Ngelungah. “Prosesi Ngelungah memang harus dipimpin Ida Nak Lingsir sebagai pemuputnya. Karena dalam prosesi ini, terdapat rangkaian yang hampir mirip dengan Ngerorasin, dan memang tujuannya sama, yaitu menghantarkan sang atman kembali ke alam sana,” terangnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia