Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Kasus Kematian WN Australia Telanjang di Sanur akan Di-SP3

Sabtu, 20 Oct 2018 09:17 | editor : I Putu Suyatra

Kasus Kematian WN Australia Telanjang di Sanur akan Di-SP3

BALI EXPRESS, DENPASAR - Kasus kematian warga negara Australia, Richardson Stephen James, 63, yang ditemukan tewas di rumah kontrakannya Jalan Danau Poso nomor 19 B Sanur Kauh, Denpasar Selatan pada Senin 8 Mei 2017 lalu sekitar pukul 16.20 dengan kondisi telentang di atas kasur dan telanjang bulat kini sedikit terpecahkan.

Disampaikan oleh Kapolresta Denpasar Kombes Pol Hadi Purnomo kepada koran ini Jumat (19/10) siang, bahwa korban membenturkan kepalanya sendiri sehingga kehabisan darah. Dugaan tersebut diperkuat dengan hasil visum yang telah dilakukan.

"Alat bukti dan hasil visum kan dia kehabisan darah. Darahnya kan habis. Habis itu kan membenturkan kepala dikaca. Sehingga kehabisan darah dan meninggal disitu. Kondisinya mabuk," ungkap Hadi.

Dalam hal ini pihaknya menegaskan korban bukan bunuh diri, akan tetapi dalam pengaruh alkhohol alias mabuk. Dalam kondisi mabuk tersebut ditambah lagi riwayat penyakit jantungnya, didukung dengan kondisi labil akhirnya membentur - benturkan diri. Termasuk di kamar mandi. "Intinya robek kena kaca. Jadi kehabisan darah. Jika memang tidak cukup bukti ya kami SP3. Saksi - saksi yang mendukung juga tidak ada. Kami gelarkan lagi, kami buka lagi kasusnya. Jika tidak ya kita SP3," paparnya.

Pernyataan tersebut seakan - akan juga menjawab kejanggalan kematian korban yang sempat diungkapkannya pada Jumat 16 Juni 2017 lalu. Saat itu Hadi menyampaikan bahwa dalam gelar perkara sudah mengundang baik dari labfor, dokter forensik, dan juga ahli yang menangani kasus - kasus itu. Hasilnya mengakui memang ada kejanggalan.

Kejanggalan yang dimaksud pertama di TKP darah berceceran kemana - mana. Sementara jejak kaki yang ada juga merupakan jejak kaki korban. “Namanya orang dibunuhkan biasanya disatu tempat. Lah ini darahnya kemana - mana, ada yang dikamar mandi, ada yang di kamar tidur dan di ruang tamu. Dan setelah kami lihat DNA-nya semua identik sama dengan DNA korban.” jelasnya.

Kedua, kemudian dari hasil otopsi memang ada kekurangan oksigen. Nah, ini ada kejanggalan di TKP dan hasil otopsi, sambungnya. Sementara ini memang lemah di saksi yang tidak mendukung keterangan kejadian tersebut. Keterangan dari pacar -pacar korban yang sudah diperiksa dan tidak ada kecurigaan yang mengarah kesana.

Kasus yang lebih setahun ini seakan mengendap, lantaran kejelasan penyebab kematian korban pun masih buram. Saat itu korban ditemukan dengan kondisi telentang diatas kasur dan telanjang bulat. Dari hasil otopsinya korban dinyatakan meninggal karena penganiayaan, yaitu karena cekikan, akibatnya korban kesulitan bernapas.

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia