Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

AWAS! Penyembuh Asli dan Dukun Gadungan, Ini Cara Membedakannya

Senin, 22 Oct 2018 09:15 | editor : I Putu Suyatra

AWAS! Penyembuh Asli dan Dukun  Gadungan, Ini Cara Membedakannya

Tambusai Wan (kiri) (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Dewasa ini pengobatan alternatif dan pengobatan medis berjalan beriringan. Dorongan keinginan untuk sembuh, membuat sebagian masyarakat rela mencoba berbagai alternatif penyembuhan, mulai dari pengobatan medis yang Hi-Tech hingga pengobatan tradisional.

Lantaran banyaknya masyarakat yang ingin sembuh dengan cara instan, maka ladang bisnis di bidang pengobatan tradisional ini pun mulai menjamur. Masalahnya, tak sedikit diantara mereka mengaku sebagai ahli pengobatan, padahal hanya sekadar ikut – ikutan dan akhirnya meresahkan masyarakat. Lalu, bagaimana cara membedakan seorang ahli usada sungguhan dengan mereka yang abal – abal?

Pengobatan alternatif atau usada merupakan pengobatan tradisional, yang biasanya bersumber dari lontar, catatan turun teurun yang digunakan sebagai sumber konsep untuk memecahkan masalah di bidang kesehatan. Setiap praktisi atau penyembuh memiliki metode dan cara pengobatannya tersendiri. Mulai dari menggunakan peralatan khusus, doa atau mantra khusus hingga ramuan herbal sebagai prasarana penyembuhan. Namun, beberapa oknum justru mengambil kesempatan berpura – pura menjadi seorang penyembuh untuk meraup keuntungan sebanyak – banyaknya.

“Kalau bicara praktisi gadungan pastinya banyak. Terkadang kami yang memang seorang praktisi sempat merasakan imbasnya,” terang praktisi sekaligus tabib Totok Toxin, Tambusai Wan kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin di Denpasar.

Menurutnya, masyarakat harus pintar menentukan mana praktisi sungguhan dan mana praktisi yang sekadar ikut – ikutan. Praktisi sungguhan dengan penipu berkedok, lanjutnya,  jelas beda.  "Kalau praktisi yang benar – benar memiliki keahlian penyembuh, ia mengobati dengan energi. Apa pun metodenya pasti tetap menggunakan energi sebagai penyembuh, selebihnya hanya prasarana pendukung. Sedangkan yang abal – abal, mereka biasanya menggunakan banyak peralatan penunjang agar pasiennya yakin kalau mereka memiliki kemampuan penyembuh,” jelasnya.

Tak hanya menggunakan banyak peralatan pendukung, lanjutnya,mereka yang abal – abal biasanya mematok harga servis yang juga tinggi. “Dari segi harga mereka mematok sangat tinggi, dengan iming – iming sembuh cepat, makanya banyak yang tertarik,” ujarnya. Selain harga yang mahal dan marketing yang gila – gilaan, praktisi abal – abal biasanya punya gerak – gerik yang mencurigakan. 

“Semua itu yang harus diwaspadai. Banyak masyarakat yang terjebak dengan iming – iming cepat sembuh dan begini dan begitu. Tapi karena keinginan tersebut akhirnya mereka lengah dan terjebak oleh dukun abal – abal. Makanya, jangan heran belakangan banyak berita tentang dukun cabul,” ungkapnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat untuk selalu berhati – hati dan jangan lengah. “Kita sebagai konsumen harus jeli, mana yang praktisi sungguhan dan mana yang abal – abal. Coba perhatikan perilaku mereka, kalau mulai aneh – aneh ya seharusnya kita bisa menentang atau setidaknya berani bertanya. Memang setiap praktisi pasti punya metode tersendiri. Tapi, kalau sudah menjurus ke prilaku asusila kita harus berani melawan,” ungkapnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia